Membangun Kembali Spirit Pancasila

MediaDesa.id – Kita fahami bersama, bahwa arus perpolitikan di Indonesia kian hari memanas seiring pesta demokrasi di negeri ini yang semakin dekat. Bak api dalam sekam, gejolak yang di akibatkan dari manuver para elit politik terhadap lawannya, sudah barang tentu sewaktu-waktu akan membakar seluruh bagian lain tanpa terkecuali bila saja para aktor dibalik layar tersebut tidak mampu lagi mengendalikan situasinya. Tentu ini menjadi krusial bagi segenap bangsa akan kondisi terburuknya, suatu keadaan dimana gejolak tersebut akan mencapai sebuah titik klimaks yang pada gilirannya nanti terciptanya sebuah situasi chaos di tengah masyarakat. Perbedaan yang telah menyekat manjadikan dualisme yang cukup kontras, tentu akan menyebabkan benturan yang cukup keras terhadap dua sudut pandang anak bangsa yang telah mengkotak-kotak itu.

Kita tidak bisa memungkiri, isu sara yang mencuat kepermukaan, dengan setting in-toleransi yang semakin parah, akan menciptakan atmosfir demokrasi kian tak tentu arah. Alih-alih hak berpendapat di muka umum, nyatanya menjadi amunisi untuk saling serang dan saling menjatuhkan antara kedua kubu yang tengah bersebrangan itu.

Penggorengan isu dengan menghalalkan segala macam cara, turut menjadi kemasan produk beberapa elit politik untuk membela dan bertahan demi integritas serta eksistensi politiknya. Barang tentu ini bukanlah hal yang lazim, mengingat corak Indonesia yang selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat, nyatanya terbiaskan oleh sentimen kebangsaan yang sejatinya telah menjadi kewaspadaan seluruh elemen bangsa untuk bisa saling menahan diri dalam menghindari saling melempar isu berupa SARA sebagai saran politik praktisnya. Maka sudah sepatutnya, bila sebuah perbedaan menjadi unsur indikator perpecahan di tengah bangsa kita, maka kita dituntut untuk kembali pada haluan negara itu sendiri. Membuka kembali historis di masa lalu, dimana pertentangan sudah menjadi biasa lantaran akan kembali terekonsiliasi oleh cita-cita bangsa yang lebih besar.

Pun walau dilain pihak, masih ada segolongan masyarakat yang ingin merongrong NKRI dan mempertanyakan kembali eksistensi Pancasila sebagai jati diri sebuah bangsa. Di tengah bangsa yang tengah kehilangan arah, seharusnya pancasila yang konon kesaktiannya mampu mensinergikan multikultural di Indonesia, kembali merangsang peranananya untuk mengukuhkah keberadaanya sebagai rujukan dalam memecahkan problem kebangsaan di negeri ini. Terlepas spekulasi akan tanggal kelahirannya yang masih diperdebatkan oleh sekelompok akademisi dan ahli sejarah, tentu akan lebih menarik bila kita menaruh persoalan berdasarkan prioritas yang dibutuhkan di masa kini. Mengingat hari lahirnya pancasila bukan hanya seremonial tahunan belaka yang sebatas diperingati saja, melainkan menjadi momen akan penyegaran bangsa Indonesia untuk tetap mengilhami ruh-ruh dan spirit dari pancasila itu sendiri. Sebagai haluan negara yang sudah menjadi konsensus bersama, tentu kita di tuntut sedikit merenungkan atas dasar negara yang tentu telah menjadi pandangan hidup dan alat pemersatu bangsa. Nilai-nilai luhur yang termaktub pada 5 (lima) sila tersebut, merupakan idiologi yang akan mengantarkan bangsa kepada cita-cita sebelumnya bila hal tersebut dapat teraplikasikan pada realitasnya, tentu dengan secercah harapan hal tersebut akan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa di mata dunia.
Maka sudah sejatinya, nilai-nilai luhur yang tertanam menjadikan kita untuk meletakkan segala kepentingan bersama di atas segalanya. Sebagai negara yang berdaulat, dasar negara patut dikemas dalam segala aspek kognitif dan totalitas hidup. Karena Pancasila begitu besar akan pengaruhnya terhadap keberlangsungan sebuah bangsa, hal demikian dapat kita saksikan lantaran perjalanan sejarah beserta kompleksitas kelahirannya menjadi pengikat keragaman di negeri ini. Untuk itu dari fakta objektif yang berdasarkan nilai-nilai luhur sejarah di masa lampau, perlu di buka kembali agar memberikan sebuah pengajaran atau pengingat didalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air.
Ruh Pancasila yang tertanam pada benih kebhinekaan, sudah sejatinya akan memberikan nilai-nilai demokrasi secara utuh bila pendalaman sebuah hakikat dari dasar negara itu tidak terkontaminasi berdasarkan kepentingan kelompok saja, sebab bila Pancasila ditafsirkan oleh hanya segelingir orang lantaran kebutuhan syahwat politiknya, tentu nilai dan hakikat pada Pancasila itu sendiri akan mulai terkaburkan dan terlupakan sebagai yang pernah ada. Maka dari itu diperlukan segala aspek yang sifatnya membangun, serta peranannya harus terus disinergikan pada nilai-nilai luhur pancasila itu sendiri, baik pembangunan secara fisik atau SDA beserta reparasinya. (Usep Ruyani)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close