Sastra

Misteri Kematian Beruntun Anakku

“Ternyata rasa hawatirku adalah isyarat dan kepekaan dari seorang ibu. Iwan pun menyusul kakak-kakaknya, justru pada saat Lina belum berusia sebulan”

Ya, kami adalah bagian dari kaum yang miskin itu kalau boleh dibilang seperti itu. Kami tinggal di kampung, di sebuah kawasan di Kaki Galunggung, dari keluarga besar yang juga hidup pas-pasan. Suamiku hanyalah petugas keamanan kampung alias hansip. Sedangkan untuk menambah asap dapur, aku membuka warung kecil-kecilan di rumah petak milik orangtua. Tapi percayalah, kami tak mengeluh dengan keadaan kami. Karena kami yakin bahwa setiap orang punya bagian hidup yang disebut nasibnya sendiri-sendiri. Mungkin kami yang memang kebagian jatah menjadi miskin itu. Namun bagaimanapun kami tetap bahagia, karena nyatanya kami bukanlah tipe keluarga yang mudah mengeluh. Kami menikah di bulan September 2001, kebagiaan ditambah tatkala seorang bayi Iahir dari rahimku yang kami beri nama Wiwin pada Desember 2002. Saya merasa bahagia hari itu, saya menjadi seorang wanita yang sempurna yaitu menjadi ibu. Ini tentu kebahagiaan setiap wanita. Kubesarkan dan kukasihi dengan cara kami. cara seorang ibu kampung. Kubesarkan dan aku saya kasihi dia dengan nafkah Hansip dan hasil warung. Syukur Alhamdulillah, semuanya lancar saja sampai kemudian Iahir anakku yang kedua pada Mei 2004 yang kuberi nama Iwan. Tentu saja anakku yang kedua juga punya hak yang sama untuk menikmati kasih sayang dari seorang penjaga warung dan penjaga keamanan ini. Allah Maha Bisa dan Maha Murah. Tatkala Iwan menginjak usia satu tahun, tiba-tiba saja datang musibah pada Wiwin, anak sulung kami. Semula tubuhnya menggigil. badannya panas. Kami bawa ia ke tempat praktek seorang mantri dengan hati longgar. Paling-paling sakit panas biasa. Tapi Tuhan telah menuliskan takdirnya. Wiwin yang gemuk, lucu dan disukai tetangga itu mangkat menghadap Ilahi. Inalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kukhlaskan Wiwin dengan cucuran air mata. Kepergian Wiwin bagi kami merupakan tabungan. Sebab dari yang pernah aku dengar, bahwa kematian anak ketika masih kecil belum baligh bisa menolong atau menyelamatkan orangtuanya dari neraka. Kehidupan rumah tangga kami memang tak banyak romantika. Dari hari ke hari hampir tak berubah. Hari ini makan nasi dengan tahu dan sayur, begitu pula esok harinya sama. Kalau ada perubahan, yang paling tampak adalah perutku yang kembali membuncit. Biasa, ini pekerjaan dan produksi paling handal kelompok masyarakat miskin seperti kami. Namun bagaimanapun tetap kami anggap kehendak dan anugerah dari Allah. Anak adalah penyambung keturunan, harapan dan juga cita-cita orangtuanya. Kami anggap si jabang bayi pengganti Wiwin yang telah tiada. Kunamai anak kami yang ketiga dengan Ridwan, alhamdulillah ia lahir dengan selamat dan sehat. Tapi ketika Ridwan hampir satu tahun, aku kaget melihat perkembangannya. Anak kami yang jarang sakit itu, demikian cepat susut tubuhnya takala menderita penyakit panas. Kali ini kami segera membawa ke dokter atas jaminan pimpinan Hansip yang jadi atasan suamiku. Kami tak ingin musibah Wiwin terulang kembali. Tapi Tuhan menghendaki Ridwan menyusul kakaknya. Sebagai seorang ibu, aku menangisi takdir ini. Kenapa anak-anak yang kami cintai diambil-Nya? Sudahlah, ini namanya takdir. Kita tak bisa menolaknya. ” kata suamiku, Lili, ya Kang Hansip itu. “Nanti Allah pasti memberikan gantinya,” katanya lagi menghibur. la memang seorang pendiam. Tapi tidak dalam hal “satu” ini. Buktinya, aku