Sosok

Mengingat Kembali Sang Imam Thariqah Dari Suryalaya

TASIKMALAYA (MD) – Tidak sepenuhnya benar, bila dunia thariqah adalah wilayah sepi yang hanya dipenuhi oleh para orang tua yang telah berusia lanjut. Jika kita berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawab Barat, yang pernah menjadi salah satu basis penyebaran Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), akan kita jumpai para pengamal thariqah yang rata-rata masih berusia muda, bahkan ada yang masih berusia remaja. Yang lebih menarik lagi, sebagian besar dari kalangan pecandu narkotika yang telah berusaha menyembuhkan dirinya dari ketergantungan barang haram tersebut.
Bila kita menyebut nama Pesantren Suryalaya, tentu ingatan kita pasti akan segera tertuju kepada sosok ulama sepuh yang mengasuhnya. Ia adalah salah satu fenomena luar biasa yang pernah ada di jagat spritual Indonesia. Kedudukan beliau sebagai seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus ulama sesepuh, membuatnya menjadi tempat berteduh bagi jiwa-jiwa gersang yang tengah dilanda dahaga akan sebuah penecerahan batiniah. Tak kurang dari para petinggi negara, publik figur seperti pejabat dan artis yang datang meski hanya sowan kepada beliau, baik untuk kosultasi spritual, mengadukan persoalannya atau pun hanya sekedar mendapatkan legitimasi. Sebagai orang tua yang telah kenyang dengan asam garamnya kehidupan, sang allamah, orang yang sangat alim, dengan arif dan tangan terbuka menerima kunjungan tamu-tamunya, siapa pun orangnya dan apa pun kepentingannya pasti di terima dengan baik. Hidupnya di abdikan untuk melayani umat, dialah K.H Ahmad Shohiul Wafa’Tajul ‘Arifin yang akrab dipanggil Abah Anom. Maka dengan ini, kami segenap tim redaksi Media Desa akan dedikasikan catatan kecil ini sepenuhnya kepada beliau. Semoga dengan adanya tulisan ini, akan sedikit membuka ingatan kita pada sosok ulama kharismatik yang banyak berjasa di tengah masyrakat. Harapan kami kepada pembaca, khususnya kepada para pencari ilmu Allah, bisa mendapatkan inspirasi dan suri tauladan hebat dari sosok ulama besar namun sederhana tersebut. Sehingga bumi Tasikmalaya bisa kembali melahirkan serta menyumbangkan ulama-ulama besar bagi kepentingan agama dan kemaslahatan bangsa di masa yang akan datang.
Mengenai keihklasan Abah Anom ini, keponakan sekaligus wakil talqinnya, K.H. Zainal Abidin Anwar pernah menceritakan kepada santrinya, sekitar beberapa tahun lalu, pernah datang rombongan tokoh-tokoh sufi dari Amerika Srikat yang di pimpin oleh Syekh Nadzim Haqqani, khalifah thariqah Naqsyabandiyah Haqqaniyah. Hal yang menarik pada saat itu, yang dipimpin oleh Habib Luthfi pekalongan tersebut, Syekh Nadzim mengaku mengenal Abah Anom melalui ilham yang diperolehnya ketika memohon petunjuk kepada Allah. Bahwa di tengah kehidupan dunia yang sedang carut-marut saat ini, masih ada seseorang di Timur Jauh yang sangat ikhlas. Setelah di telusuri petunjuk itu, mengarah kepada seorang kiyai yang usianya baru saja melewati 90 tahun dalam hitungan masehi, atau mendekati 100 tahun dalam perhitungan hijriyah. Setelah pertemuan yang mengharukan tersebut, lagi-lagi terjadi peristiwa yang sarat dengan bahasa isyarat spritual. Begitulah kisahnya, yang tentu banyak hal yang menggugah dan penuh hikmah.

