Pendidikan

Mencegah Stunting Harus Libatkan Laki-Laki

TASIKMALAYA – Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Inovasi yang digagas oleh Kepala Desa Cigunung, Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya yang sudah menggelontorkan dana desa untuk pembangunan sarana kesehatan (posyandu) dan pendidikan anak usia dini patut ditiru.

” Ini merupakan bentuk layanan terpadu bagi pencegahan stunting” kata Engkos Kostama, Kades Cigunung.

Pada tanggal 29 Februari 2020, posyandu di desanya menyelenggarakan pembinaan kader PKK serta pembinaan Guru Paud dan RA, mengundang narasumber dari Edusee, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan untuk memberikan materi.

Nia Ramdaniati, salah satu founder Edusee mengatakan bahwa upaya pencegahan stunting harus libatkan laki-laki.

” kemarin kami mengisi materi di Desa Cigunung, Kabupaten Tasikmalaya, peserta langsung tertawa saat kami mengatakan mencegah stunting itu harus melibatkan laki-laki” kata Nia.

Ia menjelaskan secara rinci keterlibatan peran laki-laki dalam upaya pencegahannya.

” Yang pertama adalah anak-anak. Anak-anak harus mendapatkan gizi yang seimbang, kalau para ayahnya tidak tahu dan memperhatikannya pastinya ibunya kerepotan sendiri” jelas Nia.

Sesekali ayah boleh menyuapi anak-anaknya agar anak-anak tambah nafsu makan. Anak-anak merasakan kedekatan emosional dari ayah karena saat anak senang nafsu makannya tidak terganggu.

Selanjutnya adalah Remaja Putri. Remaja Putri harus dekat dengan ayahnya dan remaja putra harus dekat dengan ibunya. Berikan reward dengan kata-kata positif pada anak-anak.

” Gadisku cantik, Bujangku ganteng. Untuk apa? agar suatu saat bertemu lawan jenis dan lawan jenisnya bilang hei cantik, hei ganteng tidak langsung terlena karena ayah dan ibunya sudah lebih dulu bilang begitu” tutur Nia.

Baca Juga :  Akhirnya Gadis Bercadar Penjual Cilok itu Dapat Beasiswa untuk Kuliah

Selain itu, ajarkan pada mereka tentang kesehatan reproduksi yaitu kesehatan fisik dan mentalnya, terkait memilih pasangan itu nanti kalau sudah akan menikah dan jika suka pada lawan jenis itu normal tapi harus belajar pengendalian diri. karena kalau terjadi pernikahan anak berpotensi keturunannya stunting jika tidak bisa merawat anak.

Nah yang ketiga adalah Calon Pengantin. Orang tua harus mengajarkan tujuan pernikahan sesungguhnya.

” Mencintai itu bukan soal kepuasan diri tapi bagaimana dirinya dan pasangannya bisa saling melengkapi” kata Nia.

Selanjutnya lagi Pasangan. Para suami harus senantiasa menyayangi istri, karena istri memiliki hormon cinta yang jika disemai benih-benih kasih sayang dari pasangannya maka alat reproduksinya berfungsi dengan baik. saat menyusui asinya melimpah ruah, saat melahirkan kontraksinya sempurna, saat hamil pun tidak stres, dan saat mebersamai anak-anak istri bahagia sehingga anaknya pun sehat.

” Para suami kalau istrinya sedang hamil dan menyusui harus mengalah ya kalau ada makanan bergizi. Kami pernah melihat kalau ada makanan dari hajatan istrinya terus yang mengalah hanya mendapatkan tempe dan tahunya saja” ucapnya dengan senyum.

Untuk yang terakhir adalah Lingkungan. Para ayah harus berkolaborasi dengan teman, tetangga dan lingkungannya. tularkan energi positif agar senantiasa berbuat baik pada pasangan dan anak-anak dengan memperhatikan sanitasi dan air bersih, pola makan dan pola asuh.

Penulis : Mesa

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: