Sastra

Menembus Imajinasi di Tanah Palestina

“Aku anisa, tinggal di alam imajinasi dan aku lahir di dunia fiksi. Seperti apa diriku, itu tergantung bagaimana orang lain membayangkanku”.

Kesederhanaan tulisan ini akan mewakili kisah hidupku yang akan digoreskan oleh seorang penulis yang begitu baik hati, karena iya berkenan mau menyisihkan waktunya untuk Anisa demi mengisahkan sejarah hidupku yang sesaat, namun penuh liku dan duri kehidupan yang tiada tara terperikan saat aku masih menghirup udara kepanaan.
Meski sekedar fiksi namun aku yakin, diluar sana ada yang tengah mengalami atau pernah merasakan. Atau pun detik ini ada yang tengah merangkak tertatih hanya demi sekedar ingin lebih lama hidup bersama orang-orang yang iya cintai seperti apa yang tengah Anisa alami dahulu.
Terimakasih aku ucapkan kembali kepada sang penulis, karenanya sudah mau menghidupkan sosok Anisa lewat imajinasinya. Hanya dengan inilah Anisa bisa merasakan kehidupan lagi, sebuah kehidupan yang pernah Anisa damba-dambakan tentunya. Terimakasih pula kepada Kawan dan sahabat yang sudah mau menerima kehadiran Anisa dengan ikhlas, ini tebukti kawan-kawan mau membaca tulisan yang amat sangat sederhana ini.
Tiada balasan yang dapat Anisa berikan kecuali siraman cinta tanpa kesudahan, serta iringan doa dengan penuh pengibaan berharap Allah-lah yang akan membalas semua ini.
Ada hal yang paling membahagiakan saat aku di hidupkan, meski sejenak namun begitu membekas dalam diriku.
Aku anisa, tinggal di alam imajinasi dan aku lahir di dunia fiksi. Seperti apa diriku, itu tergantung bagaimana orang lain membayangkanku. Tapi yang jelas kehadiranku akan nyata jika ada yang meyakini bahwa aku memang ada.
Aku iri pada kalian, kalian bisa merasakan anugrah yang paling istimewa yang sejak dulu Anisa inginkan. Sedang aku hanya dalam hayalan kalian, bahkan jika kalian bosan, kalian bisa mengganti pikiran kalian dan campakan aku. Aku tak ingin merebut kehidupan kalian meski aku ingin hidup seperti kalian.
Karena bagaimana pun aku juga pernah hidup, yang jelas di tempat yang tersembunyi, di daerah yang mungkin kalian tidak ketahui, bahkan terpikirkan tentang sosok Anisa pun agaknya tak mungkin.
Teringat ketika Anisa dilahirkan, penulis pernah bercerita kepada Anisa tentang aku. Anisa terlahir dari keluarga yang amat sangat sederhana. Ayah pergi saat Anisa baru berumur empat tahun. Di saat usia yang memang betul-betul membutuhkan sosok seorang Ayah, Ayah malah pergi menghadap Tuhan untuk selamanya. Agaknya Tuhan begitu rindu kepada Ayah hingga-Iya memanggilnya secepat itu.
“Tapi kaulah Anisa, yang terlahir tegar mewarisi ketegaran ibumu” . Ujarnya saat Anisa berbicara dengan imajinasi sang penulis.
Bagaimana tidak, kehidupan Anisa begitu pelik dan tak mudah untuk dijalani. Sebuah kehidupan yang belum tentu mampu untuk dijalani orang lain pada umumnya.
Sebagai seorang wanita, iya selalu merindukan kehidupan layaknya sorang perempuan. Terasa sempurna jika dalam hidupnya dilengkapi dengan seseorang yang menjadi belahan jiwa cintanya, serta dikarunia sang buah hati belahan jantung seorang putra. Namun mimpi itu kini sirna, saat selongsong peluru menembus pelipis telingaku.
Membuat telingaku begitu berdenging hebat, mataku kabur dan aku pun tersungkur. Aku setengah sadar pada saat itu.
Meski mataku terpejam, tapi aku masih bisa mendengar teriakan Ibu yang memanggil-manggil namaku dengan penuh duka ,dengan sesekali di iringi tangisan yang mengharu biru.
Suara itu semakin lama semakin pelan, hingga suara itu pun mulai tak terdengar lagi dan hening, tatapan pun mulai terasa gelap.
Tiba-tiba aku pun teringat Ayah, dan aku begitu merindukannya. Sambil merintih aku pun memanggil-manggil namanya. Meski terbatah-batah karena dadaku sudah mulai sesak, dengan nafas tersenggal-senggal sambil memegang telinga kananku yang sudah basah oleh darah yang telah bercampur debu.
Saat aku membuka mata, aku sadar kini sudah ditempat yang berbeda. Suatu tempat yang memang tak asing bagi Anisa. Dengan ruangan yang penuh dengan rintihan dan erangan kesakitan, serta sesakali di iringi jerit tangis yang mengharu biru pecah melepas kepergian dari keluarga yang tengah berduka.
Seperti jeritan ibu pada saat itu, saat ketika Ibu melepas kepergian sang Ayah yang sangat kami cintai, menambah butiran air mata yang jatuh di tanah Palestina yang terjajah, terampas dan terasing di negrinya sendiri.
Sebenarnya aku muak menceritakan semua ini, cerita yang sudah mulai lapuk dan telah mengabad yang terangkum menjadi buku tebal di rak deretan sejarah kekejaman yang pernah dilakukan umat manusia. Ada pun orang-orang yang katanya mengakui kami sebagi saudara se-iaman, itu hanya serimonial belaka yang hanya menjadi bahan cerita dan obrolan mereka di warung kopi, bercerita rakyat Palestina yang tengah ketakutan dan kesusahan.
Mereka hanya bisa mengecam perbuatan kebiadaban kaum zionis, itu pun setelah kami telah berserakan menjadi mayat di balik puing-puing rumah kami sendiri.
Kami hanya di ingat saat duka kami di ekpos di media masa, saat berita telah basi, kami pun kembali dilupakannya lagi.
Hey … Aku Anisa, aku terlahir di imajinasi dan aku hidup didunia fiksi. Sekejam apa pun yang tesirat dibanakmu tentang nasib yang menimpa kami, itu tak seberapa dengan fakta yang saat ini kami alami.

Baca Juga  Mang Bayan jadi Hansip

Kami yang selalu ketakutan, kami yang slalu kehilangan dan akrab dengan ancaman keselamatan.
Tentu sekejam apa pun kata-kata yang terungkap, itu semua tak sama dengan kenyataan adanya.
Hidup di negri ranjau, negri yang selalu di hujani peluru yang siap merengut masa depan dan siap mengintai jiwa kami, tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Masa kecil kami bukanlah dihabiskan bermain seperti halnya kalian, sedari kecil kami sudah di tanamkan kebencian serta rasa dendam dan amarah untuk membalas kematian keluarga dan orang-orang yang kami cintai. Kami pun sudah akrab dengan berbagai jenis senjata, cara membidik, memasang ranjau dan tak sedikit pula rekan kami terbunuh oleh ranjau buatan sendiri karena kelalaian kami yang hanya seorang bocah ingusan.
Sekali lagi aku tekankan, aku Anisa Aku lahir di dunia fiksi, seperti apa keadanku itu tegantung bagiamna kalian memikirkan sosok aku sebagai Anisa.
“Wahai kalian saudaraku, apa yang kelak akan kau jawab dihadapan Tuhanmu, kala Ia bertanya tentang tangisan kami, peluh dan darah kami. Sedang kau habiskan dengan kesenangan dan kesibukanmu sendiri.”
Salam saudaramu yang merindukan di bilik keputusasaan. (Usep Ruyani)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close