BudayaSunda

Nyukcruk Galur Pakidulan (3)

Pohon Kaboa, Maung Dan Misteri Siliwangi
Oleh : Jani Noor

Keyakinan “urang sunda”, setiap hutan dan laut memiliki keisitimewaan tersendiri. Apalagi Sancang yang memiliki legenda tempat “tilem” (menghilangnya) Sri Baduga Maharaja Padjajaran Prabu Siliwangi.

Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat Sancang, Abidin (58) membenarkan dan kaitan hutan serta laut sancang dengan Prabu Siliwangi ditandai tumbuhnya Pohon Kaboa.

Pohon yang memenuhi pinggir laut itu tidak tumbuh di pantai lain kecuali sancang, serta petilasan-petilasan (bekas singgah) seperti Batu Cikajayaan, Karang Gajah dan lokasi Pohon Kaboa diyakini tempat suci yang tidak boleh dirusak manusia. siapa yang berani merusak, Harimau Sancang siap-siap menerkam perusak.

“Maung sancang teh aya, sanajan jarang pisan nu ningalina. Tapi masyarakat didieumah masih yakin ayana,” kata Abidin.

Asal muasal pohon kaboa, diyakini sebagai jelmaan Siliwangi dan pasukan-pasukannya. Konon, ketika Kiansantang pulang dari Tanah Arab ingin mencoba kesaktian ayahnya, Siliwangi.

Dikejarlah Siliwangi sampai ke Hutan dan Laut Sancang tadi, setelah sebelumnya mengejar ke Cirebon, Godog Garut, Gunung Gelap Pameungpeuk, Cilauteureun, dan Santolo. Lalu Siliwangi menyelam ke dasar laut sampai muncul di laut sancang diikuti anaknya Kiansantang.

Akan tetapi, Kiansantang tidak menjumpai Siliwangi karena yang ada hanya prajurit-prajurit Siliwangi. Terus ia bertanya dimana Siliwangi, dan para prajurit menggelengkan kepala. Ketika prajurit-prajurit tersebut menggelengkan kepala, Kiansantang melihat kayu tegak (berupa tongkat) menancap pinggir pantai. Kiansantang berujar jangan-jangan itulah (kayu tegak) Siliwangi.

“Boa-boa ieu Siliwangi,” gumamnya.

Kiansantang pun memerintah siapa yang mengikuti dirinya akan terus menjadi manusia, sementara yang ikut ayahnya akan jadi kayu tersebut. Jadilah prajurit-prajurit yang ikut ke Siliwangi menjadi kayu yang sekarang disebut kaboa.

“Nyak sabab tina boa-boa siliwangi tea, tangkal eta disebut kaboa. Boa-boa atawa siapa tahu lamun dina bahasa Indonesa mah,” tutur Abidin.

Baca Juga :  Hajat Lembur, Tradisi Warga Cirangkong Rawat Budaya

Kini pohon kaboa menjadi pohon yang dilindungi Pemerintah. Selain memiliki nilai sejarah, keberadaan kaboa berfungsi sebagai penangkal abrasi serangan ombak. Maka jika ke Pantai Sancang sulit ditemui adanya abrasi karena kuatnya penahan pohon kaboa.

Mengenai keyakinan masih ada satu pohon kaboa asli yang dianggap jelmaan Siliwangi, Abidin menyatakan hanya satu yang asli itu berupa keyakinan ke yang Maha Tunggal yakni Allah. Ketika manusia yakin Allah itu satu, hakikatnya sudah memiliki pohon kaboa yang satu itu.

Begitupun dengan nama sancang, diyakini memiliki arti “Sa” artinya “sarasa urang, rasa urang ka batur, rasa batur ka urang”, dan “Cang”, nyangcangkeun diri urang kanu bogana, nyaeta Allah”.

“Sancang bagaimana manusia saling merasakan perasaan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhannya. Maka itulah Sancang,” kata Abidin.

*Rezeki Diatur Allah

Siapa sangka ditempat seangker dan sesepi Laut Sancang itu pun ada sepasang suami istri yang tinggal sejak tahun 1988.

Padahal dari perkampungan ke pantai sancang harus menelusuri jalan setapak (meski bisa dengan roda dua), menerobos kerimbunan hutan dengan kondisi jalan curam yang bisa memakan waktu kurang lebih satu jam. Belum lagi malam hari, suara ombak dan hewan hutan menambah keangkeran malam pantai sancang.

Adalah Yayu (75) dan suaminya yang mengaku dari Cilacap. Ia menelusuri pantai Pangandaran, Cijulang, Cimerak, Cipatujah sampai tiba di pantai Sancang untuk mencari ikan. Ia tidak berterus terang hanya tak terbayang bisa tinggal di Pantai Sancang dan merintis perkampungan sisi pantai.

Sejak 1988, Yayu sudah dikarunai 12 cucu dan empat buyut, bahkan sudah ada yang tamat kuliah tinggal di Jakarta. Biaya kuliah anaknya diperoleh dari tangkapan ikan.

Baca Juga :  Inilah 16 Peserta Musikalisasi Puisi Se-Jabar2019 Kelompok Seni Meriahkan

Kampung nelayan itu pun dinamai Cibako karena banyak pohon bakau yang sekarang berjejer serta sebagian ditertibkan Pemerintah Kabupaten Garut.

Yayu juga membuka warung kecil kebutuhan sehari-hari mulai rokok kopi sampai kebutuhan keluarga tersedia. Kami bertanya siapa pembeli warung yang hanya berpenghuni dua orang itu. Yayu tersenyum penuh keyakinan bahwa rezeki diatur Allah.

“Ini buktinya, bapak jauh-jauh kesini akhirnya jajan lalu memberi saya uang. Itulah rezeki,” kata Yayu sambil tertawa.

Sepintas siapa yang menjadi pembeli ketika ia membuka warung di pantai sancang. Tapi keyakinan bahwa rezeki diatur Allah tidak sedikit pengunjung yang sekedar berburu dan memancing menjadi langganan dia. dagangan Yayu tak sepi pembeli karena malam hari pun kerap disinggahi pengunjung yang berburu dan memancing ikan.

Bukan hanya warung, Pemerintah mempercayai Yayu sebagai jubir pantai sancang. Siapa yang ingin mengetahui informasi sancang, Yayu “jongosnya”. Begitupun ketika ada yang jahil merusak terumbu karang, pohon bakau dan sebagainya, Yayu pasti menindak perusak kealamian pantai sancang.

Dari pengabdian itulah, Yayu dan nelayan sancang sempat mendapat bantuan berupa perahu dan alat penangkap ikan sehingga penghasilan bertambah.

Kemudian saat ditanya tentang Misteri Siliwangi, Yayu tidak terdiam lalu berbicara pelan agar tidak keras-keras bertanya soal itu. Setelah diyakinkan, Yayu menyatakan Siliwangi masih hidup dengan bukti bahwa dia sering didatangi lewat mimpi.

“Sok anaking, anjeun didieu. Rek nulung kanu butuh nalang kanu susah, mere obor kanu poekeun, mere iteuk kanu leueureun, masihan payung kanu hujaneun. Aya maneh aya kami. Anjeun teu kudu ngomong, cicing didieu,” ujarnya sambil meminta kami agar tidak terus bertanya soal Siliwangi. (Bersambung)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close