Mengembangkan IPTEK Untuk Mendongkrak Perekonomian Jabar, Mungkinkah?

oleh -

Oleh : Lilis Suryani

Pemprov Jabar sedang giat-giatnya melakukan berbagai inovasi di bidang ekonomi. Hal ini tidak lain bertujuan untuk mendongkrak perekonomian Jawa barat yang sempat mengalami penurunan akibat Pandemi virus Corona. Kali ini Pemprov Jabar menitik beratkan pada pengembangan IPTEK, melalui otomatisasi industri dan inovasi digital.

Dikutip dari laman media tribunNews.com (17/10/2020), bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) kini fokus mengembangkan otomatisasi industri dan inovasi digital sebagai potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak ekonomi provinsi itu.

Berkaitan dengan otomatisasi industri, pengembangan riset dan teknologi, akan dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi yang ada di Jawa barat. Hal ini diharapkan akan menjadi modal terwujudnya kolaborasi antara akademisi dengan dunia usaha.

Sementara untuk inovasi digital, Pemprov Jabar berencana membangun ekosistem pembangunan berbasis digital yang akan diwujudkan melalui program Desa Digital. Hal ini diharapkan dengan berbasis digital dapat membangun ekosistem pembangunan yang kompetitif.

Kebijakan ini dipoles sedemikian rupa agar nampak solutif dan meyakinkan. Padahal kebijakan ini merupakan kebijakan kapitalistik yang melekat pada rezim demokrasi. Alih-alih mendongkrak perekonomian, malah semakin menancapkan Neo-liberalisme.

Pengembangan IPTEK selalu erat kaitannya dengan kerjasama dengan negara lain yang lebih maju dibidang ini, sebagaimana yang kita ketahui bahwa di dalam negeri apalagi Jabar belum memadai untuk mengembangkan IPTEK secara mandiri. Karena keterbatasan SDM dan SDA yang berkualitas, sementara dalam hal modal pun Jabar masih keteteran. Sudah dapat dipastikan akan juga menggaet investor asing untuk mendanai program ini.

Apalagi berbicara digitalisasi yang merupakan hal baru bagi warga Jabar. Program desa digital ini tidak akan serta merta diterima warga yang awam terhadap hal tersebut, perlu adanya edukasi dan sosialisasi yang masif di tengah masyarakat. Maka sudah dapat diprediksi bahwa warga yang diharapkan dapat bisa berkompetisi di dalam ekosistem digital tidak akan mampu bersaing dengan para korporasi yang sudah jauh memahami digitalisasi, apalagi di dukung dengan peralatan yang lebih modern dan canggih.

Baca Juga :  Aset Desa Sundakerta Terancam Hilang

Berdasarkan semua penjelasan tadi, maka sulit dipungkiri bahwa program ini sejatinya bukan untuk warga Jabar melainkan demi para kapitalis yang akan semakin mengokohkan cengkraman nya di wilayah Jabar. Inilah tabiat asli sistem demokrasi, dengan mengagungkan kebebasan dalam kepemimpinan harta baik milik umum maupun Individu.

SDA Jabar bebas dikeruk dan dieksploitasi oleh para kapitalis. Sedang rakyat, hanya menerima imbas dari kerusakan SDA yang telah di peras habis.
Miris, SDA yang seharusnya digunakan untuk Kesejahteraan rakyat justru dijadikan ajang bancakan para penguasa dan cukong kapitalis. Padahal seharusnya prinsip pemanfaatan SDA harus berpedoman pada pasal 33 UUD 1945, yakni dikuasai oleh negara dan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat

Namun seperti biasa, aturan tinggallah aturan. Lebih penting menghilangkan haus dahaga sang tuan ketimbang mengedepankan kepentingan rakyatnya. Inilah bukti kegagalan rezim dibawah naungan sistem demokrasi.

Maka, mari kita bandingkan dengan sistem Islam yang sudah terbukti mampu bertahan selama 12 abad yang menaungi hampir di dua pertiga bagian dunia. Peradaban Islam telah memberikan tinta emas dalam perjalanan kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Kemajuan ilmu pengetahuan hingga kesejahteraan masyarakat turut menjadi catatan gemilang ketika peradaban Islam tegak di muka bumi ini.

Peradaban gemilang tersebut ada pada saat Islam dijadikan pedoman dalam segala lini kehidupan rakyat di dalam institusi Khilafah Islam.
Pada masa Khilafahlah banyak lahir para ulama, cendekiawan dan para ilmuwan. Ibn Sina (terkenal di Barat sebagai Aveciena), misalnya, adalah seorang pakar kedokteran. Ia meninggalkan sekitar 267 buku karyanya. Al-Qânûn fi al-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.

Lalu ada az-Zarkalli, masih dari Cordova. Ia adalah salah seorang ahli astronomi yang pertama kali mengenalkan astrolobe, yakni istrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena dapat membantu navigasi laut yang kemudian mendorong berkembangnya dunia pelayaran secara pesat.

Baca Juga :  Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Riwayatmu Kini

Ada al-Khawarizmi, ahli matematika sekaligus penemu angka nol dan penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma, yang diambil dari namanya. Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam catatan sejarah.

Dan banyak lagi ilmuwan dan cendikiawan lainnya yang berkontribusi besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa ini. Lahirnya para ilmuwan dan scientis tidak lepas dari peran negara yang memfasilitasi dan mendukung penuh terhadap bidang ini. Semua capaian kemajuan ini digunakan negara untuk menyokong bidang lainnya seperti ekonomi, sosial, politik, hingga pertahanan dan kemanan negara.

Dan akhirnya terbentuklah pilar-pilar yang kokoh untuk berdirinya negara yang kuat dengan peradaban yang tinggi. Jaminan bagi kesejahteraan rakyat pun menjadi sebuah keniscayaan. Ini membuktikan bahwa sistem Islam memiliki konsep yang tinggi dalam membangun negara, serta ditopang oleh manajemen ekonomi yang hebat dan berdaulat. Itulah sistem Islam melalui intitusi Khilafah yang layak dijadikan harapan baru bagi umat Islam di negeri ini maupun di seluruh dunia.

Wallahua’lam

Berikan komentar