Sosok

Mengenal Sosok Agustiana (2) Masantren Di Huda, Terdampar Jakarta

Dimasa SMA pula ada kontraksi antara idealisme dengan pergaulan. Berteman dengan Yuyus, putra Imam Masjid Agung, Kiai Dudung, Agustiana sudah mulai baca buku filsafat agama.

Sampai akhirnya ketika kelas dua ada libur panjang tiga bulanan, ia “masantren” di Miftahul Huda Manonjaya yang diajari langsung oleh Uwa Khoer Affandi.

“Mesantren itu keinginan sendiri ketika hendak main ke Cipanas Galunggung mendengar pembicaraan warga soal dunia pesantren. Saya kala itu naik angkutan bak terbuka bersama mereka sampai akhirnya saya turun tidak jadi ke Galunggung karena tertarik ingin mesantren. Saya pun turun di Tawang Banteng dan balik arah menuju ke Manonjaya,” ujarnya.

Baru seminggu saja, kata Agus, mulai terkontruksi keimanannya karena Uwa Khoer Affandi mengajarkan tentang tauhid. Yang dalam perjalanan mengarungi dunia advokasi, selalu pasrah bahwa hidup mati ada ditangan yang Maha Kuasa.

“Maka saya tak pernah takut, karena apapun sudah ada ketentuan Allah Subhanahuwata’ala,” tegasnya.

Tasik sudah begitu menempa berbagai pergulatan pemikiran. Dengan maksud ingin mengembangkan diri, Agus pergi ke Sumatera untuk bekerja sambil kuliah disana.

“Padahal can apal dimana eta Sumatera. Pokokna ngasingkan diri sanajan weuh dulur didituna ge. Apal teh naek beus we ti Grogol,” katanya.

Berangkatlah ia, tapi ketika di Tanggerang terjadi kemacetan yang begitu lama. Kemudian singgah ke Masjid Agung untuk solat dan istirahat. Nasib berkata lain, dompet kecopetan yang akhirnya memilih diam di Masjid Agung karena tak punya uang. Agus tinggal disana selama tiga bulan yang untuk biaya hidup ikut bersih-bersih masjid serta jualan koran.

Di Masjid Agung Tanggerang itu banyak anak tidak mampu yang ingin sekolah tapi pulangnya ke masjid. Tidur diemperan masjid sebagai tempat pulang.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Agustiana (1) Lahir Sudah Dititipi DBR

Karena niat awal kuliah, masuklah ke Universitas Kosgoro di Jakarta. Tapi hanya berlangsung dua tahun karena sering demonstrasi. Kemudian kuliah lagi di Universitas Mpu Panca dan Universitas Mahendrata dengan jurusan Ekonomi.

“Lagi-lagi tak satupun yang tamat karena saya lebih menyibukan diri dalam advokasi rakyat yang kena penggusuran pemerintah,” ujarnya.

Dari kesibukan mengadvokasi penggusuran itulah, Agus sering ke YLBHI yang akhirnya berhubungan dengan aktifis hukum, Adnan Buyung Nasution. Dari hubungan tersebut, Agus semakin menerjunkan diri, total didunia advokasi rakyat.

Meski di Jakarta, Agustiana kerap berkunjung ke Ayahnya, di Garut yang sudah menjadi anggota DPRD Garut. Dirumah ayahnya, ia sering menjumpai masyarakat yang meminta bantuan sampai Agus pun ngontrak rumah di Garut untuk melakukan advokasi masyarakat.

“Ya waktu itu ayah saya tidak tahu bahwa saya sering ke garut. Saya ngontrak rumah saja agar leluasa mengadvokasi isu-isu kerakyatan di Garut,” tuturnya. (Mesa)

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: