Merancang Arus Balik Ekonomi Baru Nusantara

oleh -

BEKASI – Hanif Dhakiri yang dalam pemerintahan Jokowi menjabat sebagai menteri tenaga kerja dan juga sebagai wakil Ketua Lakpesdam NU, dalam halaqoh Rakornas Lakpesdam NU menyampaikan beberapa catatan penting bagi warga Nahdliyin untuk mempersiapkan diri menjelang 1 abad NU.

“Menuju satu Abad NU, Lakpesdam sebagai perintis program bagi lembaga-lembaga lainnya perlu untuk merancang arus baru ekonomi nusantara dan Sumber daya Manusia Nahdlatul Ulama” ujar Hanif.

Mengingat revolusi industri ke 4 atau yang sering dikenal dengan revolusi industri 4.0 adalah sesuatu yang tidak mungkin dilewatkan bagi segenap manusia di bumi ini.
“angkatan kerja kita saat ini mencapai 113 juta dan 2,8 juta angkatan kerja baru dalam setiap tahun. Angkatan kerja baru ini berlatar belakang pendidikan SD-SMP”. Lanjut ia menuturkan.
Artinya jika warga NU mencapai 79,04 juta (Survei alvara research 2016), maka 46 juta lebih warga NU masih lulusan SD-SMP, ini sebagai tantangan besar Nahdlatul Ulama. Sementara di sisi lain kebutuhan Skilled Worker meningkat, pada tahun 2015 hanya 28% maka diperkirakan pada tahun 2045 sebesar 90%.
Ada 3 (tiga) kelemahan sebagai tantangan kita pada tenaga kerja Indonesia yaitu, etos kerja, penguasaan bahasa asing (inggris), penguasaan Komputer/IT.
Selanjutnya, di tahun 2025-2030 Indonesia memasuki puncak bonus Demografi yang mana penduduk usia produktif (15-64) mencapai 70%. Menurut Mc. Kinsey Global Institut, dengan bonus demografi, Indonesia diprediksi menjadi pusat ekonomi terbesar ke-7 sedunia, syaratnya penduduk usia produktif memiliki Skill dan Kompetensi.
“Membicarakan bonus Demografi adalah membicarakan bagaimana meningkatkan kompetensi pekerja Indonesia, serta menyiapkan skill anak-anak mereka yang kelak mengisi pasar kerja saat puncak Bonus Demografi. Bonus Demografi sekaligus juga menjadi tantangan besar NU, bagaimana menjadikan Bonus Demografi menjadikan berkah bukan musibah”, Pungkas Hanif.

Baca Juga :  Kritik atas Pola Berfikir Para Pemegang Kebijakan

(AIH)

Berikan komentar