Opini

Mempertanyakan Islam Modernis

Oleh Amin Mudzakkir

Kasus pembakaran bendera HTI di Garut membuktikan bahwa dikotomi Islam modernis vs Islam tradisionalis masih relevan. Tidak hanya relevan, tetapi juga dinding pemisah di antara keduanya semakin menguat. Jadi, pertanyaan gampangnya, masihkah kita bertahan dengan pandangan bahwa Muhammadiyah dan NU sama-sama mewakili suara Islam Indonesia yang moderat?

Jika menengok sejarah, sikap Islam modernis sesungguhnya tidak mengejutkan. Ketika terjadi pemberontakan DI/TII, pendapat kelompok ini juga ambigu. M. Natsir, tokoh besar Masyumi, menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh gerakan pimpinan Kartosuwiryo itu “tujuannya benar, tetapi caranya salah”.

Padahal jelas sekali baik DI/TII maupun HTI adalah organisasi yang menantang hukum pemerintahan yang sah. Fikih yang diikuti oleh NU menyebutnya sebagai bughat. Ini artinya, mereka boleh diperangi.

Bahkan lebih dari sekadar perkara fikih, kedua organisasi itu jelas sekali telah memanipulasi simbol-simbol suci agama untuk kepentingan politik kekuasaan belaka. Akibatnya terjadi perpecahan di tengah umat dan bangsa. Kemudharatan yang dihasilkannya sangat tidak terkira.

Tetapi Islam modernis bergeming dengan sikap ambigunya. Tampaknya memang ada satu kesamaan imajinasi politik di antara mereka. Obsesi untuk memurnikan agama dan membentuk suatu negara atau masyarakat yang bersyariah memenuhi visi hidup bersama mereka.

Oleh karena itu dapat dikatakan NU sendirian menghadapi serangan Islam radikal. Rasanya jika tidak ada NU, bentuk NKRI yang berusaha berdiri di tengah semua golongan, termasuk kaum minoritas, sulit dipertahankan. Ambiguitas Islam modernis terhadap masalah ini telah tergelar nyata sepanjang sejarah.

Baca Juga  Pemilu Tanggung Jawab Siapa?
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close