Opini

Membendung Gerakan Takfiri

Louis Makluf penyusun kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam memberikan pengertian Kafir sebagai “menutupi dan menghalangi”. Sedangkan al-Jirjani dalam al-Ta’rifat memberikan pengertian kata kafir dengan kufranun dengan istilah sebagai orang yang menutupi nikmat Allah. Sederhananya, jika merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan oleh Luois Makluf dan dan al-Jirjani, maka pengertian kafir ini tidak hanya dalam konteks keyakinan semata. Jika kata tersebut dipadankan dengan nikmat misalnya, maka pengertiannya adalah lawan dari orang-orang yang bersyukur yakni orang-orang yang kufur.

Di Indonesia sendiri kata kafir kerap kali disalahpahami pengertianya. Kata kafir kerap distigmakan pada kelompok non-muslim bahkan sesama umat islam yang berbeda kepercayaan dan amalan sekalipun. Fenomena mudah mengkafirkan ini menjadi problem yang ditakutkan memunculkan mahdarat baik hubungan beragama maupun berbangsa.

Alhamdulillah dalam Musyawarah Nasional Alim ulama melalui Bahtsul Masail memutuskan larangan penyebutan kafir pada warga negara non-muslim. Hal ini menurut kiai Abdul Muqsith Ghozali tidak menghapuskan istilah kafir tetapi penyebutan kafir bagi non muslim di Indonesia adalah hal kurang bijaksana, sebab mereka ikut serta dalam mendesain serta memperjuangkan negara Indonesia.

Hal ini diperkuat oleh hujjah kiai Ma’ruf Khozin ketua Aswaja senter jawa Timur bahwa ; Terminologi dalam Kitab Fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan:

1.Kafir Harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan boleh diperangi
2. Kafir Dzimmi, orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Tidak boleh diperangi.
3. Kafir Mu’ahad, orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Tidak boleh diperangi.
4. Kafir Musta’min, orang yang meminta perlindungan. Tidak boleh diperangi.

Baca Juga  AWAS BAHAYA LATEN HTI!

Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa Non Muslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut. Sehingga disebut warga negara dalam nation state sebab Indonesia bukanlah Darul Islam (Negara Islam) melainkan Darus salam (Negara Damai).

Upaya pelarangan sebutan kafir bagi non-muslim, sudah sesuai dengan prinsip tasamuh/Toleransi NU terhadap non muslim serta demi menjaga harmoni ukhuwah wathoniyah/persaudaraan sebangsa.

NU sebagai organisasi yang berhaluan aqidah Asy’ari-Maturidi dalam sejarahnya selalu mengupayakan jalan tengah dan toleransi.

Perlu dicatat bahwa sejarah mencatat Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja; Asy’ariyah-Maturidiyah) sebagai golongan yang paling toleran terhadap semua golongan di luar mereka. Hanya Aswaja sajalah yang dengan tegas menyatakan bahwa mayoritas golongan di luar mereka seperti Syi’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah, Mujassimah, Musyabbihah, dan lain sebagainya. Bagi Asy’ari-Maturidi mereka tidaklah kafir meskipun mempunyai keyakinan yang berbeda dengan Aswaja. Pendapat yang populer di kalangan Aswaja tentang batas kafir tidaknya aliran sesat adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitamy berikut:

والمختار الذي عليه جمهور المتكلمين والفقهاء: أنه لا يكفر أحدٌ من المخالفين في غير الضروري. والجهل به تعالى من بعض الوجوه غير مكفر، وليس أحدٌ من أهل القبلة يجهله تعالى إلا كذلك؛ فإنهم على اختلاف مذاهبهم اعترفوا بأنه تعالى قديمٌ أزليٌّ، عالمٌ قادر، موجدٌ لهذا العالَم

“Pendapat yang dipilih, yang diikuti oleh mayoritas ulama ahli kalam dan ahli fiqih, adalah bahwasanya tak seorang pun dari golongan luar dianggap kafir dalam hal selain yang sudah diketahui bersama (dlarûriy). Ketidaktahuan terhadap Allah Ta’ala dari satu sisi tidaklah membuat jadi kafir. Tak ada seorang pun dari ahli kiblat (orang-orang yang shalat) yang tidak mengetahui Allah kecuali dalam hal itu saja. Mereka semua, dalam berbagai mazhabnya, mengakui bahwa Allah Ta’ala Qadîm tanpa awal mula, Maha-Mengetahui, Maha-Berkuasa, Yang Mencipta alam dunia.” (Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fath al-Mubîn, halaman 164).

Baca Juga  Desa Dan Pelayanan Publik

Dari sini kita dapat menyimpulkan penyebutan kafir bagi non-muslim itu tidak benar sebab mereka memiliki kesetaraan dengan umat islam sebagai sesama warga negara Indonesia. Sedangkan meng-kagirkan sesama muslim yang berbeda aqidah dan amaliyah dengan kita juga tidak dibenarkan secara agama. Sebagaimana hadits Nabi :

‎وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim).

Semoga ijtihad para ulama’ melalui munas dapat membendung kelompok takfiri/kelompok yang gemar mengkafirkan. Tak heran jika larangan penyebutan kafir ini menjadi polemik dan ramai, sebab di luar sana ada kelompok yang merasa terusik dan tersinggung atas kebiasaanya menyesatkan, membid’ahkan bahkan mengkafirkan amaliyah NU. Ya jabar, ya Qohar..
Wa Allahu Ta’ala A’lam.

Tabik, Abdur Rouf Hanif
Lakpesdam PCNU Tanggamus 🙏

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close