Budaya

Nyukcruk Galur Pakidulan (1)

Mulus Sepanjang Jalan, Bubujung Indah Tak Lagi Indah
Oleh: Jani Noor

Sampai Tahun 2008, infrastruktur jalan “Pakidulan” lebih buruk dari pedalaman Kalimantan. Sejak tahun 2008 itu pula, Pemerintah Pusat menaikan status jalan pakidulan dari jalan non status menjadi jalan strategis nasional.

Upaya pembangunan jalan pakidulan pun mengubah daerah terisolasi menjadi kawasan jangkar ekonomi dengan dibenahinya jalan sepanjang 100 km dari Bandung Pangalengan, Cianjur Cijayanti, Garut Rancabuaya, Pameungpeuk dan Sancang, dilanjut ke Cipatujah, Cikalong Tasikmalaya, sampai Cimerak, Cijulang, Parigi, Pangandaran yang menghabiskan anggaran Rp 1 triliun.

Kami pun menelusuri wilayah pakidulan tersebut mulai Cipatujah, Sancang, Pameungpeuk, Caringin hingga Bungbulang Garut. Tak disangka jalan pakidulan itu memang sangat bagus, dihotmix, dibeton laksana jalan tol.

Perjalanan dari Kota Tasikmalaya menempuh waktu 2,5 jam. Dari Cipatujah sampai perbatasan Cipatujah Desa Ciheras Kabupaten Tasikmalaya-Sancang Kabupaten Garut sekitar satu jam, kecuali sekarang harus menaiki rakit karena putusnya Jembatan Ciandum-Cipatujah. Kemudian ke kawasan Hutan Sancang yang bisa ditempuh dalam satu jam.

Akan tetapi, masuk lokasi hutan sancang tidak bisa dengan roda empat. Pengunjung harus naik ojeg dengan ongkos Rp 100 ribu pulang pergi. Di Sancang kita dapat menikmati ademnya suasana dengan rimbunan pepohonan serta pantai yang masih perawan.

Dari Sancang menuju Pantai Sayangheulang Pameungpeuk memakan waktu Perjalanan sekira dua jam. Di Sayangheulang dijumpai pantai dengan hamparan karang serta penginapan murah mulai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Begitupun ke Pantai Santolo, masih wilayah Pameungpeuk dengan perjalanan kurang lebin setengah jam.

Di Santolo dapat menjelajahi pulau santolo dengan keindahan karang-karang, bekas dermaga kolonial Belanda serta petilasan jaman Pajajaran. Bahkan di Santolo terdapat Masjid Sela yang biasa dipakai tirakat, bertapa mendekatkan diri pada Allah. Termasuk pulau Curugan Sayangheulang yang menurut warga dikuburkannya penerus Pajajaran terakhir, Raja Sumedang larang, Prabu Geusan Ulun.

Baca Juga  Merawat Warisan di Tengah Derasnya Budaya Impor

Habiskanlah malam di Santolo, karena di Pantai tersebut banyak penginapan seperti di Pangandaran. Termasuk di Pantai Rancabuaya Kecamatan Caringin yang ditempuh 40 menitan. Pasalnya pengelolaan wisata Pantai Rancabuaya sedikit maju dengan banyaknya vila meski tak seramai Pangandaran.

Kondisi pantai berkarang yang memaksa pengunjung untuk tidak bisa berenang tidak mengurangi keindahan Rancabuaya karena pengunjung dapat menikmati pemandangan lepas pantai dan pegunungan-pegunungan wilayah Cianjur.

Pulanglah lewat jalur Bungbulang karena jalan pun mulus sebagus Pantai Selatan. Disana kita juga bisa melihat menjulangnya bebatuan Gunung Wayang di Kecamatan Pakenjeng sampai tiba di Kota Garut setelah melewati jalanan curam selama empat jam.

Di Garut bisa isirahat sejenak di kawasan Lapangan Golf Ngamplang sambil menikmati renyahnya jagung bakar. Atau ke objek wisata Cipanas untuk menikmati Garut malam sambil melepas lelah menuju perjalanan pulang ke Kota Tasikmalaya.

*Bubujung Indah yang Tidak Lagi Indah

Meski infrastruktur jalan membaik, ternyata tidak diikuti dengan membaiknya potensi wisata ujung selatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya.

Diperbatasan Cipatujah Desa Ciheras atau tiga kilometer ke Desa Sancang Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut terdapat objek wisata alam bebatuan milik Pemkab Tasikmalaya.

Batu-batu besar setinggi 15 meteran berdiameter 10 meteran menjulang ke angkasa, dirimbuni pepohonan dan akar-akar melingkar menghiasi jalan. Bahkan, bebatuan besar itu tidak hanya menghiasai pantai tapi juga ke perkampungan warga.

Sayangnya objek wisata yang dinamai Bubujung Indah tinggal puing berserak karena untuk gerbang masuk saja hanya menyisakan gapura kotor, dengan pos penjagaan tiket yang kumuh.

Begitupun kalau masuk lokasi, bekas pembakaran kayu menumpuk dibebatuan menjadi sampah. Disana kita bisa beristirahat sejenak sambil menikmati deburan ombak dengan batu karang menutupi jalan raya.

Baca Juga  Nyukcruk Galur Pakidulan (3)

Kami pun bertanya pada warga bahwa Bubujung berarti Ujung Danau. Maka pasti banyak bebatuan.

“Batunya besar-besar karena dulu danau purba,” kata Slamet (50), warga Kampung Alur RT 02 RW 04 Desa Ciheras Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya.

Ada cerita orang tua dulu mengenai bebatuan tersebut. Kalau sudah dilewati roda empat, jalan ke Ciheras akan ada yang membangun. Terbukti sekarang jalan bagus sekali yang padahal dulunya untuk lewat saja pada takut.

Batu-batu itu pun memiliki sebutan populer masyarakat dengan nama “Batu Panganten” dan Batu Keramat Trisula Bergoa. Disana diceritakan bertemunya Adam dan Hawa yang dalam istilah warga Ciheras Eyang Adam dan Ambu Hawa.

Tiga tahun sudah (sejak 2015) Jalan Pakidulan sepanjang Pantai Selatan begitu bagus, namun tak diikuti pengelolaan potensi wisata Bubujung yang dibangun sejak tahun 2000. Bahkan terdapat juga semburan Air Panas yang belum dikelola baik Pemerintah.

“Ah sibukna pamarentah teh kana Pasir Beusi kapungkur mah,” ujar Slamet sambil berlalu.

(Bersambung)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close