pun segera mengandung lagi. 20 Mei 2004, Iahirlah Lina. Benar, Tuhan memberikan gantinya. bahkan pengganti Wiwin. Tapi bersamaan itu pula sekonyong-konyong tumbuh rasa kecemasan yang dalam. Jangan-jangan Tuhan memberikan ganti anak kami untuk mengambil lagi yang dikehendaki- Nya? Kepergian beruntun Wiwin dan Ridwan jutru setelah kelahiran adiknya membuatku khawatir. Sampai-sampai. sering sekali kupandangi lama-lama Iwan sambil memohon agar Allah tidak mengambilnya. la tumbuh lucu dan menyenangkan. “Ah, sudahlah. Jangan mengada- ada. Mereka meninggal kebetulan saja Tuhan menghendaki beruntun begitu,” ujar suamiku ketika kukatakan rasa kekhawatiranku. Ternyata rasa hawatirku adalah isyarat dan kepekaan seorang ibu. Iwan pun menyusul kakak-kakaknya, justru pada saat Lina belum berusia sebulan. Penyakitnya juga sama, panas terlebih mantri maupun dokter tak mampu mengobatinya. Mataku terasa berat dan kering. Tak tahu harus berkata apa. Kusesali kenapa Tuhan setega ini mengambil anak-anakku. Apa dosa-dosaku, dosa kami? Kuterima kemiskinan hidup kami. ya AIlah, tapi kenapa anak-anaku Kau ambil? Suamiku pun mulai merasa kesal. Untuk menghabisi kekesalannya ia pun membakari surat-surat yang berkaitan dengan anak-anak kami. Kami mulai berteka-teki terhadap peristiwa misteri yang sesungguhnya hanya milik Tuhan. Kucoba menelusuri riwayat keluargaku. Kami keluarga besar, sembilan orang, tiga di antaranya juga meninggal. Apa karena keturunan keluargaku? Tapi menurut ibu, kematian tiga saudaraku tidak berturut-turut seperti yang menimpa anak-anak kami. “Barangkali karena saya sering motong ayam,” ujar suamiku. Dia memang sering diminta bantuannya untuk memotong ayam oleh para tetangga. Maklum, hanya tenagalah yang dimilikinya secara agak berlebih. Tapi sejak itu, ia bejanji untuk tidak lagi memotong ayam sendiri untuk siapa pun. la ikut percaya anggapan orang bahwa memotong ayam sebagai salah satu penyebab kematian beruntun anak-anak kami, walau pun kami juga percaya bahwa mati adalah ketentuan Allah Ta’ala. Ada lagi pernyataan yang mengagetkanku, Yaitu pengakuannya bahwa sejak kami menikah, ada perasaan yang aneh dan tak beres setiap ia menyentuhku. menunaikan kewajibannya sebagai suami terhadap istri, ia merasa ada perasaan yang mengganggunya. la merasa setiap menyentuh tubuhku seperti menyentuh seekor ular, sehingga ia seringkali menggigil ketakutan. Oh Tuhan, benarkah pengakuannya itu? Tapi aku belum pernah menyangsikan suamiku berbohong. la seorang lelaki yang lugu, sederhana dan apa adanya. Tapi melihat aku sebagai seekor ular, benarkah? Iblis mana yang menjelma dalam bayangan kehidupan pribadi rumah tangga kami? Kenapa baru sekarang hal itu dikatakannya? Kami panik dan bingung. Tak bisa lagi hanya berserah diri kepada Allah. Kami harus berusaha memecahkan misteri sentuhan ular dan kematian berturut-turut anak-anak kami. Adakah hubungannya? Terus terang aku mulai merasakan ada hal-hal yang memang tidak semestinya. “Cobalah ke orang pintar,” kata seorang tetangga dekat. Aku pun tertarik. Aku tak tahu, apakah karena rasa keimananku sudah mulai goyah atau karena aku panik. Hari itu juga saya dibawa kepada seorang tua di daerah Tasik Selatan. Orangtua itu kukenal dengan sebutan Mbah Aliman. Orangnya cukup tua tapi tidak menakutkan. la mendengarkan ceritaku tentang kematian anak- anak kami secara beruntun, tentang cerita suamiku yang merasa seperti mencumbu seekor ular bila menggauliku. Rasanya persis seperti dalam cerita film yang menakutkan di televisi-televisi.

