NasionalOpini

Mewujudkan Ruang Publik Politis di Tingkat Desa

Jika ada orang yang berkata “Demokrasi tidak hanya berhenti dibalik bilik suara”, orang itu sesungguhnya ingin menyampaikan ungkapan bahwa rakyat gagal faham terhadap demokrasi. Rakyat digiring untuk memahami bahwa demokrasi hanya selesai dalam moment moment pemilu saja, selebuhnya biarlah wakil rakyat yang mengurusi peran peran rakyat di ranah publik. Padahal lebih dari itu, masyarakatlah yang seharusnya mempunyai peran peran penting dalam ranah publik.

Didalam khazanah pemikiran Jurgen Habermas dikenal istilah “Ruang Publik Politis”. Apa yang dimaksud ruang publik politis? Habermas menjelaskan ruang public politis sebagai kondisi – kondisi komunikasi yang memungkinkan warga untuk membentuk opini dan kehendak bersama secara diskursif. Bisa dipastikan, Desa akan mendapatkan banyak sekali tantangan dalam mewujudkan kondisi ideal versi Habermas. Diantara tantangan terbesarnya adalah komitmen untuk menggugat tradisi lama yang rumit, menghadirkan inovasi dalam setiap kebijakan public, dan kemampuan untuk memobilisasi sumber daya desa.

Tantangan lain juga muncul di sebagian masyarakat, mereka terkadang tidak mau dan tidak mampu menyampaikan unek-uneknya secara jujur dan blak-blakan. Pada fase ini, Masyarakat harus diajarkan untuk berani berkomunikasi menyampaikan pendapat meskipun tanpa harus berada ruang-ruang yang formal. Disisi lain pemerintah dituntut untuk menyediakan sarana dan prasarana yang bisa menampung aspirasi dari rakyatnya.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, kondisi-kondisi seperti apa yang diharapkan untuk menciptakan ruang public politis dimaksud?

Pertama, rakyat memiliki kebebasan untuk berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya, unek-uneknya, dan berpartisipasi dalam menilai kebijakan public.
Kedua, Semua masyarakat yang berpartisipasi dan membangun komunikasi, memiliki kesempatan untuk memperoleh konsensus yang adil dan dihargai sebagai manusia otonom yang bertanggung jawab.
Ketiga, terbangunnya komunikasi antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan Negara, dan Negara dengan masyarakat harus dijamin bahwa tidak ada tindakan menekan, represi, dan diskriminasi.
Akhirnya, Ruang public politis hanya akan menjadi angan-angan manakala elite di tingkat desa masih duduk santai melihat rakyatnya bodoh, malas, kelaparan, dan menjadi pengangguran.

Baca Juga  Ber-DUKA-lah Dengan Yang Manis

Akan tetapi, jika semua pihak mempunyai keseriusan, misalnya dengan memperbanyak akses komunikasi, bekerja dengan integritas dan inovasi, dan memberikan pendidikan politik bagi masyarakatnya, membangun budaya non diskriminasi, dan masih banyak indicator yang lain, Maka bisa dipastikan mimpi mewujudkan ruang public politis segera menjadi nyata. Anda siap mewujudkan ruang publik politis?

Ajat Sudrajat – MediaDesa.id

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close