Budaya

Menelisik Kabuyutan Ciburuy Garut (1)

Bukti Primer Keluhuran Peradaban Sunda

Oleh : Jani Noor

Beruntung bagi kita masyarakat Jawa Barat adanya dua warga Belanda, Karel Frederick Holle dan Cornelis Marinus Pleyte yang menaruh perhatian besar pada pada kebudayaan Sunda.

Melalui dua orang kebangsaan Belanda itulah sejumlah naskah sunda kuno di daun lontar dan nipah dapat diselamatkan. Salah satunya, naskah kuno Kabuyutan Ciburuy di Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut yang ditemukan KF Holle tahun 1864 dan dilaporkan ke Pemerintah Hindia Belanda tahun 1867 bahwa di Kaki Gunung Cikuray Kampung Ciburuy Kabupaten Garut terdapat sejumlah naskah kuno berhurup sunda kuno.

Naskah tersebut oleh para peneliti Sunda, Edi S Ekadjati dan Saleh Danasasmita dibagi tiga bagian. Sang Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian dan Amanat Galunggung.

Melalui perjalanan yang begitu melelahkan dengan tanjakan begitu panjang dan sempitnya jalan, penulis tiba setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dari pusat Kota Garut.

Tiba di lokasi, pengunjung yang membawa roda dua atau empat disediakan lahan parkir khusus. Lalu berjalan kaki menurun sekira 20 meteran. Sebuah kampung dengan 900 Kepala Keluarga berdampingan, menyeret letak Kabuyutan Ciburuy yang mulai ramai oleh aktifitas manusia.

Juru rawat Kabuyutan Ciburuy, Ujang Suryana (33), langsung menyambut. Ia mengajak siapapun tamu yang kesana untuk masuk ke suatu rumah yang disebut Rumah Adat Patamon.

“Tos janten kawajiban ka saha wae nu kadieu kedah diangkir ka ieu bumi,” kata Ujang.

Rumah bilik bercorak sunda buhuh itu begitu asri. Disampingnya terdapat, leuit sebagai tempat menyimpan hasil berkebun, bertani dan berladang, yang didepannya juga terdapat sebuah saung yang dikhususkan sebagai tempat mengolah hasil tanaman.

Baca Juga  Ingin Mengenal Barang Pusaka Galuh? Datang saja ke Galuh Ethnic Carnival 2019

“Ini saung lisung. Kapungkur mah kangge nutu pare,” ujarnya.

Ujang pun menceritakan bahwa dia juru rawat ke-149 dari ayahnya Engkon (alm). Ia diamanati merawat segala peninggalan sejak tahun 1994 melalui upacara adat khusus tata cara pemeliharaan.

Dan mengenai jenis peninggalan, tutur Ujang, bukan hanya pekakas jaman dulu (kujang, golok, tumbak, pisau dan batu pangsujudan) serta naskah kuno, tetapi ada peninggalan alam berupa tanah seluas 1,5 hektar dengan aneka pepohonan didalamnya. Bambu dan kayu menjadi warisan leluhur juga karena tidak sembarangan orang memotong segala jenis pepohonan disana.

“Di ala teh pami kangge warga nu teu mampu. Margi kampung ieu tos rame aya dua ka-erwe-an (RW),” ucapnya.

Dilokasi yang disebut tanah kabuyutan, sudah dipagari bambu. Tidak sembarangan orang bisa masuk karena memiliki jadwal tertentu. Setiap hari selasa dan jum’at tidak diperkenankan. Termasuk tidak adanya makam sehingga berkunjung ke Ciburuy bukan untuk berziarah.

Meski demikian, hamparan batu yang dikenal sebagai tempat pangsujudan itu kerap &dialap berkah& karena di batu itulah seorang penyebar agama Islam, Eyang Haji Mustofa bermunajat disini.

“Termasuk Sri Baduga Siliwangi sareng putrana Kian Santang,” kata Ujang.

Sayangnya, segala jenis peninggalan Kabuyutan itu tidak bisa dilihat secara langsung. Selain karena bukan hari yang diperbolehkan karena penulis berkunjung hari Minggu, juga ada upacara khusus kalau mengeluarkan setiap barang yang dianggap pusakanya orang Sunda.

“Di bumi ieu (patamon) mah mung aya keris, bedog, kujang sareng peso. Saurna ieu peninggalan teh jang buktos yen sering aya kumpulan didieu. Perkawis kitab tea (naskah kuno) kapungkur mah teu dina kotak, tapi dina gentong. Sareng tos disimpen di Musieum Sri Baduga di Bandung, oge di Musieum Jakarta,” ujarnya.

Menurut Ujang, Ciburuy dulu dan sekarang memang berbeda. Rumah saung sudah direkontruksi sejak tahun 1982 saat Menteri Kebudayaannya, Hartati Sudibyo. Dan terus mendapat perhatian khusus dari Balai Cagar Budaya, termasuk masih tersimpannya himbauan larangan merusak atau mengambil segala yang ada dari Kapolwil Priangan kala itu, Anton Charlian. (Bersambung)

Baca Juga  Sekilas Mengenal "Seren Taun" Masyarakat Adat Desa Cigugur
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close