Baca Juga  Mang Bayan jadi Hansip

“Datanglah kami di hari Kamis sore dengan membawa telor dan kembang tujuh rupa. Kau memang memiliki tanda putih yang membahayakan anak dan suami bila tak segera disingkirkan.” kata Mbah Aliman. Aku tunduk seperti orang bodoh. Aku tidak lagi peduli bahwa kehadiranku pada dukun ini perbuatan syirik. Yang kuingat hanyalah bagaimana bebas dari segala kecemasan akibat peristiwa yang menimpa keluarga kami. Kulakukan yang diperintahkan dukun tua itu. Untuk dimandikan setiap malam Jumat sebanyak tujuh kali dengan air bunga dan telor yang sudah dimanterainya. Untuk tidak bergaul lebih dulu dengan suamiku selama ritual itu. Ya Allah, kalau aku ingat kembali kebodohanku, bulu romaku berdiri kembali. Aku tak tahu apa jadinya kalau saja dukun itu berbuat melebihi kehendaknya, mungkin aku tak banyak berkutik, seperti cerita-cerita dukun yang mengerikan, yang sering disorot oleh media televisi. Syukur, Allah masih melindungiku, sehingga tak terjadi apa-apa. Pada malam Jumat ketujuh aku diminta membawa jarum jahit tujuh biji, telur ayam akmpung sebutir, tiga meter kain kapan, dan kembang tujuh rupa. Sebuah peralatan yang tak masuk akal sebenarnya, tapi kuturuti juga karena pikiran kami sudah pendek. Selesai mandi, tiba-tiba Mbah Aliman mengambil sebilas golok kecil yang bergagang wayang golek, yang biasa digunakan para pertunjukan upacara ngeruwat. Pisau ltu ditusuk-tusukkan kecil ke punggung sehingga tidak melukaiku. Tapi di bagian leher belakang, tusukan pisau itu diperdalam. Agak sakit, lalu Mbah Aliman menunjukkan tetesan darah yang tampak lebih hitam dari darah yang pernah saya lihat dari luka. Kata Mbah Aliman, itu darah ular yang ada di tubuhku, penyebab tanda putih. Mbah Aliman juga berpesan agar Lina, bayiku, dijual pada orang lain. Hal ini juga kulakukan. Lina kujual pada tetangga seharga Rp. 500 ribu pada waktu itu. Tentu saja tidak sungguh-sungguh, hanya syarat saja. Tapi untuk sementara waktu harus benar-benar saya serahkan. Walaupun rasanya tak enak juga, tapi apa boleh buat. Sebelum kemudian, Lina kembali ke pangkuanku. Syukur segalanya berjalan lancar dan beres. Anak kami pun tumbuh sehat. Ketika ia berusia setahun lebih, muncul tanda-tanda hasil kerja suamiku. Aku mengandung lagi. Dengan harap-harap cemas, kami menunggu kelahiran adik Lina. Maka pada tahun 2005, bayi yang aku beri nama Asep Ridwanul Hakim lahir denga selamat dan sehat. Begitu juga perkembangannya. Pelan-pelan kecemasanku hilang. Apakah nasehat mbah Dukun itu manjur? Selang setahun, aku pun hamil lagi. Inilah pekerjaan paling hebat suamiku, seorang hansip, atau mungkin orang-orang seperti kami. Produktif dalam hal anak. Kami tak pernah memikirkan apakah punya anak akan memberatkan kami atau baik bagi kesehatanku. Aku tak pernah kuasa menolak birahi suami karena tradisi masyarakat yang sederhana seperti kami tak mengajarkan begitu. Semua berjalan secara alamiah. Apa adanya. Imas Wahyuni, bayi perempuan lahir pada tahun 2006 “Anak ibu punya gangguan pada saluran pembuangan,” begitu kata Bidan. Tepatnya Imas tidak punya alat pelebasan alias dubur, dan bidan menyarankan agar aku segera membawanya ke rumah sakit besar. Benar, demi anakku, bersama suami dan saudara, kami ke rumah sakit terbesar di Tasilmalaya, walau pun pada akhirnya harus di rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Tiga pekan Imas dirawat di sini dan dilakukan pembedahan perut untuk mengeluarkan kotorannya. Setelah itu diperkenankan pulang, dengan catatan sering kontrol ke rumah sakit untuk kemudian akan dilakukan pembedahan di bagian duburnya, sebagaimana