Sosok

Mengenal Sosok Agustiana (1) Lahir Sudah Dititipi DBR

Siapa yang tak kenal Agustiana. Pria kelahiran Tasikmalaya 21 Agustus 1965 ini dikenal sebagai sosok pejuang yang konsen pada pembelaan petani. Isu Pembaharuan Desa dan Agraria garapan utama dengan Serikat Petani Pasundan (SPP) yang didirikan.

Mengabdikan diri pada petani sudah tertanam sejak kecil. Lewat tempaan sang Kakek dari Ibunya, Ugan Suganda, Agustiana sudah tahu betul pahit getir hidup desa yang terdidik dengan kehidupan bernuansa agama. Tahajud, puasa serta tidak dikasih makan kalau tidak bekerja, makanan sehari-hari dia.

“Padahal usia saya waktu itu baru lima tahun. Tapi soal keimanan dan kedisiplinan sudah ditanamkan,” kata Agus dikediamannya Jalan Abdinegara Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, Rabu, 29 Agustus 2018.

Masa balita Agus memang lebih banyak di Banjar. Sang kakek yang juga Kiai lulusan Pesantren Cibeunteur Karangtengah Banjar telah membentuk karakteristik dia. Dari persoalan kehidupan desa, sampai pewayangan mempengaruhi pergulatan pemikiran Agustiana. Mulai pengaruh sosok Semar sampai Soekarno dari buku yang dibacanya “Dibawah Bendera Revolusi”.

loading...

“Nama Agustiana juga sudah disiapkan ayah saya. Termasuk dengan buku Dibawah Bendera Revolusi yang dititipkan ke paman saya, bahwa kalau saya lahir beri nama “Agustiana” dan hadiahkan buku ini,” ujarnya.

Ketika memasuki SD pindah ke Tasikmalaya. Tinggal dikontrakan di Jalan Empang dengan Ibunya dan bersekolah di SD Kahuripan Tawang. Namun setiap malam lebih banyak tidur di Guru Ngaji sehingga lebih banyak dimasyarakat dibanding dengan keluarga sendiri. Dari situlah Agus mengenal segala persoalan masyarakat, sekaligus merasakan sekali bagaimana kesusahan masyarakat.

Maka setiap ada hadiah untuk Kakeknya yang di Tasik dari Bupati, Aben Bunyamin, hadiah tersebut diambil kemudian diberikan ke masyarakat.

Baca Juga  Biografi KH. Maimoen Zubair, Ulama yang Meninggal di Tanah Suci

“Istilahnya jadi robinhood. Kalau membedahkan kolam ikan banyak masyarakat yang melihat. Maka bagaimana ikan tersebut dibagikan juga ke tetangga dengan mengalirkan ikan ke lubang air tertentu,” tuturnya sambil tertawa.

Amanat Ayah Agustiana, Suryana yang bekerja sebagai Notariat di Garut ditepati Kursin. Beranjak SMP, buku tersebut diberikan.

“Nah Kursin ini juga sosok yang menginspirasi saya. Beliau lulusan Akmil yang memilih mundur jadi Kuwu demi mengabdi di Desa. Paman saya Kursin ini terkenal di Ciamis dan Banjar karena mampu merubah akses jalan dan kehidupan masyarakat desa menjadi melek pendidikan. Banyak sekali yang kuliah dari desa tersebut,” ucapnya.

Dari buku itulah, Agus mengenal pemikiran Soekarno dan Tjokro Aminoto juga sosok lain yakni Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Nelson Mandela yang mengubah arah hidup Agus menjadi sosok pembela rakyat.

Sampai-sampai ketika bersekolah di SMP 3 Tasikmalaya, sudah ikut demonstrasi Peristiwa Malari, termasuk pernah diperiksa Militer karena mencopot bendera parpol orde baru. Maka sejak itu juga berpikir politik terbentuk dengan sendirinya.

Ketika SMP juga bakat kepemimpinan Agus sudah nampak, karena pintar matematika kerap mengajar les kepada warga miskin yang murid-muridnya diatas usia dia. Juga ketika di SMA Pancasila, Agus terus menyibukkan diri dimasyarakat yang salah satunya dimana ada warga miskin, disanalah Agustiana berada.

“Jadi memang sudah jarang dirumah sehingga nama saya sudah dikenal sejak lama karena dimana ada daerah miskin, saya pasti ada disana,” kata Agus. (Mesa)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close