Budaya

Menelisik Kabuyutan Ciburuy Garut (Tamat)

Naskah Kuno Itu Tentang Pedoman Moral
Oleh : Jani Noor

Menarik memang ketika sudah mengetahui isi naskah kuno Kabuyutan Ciburuy ini. Masing-masing berbeda masa, tahun penulisan, juga siapa yang menulis dan jumlah halaman.

Mengutip transkripsi dan terjemahan yang dikeluarkan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Dirjen Kebudayaan Departemen Pendididikan dan Kebudyaan Bandung Tahun 1987, naskah kuno tersebut antara lain Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian dan Amanat Galunggung pada intinya memberikan gambaran tentang pedoman moral umum untuk kehidupan bermasyarakat pada masa itu.

Termasuk berbagai ilmu yang harus dikuasai sebagai bekal kehidupan praktis sehari-hari yang berpijak pada kehidupan dunia dalam negara.

Misal naskah dengan Kropak nomor 408 yang disebut Sewaka Darma (sekarang disimpan di Musieum Nasional Jakarta) berjumlah 74 halaman. Pada label tertulis kata “sewaka” yang setelah diteliti nama ajaran yang tersurat dengan sebutan “Sewaka Darma”. Sewaka berarti pengabdian atau kebaktian, Darma artinya kewajiban, aturan atau kebenaran.

Penulisnya seorang perempuan petapa di Gunung Kumbang. Dan pengerjaan penulisan naskah ini dilakukan disebuah kota yang diprediksi wilayah Priangan Timur.

Bentuk huruf mirip dengan naskah Carita Ratu Pakuan yang kemungkinan ditulis pada abad 18 berdasar perbandingan dengan naskah Carita Waruga Guru yang ditulis dikertas daluang.

Isi naskah sebagai bukti pernah berkembangnya aliran Tantrayana di Jawa Barat silam yang menampilkan campuran aliran Siwa Sidhanta atau Siwaisme-Budhisme.

Kebahagiaan sejati akan tiba, kata Naskah tersebut, kalau Suka tanpa duka, kenyang tanpa lapar, hidup tanpa mati, bahagia tanpa derita, baik tanpa buruk, pasti tanpa kebetulan dan siang tanpa malam. Hening tanpa suara, hampa tanpa wujud, lembut tanpa jasad dan sarwa tunggal wisesa.

Baca Juga  Ini Dia Cara Seniman Tasik Dinginkan Suhu Politik

Kemudian Kropak 603 yang disebut Sanghyang Siksakandang Karesian yang penggarapannya tidak berdasar naskah asli melainkan berdasar alih aksara. Naskah ini salah satu tonggak untuk menyelami situasi budaya masa silam sekira abad 16.

Sebagian besar isi naskah ditujukan kepada kelompok yang bukan resi, terutama dalam pelaksanaan tugas rakyat bagi kepentingan raja. Siksakandang Karesian dapat diartikan sebagai bagian aturan atau ajaran tentang hidup arif berdasarkan darma (aturan, kebenaran).

Naskah ini pun memiliki identitas penulisnya yaitu ditulis pada masa Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi penguasa Padjadjaran tahun 1482-1521 Masehi.

Lalu terakhir naskah kropak 632 berjumlah 13 halaman yang telah disimpan di Musium Nasional Jakarta. Naskah ini dikumpulkan oleh Dr. J.L.A. Brandes seorang cendikiawan Belanda. Tetapi untuk penelitian oleh KH Holle dan C.M Pleyte dan Raden Ngabehi Poerbatjaraka.

Pada mulanya C.M. Pleyte mengira naskah ini sebuah kronik atau kisah sejarah. Tapi ternyata bukan karena ia menyangka naskah yang dinamai Amanat Galunggung itu sebagai naskah silsilah riwayat.

Ia tadinya berharap naskah tersebut naskah riwayat raja-raja sunda dan padjadjaran. Namun kenyataannya berisi ajaran hidup yang diwujudkan dalam bentuk nasihat-nasihat dari Rakeyan Darma Siksa kepada putranya Sang Lumahung Taman beserti keturunannya yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta.

Rakeyan Darma Siksa adalah Raja Sunda yang memerintah tahun 1175-1297 Masehi yang berkedudukan di Saung Galah tapi pindah ke Pakuan.

Karena Saung Galah berlokasi di wilayah Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya, maka peneliti sundanologi, Saleh Danasasmita menamakan naskah tersebut dengan sebutan Amanat Galunggung sesuai dengan apa yang tercantum dalam isi naskah.

“Jangan Bentrok karena berselisih maksud. Jangan saling berkeras, hendaknya rukun dalam tingkah laku dan tujuan. Ikuti jangan keras pada keinginan diri sendiri saja. Camkanlah ujar Patikrama (Adat kebiasaan, tradisi) bila kita ingin menang perang, tidak akan kalah oleh musuh yang banyak, musuh dari darat, laut, barat dan timur, atau dari musuh halus dan kasar,” kata salah satu bait Amanat Galunggung tersebut.*

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close