Sejarah

Mozaik Garut Yang Hilang (1)

Alun-alun Tempat Adu Harimau

Oleh : Jani Noor

Mendengar nama Garut, pasti akan diingatkan pada manisnya Jeruk Garut Dodol Garut. Serta aneka produk unggulan Jaket Garut, Minyak Akar Wangi Garut, Domba Garut dan objek wisata Cipanas, objek wisata religi, dengan sejumlah Gunung, mulai Gunung Cikuray, Papandayan, Guntur, dan keindahan Pantai Selatan Pameungpeuk dan Hutan Sancang.

Namun, dari sekian ciri khas Garut tersebut, ada yang hilang diera sekarang yakni adu Harimau dan Kerbau di Alun-alun Garut.

Menurut salah satu sejarawan Garut, Deddy Effendie, adu ‘Maung’ (Harimau) dan ‘Munding’ (Kerbau) sebagai bentuk pesta rakyat setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Bupati Garut saat itu, Raden Adipati Ariya Wiratanudatar ke-8 selalu mengadakan even adu maung setelah lebaran. Setelah Solat Ied di Masjid Agung, Bupati ke Pendopo. Dari Pendopo mengganti pakaian yang dengan pakaian kebesaran kerajaan.

Kemudian naik kuda keresidenan mengadakan adu “Maung” dan “munding” yang kandangnya dibawah Babancong (Tempat pidato kenegaraan Kepala Daerah yang terletak diantara Pendopo dan Alun-alun).

Harimau dilepas ke alun-alun. Dengan ganasnya menerkam kerbau ‘edan’ yang sudah berada ditengah lapang. Harimau menerkam, kerbau menyeruduk dengan tanduknya yang besar dan tajam. Namun rata-rata pemenang harimau, meski sesekali ada juga harimau yang mati tertusuk tanduk kerbau.

Lantas bagaimana masyarakat yang menonton ?. Padahal tidak ada pembatas. Masyarakat tetap mengelilingi alun-alun tapi membawa tumbak. Ketika harimau menerjang, tumbak tersebut siap dihunuskan.

Entah sejak kapan, adu Harimau dan Kerbau berganti menjadi adu domba. Padahal kalau terus dirawat akan menjadi ikon wisata Garut yang populer kepenjuru dunia. Tak hanya adu harimau dan kerbau yang sirna, alun-alun pun berubah fungsi seiring perkembangan masyarakat.

Baca Juga :  Kontroversi Asal-Usul Tasikmalaya
Babancong

Selain Alun-alun yang jadi arena ‘Ngadu Maung jeung Munding’, terdapat pula Babancong. Bangunan bundar, beratap Payung Geulis dengan tiang penyangga tujuh buah, ditambah tangga dari kiri kanan serta tujuh lobang mirip goa dipondasinya menjadi artefak sejarah Garut.

Babancong berfungsi sebagai tempat pidato kenegaraan Bupati Garut yang masih dilakukan hingga sekarang. Setiap perayaan Hari Jadi Kabupaten Garut dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Bupati pidato diatas Babancong tersebut.

Babancong itu pun sempat dipugar tapi diprotes masyarakat yang dibangun kembali diera Bupati Dede Satibi meski ada perubahan tinggi bangunan.

Padahal pernah juga dipakai Presiden Soekarno yang berpidato didepan ribuan masyarakat Garut. Soekarno kala itu memberi penghargaan Adipura karena Garut dinilai Kota terbersih di Indonesia.

Sejak itulah Garut dijuluki Kota Intan karena kalau malam hari terlihat sinar bercahaya yang dilihat dari Jalan Cimanuk Simpanglima.

Kendati memiliki nilai kesejarahaan yang sangat tinggi keberadaan babancong tidak lagi menunjukkan kesakralan. Kondisi Babancong sempat tidak lagi terawat, kumuh, dengan sampah dimana-mana. Babancong dipercantik jika menghadapi Hari Jadi Garut dan HUT RI saja.

Malam hari kerap dijumpai remaja berpacaran sempat dijumpai yang mabuk. Namun diera Bupati, Rudy Gunawan sudah mulai ada pengamanan dari Pol PP.

(Bersambung)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close