anak yang normal, jika sudah agak besar dan kuat, kami tak tahu sejauh mana kami harus kontrol ke rumah sakit. Mungkin karena kesibukan atau keadaan ekonomi kami yang sulit, aku tak terlalu merisaukannya. Yang kurisaukan justru kemanjuran dan nasehat dukun Mbah Aliman dulu. Apakah yang dikatakan Mbah Aliman masib berlaku? Lina memang sehat, tapi kenapa Imas menderita lebih gawat? Tiba-tiba kembali terbayang kepergian anak-anak kami kami terdahulu. Ya Allah, berikan rahmat dan kemurahan-Mu. Ampuni dosa-dosa kami. Selamatkan anak-anak kami, Aku kembali menyebut nama Tuhan dengan sungguh- sungguh, tapi lagi-lagi Tuhan belum mengabulkan permintaan kami. Sepekan kami rawat, Imas menghadap llahi dalam usia sebulan lebih sedikit. Aku menangis terguguk. Bukan hanya karena kepergian Imas, tapi lebih karena cobaan yang sangat menakutkan itu belum berakhir juga. Suamiku menganggap bahwa derita Imas akibat ulah perbuatannya yaitu menutupi lubang tikus. la menyesali sikapnya itu. Rupanya ia terpengaruh oleh kata-kata orang, mungkin juga dukun kami dulu. Walaupun begitu ada satu hal yang tetap dan tak berubah hingga kini. Suamiku masih tetap produktif seperti biasanya. Tak lama setelah kematian Imas, aku mengandung lagi. Allah memberikan gantinya. Restu Fauzan lahir sebagai anak ketujuh, menemani kakaknya Lina yang telah berusia tujuh tahun dan Iwan 9 tahun. Menurut gurunya, Iawan sangat Iambat kecerdasannya, sulit mengikuti pelajaran. Apa yang harus aku katakan? Sedih dan menangis, mungkin itu yang bisa perempuan lakukan. Tapi aku harus menerima kenyataan apa adanya. Ini mungkin pelajaran untuk orang-orang sederhana seperti kami. Hanya mengikuti hari-hari yang bejalan walaupun itu berupa ketidak senangan. Tak lama kemudian datang usul dari suamiku untuk pindah ke Jakarta. Rumah orangtua di Jakarya kosong. Kalau pindah ke sana, rumah petak di kampung ini bisa dikontrakkan untuk menambah biaya hidup. Hidup di Jakarta toh memang berat. Kuterima tawaran itu dengan senang hati. Kupikir, aku bisa memasukkan Lina dan adiknya ke Madrasah yang ada di sana. Siapa tahu lebih tenang dan baik bagi pendidikan dan pertumbuhan mereka. ApaIagi seteIah mendengar riwayat Lina, guru-guru Madrasah di sana sudah bersedia membantunya.”Insya Allah di sini bisa seperti teman- temannya.” kata saIah seorang ustadz di sana. Tapi entah kenapa, suamiku meIarangnya. Mungkin karena kasihan. Biar nanti bersama adiknya saja, biar ada temannya, katanya. Aku pun menurut. Begitulah tradisi masyarakat kelas kami, kelas bawah dan sangat sederhana. Satu hal yang sangat berharga ketika aku tinggal di Jakarta, adalah aku mulai aktif mengikuti pengajian di sebuah majelis taklim yang dipimpin sebut saja namanya Nyi Hajah Nur. Darinya aku mendapat siraman rohani yang telah lama tidak aku perhatikan, karena kesibukan keseharian yang melelahkan. Darinya aku mengetahui langkah-langkah kekeliruan paling besar yang pernah aku lakukan, yaitu pergi ke dukun. “Perbuatan menduakan Allah itu besar sekali dosanya,” kata Bu Hajah Nur. “Apa yang menimpa anak-anak ibu adalah takdir dan semata-mata kehendak Allah. Ujian dan cobaan untuk kita. Mohonlah ampun dan kekuatan untuk menghadapinya”, katanya lagi. Kata-kata itu merasuk dalam diriku, dalam kehidupan yang lebih tenang. Maka ketika kehamilanku yang kedelapan keguguran, aku pun pasrah. Menganggap ini takdir, kehendak Yang Kuasa. Dituturkan oleh seseorang narasumber yang enggan disebut namanya, namun ini benar-benar terjadi. Anda percaya? (Usep R)

Baca Juga  Menembus Imajinasi di Tanah Palestina
Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close