Baca Juga  Songsong HUT RI, Lansia Ini Kayuh Sepeda 272 KM

Belum lagi tentang kemahsyuran Pondok Pesantren Suryalaya sebagai tempat penyembuhan pecandu narkoba dan psikis dengan metode Islamic Hidrotheraphy, yang formulanya dirancang oleh Abah Anom. Metode ini menggabungkan konsep cold turkey system yang di Islamkan melalui mandi taubat dan serangkaian salat dengan dzikir khas ala Thariqah Qodariyah Wa Naqsyabandiyah. Sebuah program yang semula diniatkan untuk membantu program pemerintah pada pada tahun 1971 l, dan pada kemudian hari berlanjut terus dan dilembagakan dalam pasantren remaja bernama Inabah. Abah Anom, yang sejak muda tidak pernah makan daging dan selalu minum air putih ini, ialah putra ke-lima K.H Abdullah Mubaraq bin Nur Muhammad yang dikenal dengan nama Abah Sepuh, dari istri kedua Hj. Juhriyah. Ia memang sengaja disiapkan untuk meneruskan kepemimpinan di Suryalaya. Selepas pendidikan dasar di sekolah dan pesantren orang tuanya, pada tahun 1930 Abah Anom memulai pengembaraan menuntut ilmu agama Islam secara lebih mendalam. Diawali dengan mengaji ilmu fiqih di pasantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu alat dan balaghah di pesantren Jumbudipa Cianjur. Setelah dua tahun di Jumbudipa, ia melanjutkan mengaji pada ajengan Syatibi di Gentur Cianjur, dan ajengan Aceng Mumu di pesantren Cireungas Sukabumi yang terkenal dengan penguasaan ilmu hikmah. Pada dua tahun berikutnya, kegemaran akan ilmu silat dan hikmah kemudian diperdalam di pesantren Citengah Panjalu yang diasuh oleh Ajengan Junaidi, seorang ulama ilmu alat dan hikmah. Kematangan ilmu Abah Anom di usia 19 tahun diuji dengan kepercayaan yang diberikan oleh Abah Sepuh untuk membantu mengasuh pesantren Suryalaya sampai beliau wafat pada tahun 1956 dalam usia 120 tahun. Dua tahun sebelum wafat, Abah Sepuh mengangkat Abah Anom menjadi wakil talqinnya, kemudian menjadi mursyid penuh Thariqah Qadariyah wa Naqsyanbandiyah sekaligus pengasuh pesantren menggantikan Abah yang mulai sakit-sakitan. Beban tanggungjawab yang begitu berat ditumpu dibahunya yang pada saat itu beliau baru menginjak usia 41 tahun, menenggelamkan Abah Anom ke dalam samudera riyadlah, yaitu latihan untuk menggembleng jiwa agar menerima kebenaran dan Ikhlas. Kecintaanya kepada pasantren, thariqah dan umat melarutkan hari-harinya dalam ibadah, tarbiyah dan doa.

Sepanjang sisa hidupnya Abah Anom hampir tidak pernah tidur, demikian cerita dari sumber yang kami temukan. Di luar kegiatan ibadah mahdhah (ibadah yang langsung ditunjukan untuk Allah), mengajar, dan kunjungan keberbagai halaqah pengajian , Abah Anom menghabiskan seluruh waktunya untuk melakukan dzikir khafi, dzikir tanpa suara, secara diam-diam atau secara sembunyi-sembunyi.

Setiap kali kantuk menyerang, Abah Anom segera berwudhu dan shalat sunat lalu melanjutkan dzikirnya. Demikianlah sekilas salah satu kisah ulama besar yang pernah ada di Jawa Barat. Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, dedikasi dan kecintaanya terhadap sesama membuat namanya terukir dihati para umatnya. Walaupun beliau telah tiada menghadap Allah pada hari Senin, 5 September 2011/6 Syawal 1432 H pukul 11.50 di Rumah Sakit TMC Tasikmalaya, namun makamnya tiada henti-hentinya di ziarahi oleh masyarakat yang masih merindukan sosoknya hingga saat ini. Karena telah kita yakini, Abah Anom masih akan terus mengasuh jiwa-jiwa yang membutuhkan tetes demi tetes embun hikmah yang mengalir dari kejernihan telaga hatinya, walaupun raganya tidak lagi bisa bersama menyertai. Wallohu a’lam. (Usep Ruyani)

loading...
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close