Budaya

Nyukcruk Galur Pakidulan (2)

Uu Populer, Sancang Tak Seangker Yang Dikira
Oleh: Jani Noor

Masuk Desa Sancang Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut, tibalah disuatu jembatan dengan sungai dibawahnya yang menurut warga batas Cipatujah Tasikmalaya dengan Garut. Jarak dari objek wisata Bubujung Indah tidak terlalu jauh sekira satu kilometeran.

Di jembatan sepanjang 20 meteran itu terdapat prasasti bahwa jembatan tersebut bernama Cikaengan sesuai nama sungai sebagai penghubung ruas jalan Cipatujah – Pameungpeuk.

Persis seberang jembatan terdapat warung nasi. Kemudian datang pria berkumis dengan golok dipinggang bertanya akan kemana. Ia memerkenalkan diri Ade Brewok. Usia 60 tahunan.

Laksana pemandu, Ade Brewok menjelaskan bahwa tiba di Sungai Cikaengan sudah masuk wilayah Sancang. Tapi mengingatkan jika masuk ke Hutan Sancang akan dijumpai banyak kuncen yang mengaku paling kuncen.

“Padahal kuncen sudah jadi pekerjaan disana. Hampir semua penduduk mengaku kuncen,” ujarnya.

Ade pun mengeluh soal jauhnya Pemerintahan Garut karena untuk mengurus KTP saja harus menempuh perjalanan sampai tiga jam ke Pameungpeuk. Apalagi ke Garut Kota bisa memakan waktu delapan jam.

“Makanya warga disini mah (Cikaengan) lebih sering ke Tasik karena lebih dekat cuma dua setengah jam,” kata Ade.

Ade juga mengaku dipercaya sebagai koordinator warga saat Pilkada maupun Pilleg sekarang. Ada 157 penduduk Cikaengan, ujarnya, tergantung pada pilihan Ade.

“Bukan pilleg sekarang saja, pilkada juga saya jadi koordinator. Bahkan kalau ada demo suka disuruh nyari massa. Lumayan aya buruhna,” tuturnya.

Kami pun tertawa karena lelahnya perjalanan sedikit terobati dengan keterusterangan Ade Brewok. Namun ketika ditanya siapa Bupati Garut sekarang, Ade malah kebingungan kemudian bilang Bupati Uu.

“Pak Uu kan Bupati mah. Bos Uu da Uu mah balad,” ucapnya.

Baca Juga :  Disbudpora Ciamis Teliti Sususunan Batuan Diduga Candi

Kami pun kembali bertanya waktu Pilkada Garut memilih siapa dan ia bilang memilih Rudi.

“Pilkada mah ka Rudi,” tuturnya sambil tertawa diikuti pemilik warung yang memberitahu Ade bahwa Bupati Garut itu Rudi bukan Uu.

*Sancang Tak Seangker Yang Dikira

Setelah mendapat hiburan dari Ade Brewok, perjalanan dilanjut ke Hutan Sancang. Tiba di perkebenunan karet Mira Mare, kami harus berjibaku dengan jalanan curam berbelok penuh dengan tanjakan.

Jalan pun begitu mulus dihotmix, termasuk ke lokasi Perkampungan Sancang, jalan beton cukup bagus. Rumah-rumah permanen seperti di Kota dengan perkampungan ramai mematahkan anggapan bahwa hutan sancang belum tersentuh modernisme.

Meski hampir disepanjang jalan dijumpai papan nama kuncen, lengkap dengan nama kuncen. Apalagi ketika memasuki kampung sancang terdapat gapura dengan dua patung harimau dan kujang menyambut pengunjung.

Tibalah disuatu perempatan, sejumlah pemuda menawarkan tunggangan karena roda empat tidak bisa masuk jika harus ke Kawasan Hutan yang dilegendakan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi itu.

Setelah disepakati dengan membayar Rp 100 ribu pulang pergi, membayar tiket masuk Rp 5 ribu sambil menuliskan identitas, perjalanan menelusuri rimbunnya hutan berlanjut. Disepanjang jalan, tak henti-hentinya mengingatkan pemandu agar hati-hati karena jalanan setapal begitu licin serta curam.

Pepohonan besar dengan akar-akar melilit menambah keangkeran hutan. Apalagi ketika pemandu mengungkapkan bahwa banyak sekali pengunjung yang sekedar bertapa meminta kejayaan, kekayaan dan kekuatan ditempat tertentu.

Mengenai juru kunci (kuncen) diungkapkan pemandu bernama Jajang (40) ini berjumlah 35 orang. Mereka turun temurun dari pendahulunya.

“Lamun anakna opat, opatanana jadi kuncen. Kitu we saterasna. Makana jadi seueur kuncen di sancang mah,” ujarnya.

Didalam hutan sancang juga tidak seangker yang dikira. Sejumlah motor lalu lalang yang menurut Jajang sebagai warga setempat yang akan memancing di laut. Begitupun dengan tempat yang dikeramatkan, terdapat saung penunggu yang katanya tempat beristirahat menuju Cikajayaan. Di Cikajayaan itulah, orang bisa bertapa, memanjatkan dzikir-dzikir diatas bebatuan dengan air yang menimpa orang tersebut.

Baca Juga :  Bubur Syuro, Tradisi Ibu-ibu Bantarpayung Yang Tak Lekang Waktu

Hutan Sancang memang masih alami makanya masuk kawasan konservasi alam dilindungi pemerintah. Namun, hutan yang bersentuhan dengan Samudera Indonesia ini sudah ramai oleh pemondokan nelayan, pemancing dan pengunjung yang sekedar jalan-jalan di pantai sancang.

Siapapun yang pernah ke sancang sekaligus ke pantainya dijamin belum puas kalau hanya satu kali. Ditambah adanya larangan menebang pohon kaboa yang katanya jelmaan pasukan-pasukan Siliwangi akan selalu dibuat penasaran. (Bersambung)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close