©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Selasa, Mei 21, 2019
Sosok

Orang Tasikmalaya Jadi Tokoh Pergerakan Buruh Di Suriname – Amerika

SURINAME – Suriname merupakan salah satu koloni Belanda di Amerika Selatan. Daerah yang berbatasan dengan Brazilia itu punya beragam hasil perkebunan dan pertambangan.

Pada 1890, Pemerintah Hindia-Belanda mengirim orang-orang dari Pulau Jawa untuk dipekerjakan menjadi buruh kontrak di sana. Mayoritas buruh yang dikirim ke Suriname berasal dari desa-desa yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Buruh asal Jawa Barat hanya menempati sebagian kecilnya.

Di antara minoritas suku Sunda yang dikirim ke Suriname itu diisi buruh asal Tasikmalaya. Gelombang migrasi buruh asal Tasikmalaya ke Suriname terjadi secara bertahap dari 1897 sampai 1939. Mereka berasal dari berbagai distrik, seperti Tasikmalaya, Singaparna, Banjar, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Kawali, Indihiang, Rancah, Cikatomas, dan Pangandaran.

Buruh asal Tasikmalaya yang dikirim ke Suriname berjumlah 284 orang dari total 32.956 buruh asal Pulau Jawa, terdiri dari 114 laki-laki dan 70 perempuan, termasuk anak-anak. Mereka dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan tebu, kakau (coklat), kopi dan tambang bauxite.

Meski berada di tengah dominasi Jawa, buruh asal Tasikmalaya telah menorehkan sejarah yang berharga bagi bangsa Jawa di Suriname. Adalah Iding Soemita, sosok kharismatik yang sukses mempelopori perjuangan hak-hak politik bangsa Jawa
Pria kelahiran cikatomas Tasikmalaya 3 April 1908 tampil sebagai simbol perekat persatuan puluhan ribu buruh asal jawadi Suriname. Iding Sumitra tiba di Suriname pada 20 Oktober 1925 dan bekerja sebagai perawat di perkebunan gula mariembo.
Nama Iding Sumitra menjulang di antara puluhan ribu buruh di Suriname. Kiprahnya dimulai saat pria asal Desa Bengkok Cikatomas ini mengusulkan pada rekan-rekannya untuk menghimpun dana pemakaman secara gotong-royong, dana pemakaman itu digunakan untuk orang-orang jawa yang meninggal agar dapat dikuburkan secara layak dan terhormat, usulan Iding Sumitra disepakati oleh seluruh buruh dari tanah jawa di marlbork.
Keberhasilan Iding Sumitra dalam mengorganisir dana pemakaman bagi buruh kontrak jawa berkembang jadi semangat pergerakan, Iding Sumitra berhasil membangkitkan kesadaran masyakat tanah jawa yang ada di Suriname tentang kewajiban bergotong royong, toleransi dan kebersamaan.
Sebagai sosok anti kolonial Iding Sumitra tampil terdepan mendampingi para pekerja yang terkena sangsi pidana akibat bolos kerja, atau petrselisihan perburuhan. Iding Sumitra berangsur jadi pemimpin politik yang disegani ketika menyuarakan gerakan pulang ke tanah air yang dikenal ‘mulih n java’ pada tahun 1933. Ketidak konsistenan pemerintah colonial tentang pemulangan buruh kontrak kerja jawa setelah kontraknya habis 5 tahun diindikasi menjadi awal adanya gerakan ini.
Puncaknya terjadi pada 1946 sumitra bersama rekan sesama buruhnya mendirikan perhimpunan pergerakan bernama persatuan indonesia atau PI. Agenda politik persatuan Indonesia adalah menuntut kepada pemerintah colonial agar segera memulangkan buruh kontrak jawa di Suriname ke tahan air atau lebih dikenal dengan politik nagih janji.
Untuk menopang perjuangan PI Iding Sumitra membentuk kelompo militan bernama Benteng Hitam dan Pagar Rakyat Indonesia Suriname atau PRIS.
Pada tahun 1948 Iding Sumitra mengubah nama Persatuan Indonesia menjadi Kaum Tani Persatuan Indonesia atau KTPI dan mendeklarasikannya sebagai partai politik. Kaum Tani persatuan Indonesia tampil sebagai partai politik yang mewadahi perjuangan politik bangsa jawa di Suriname.
Kaum tani persatuan Indonesia turut berpartisipasi dalam gelaran pemilu Suriname tahun 1949 di distrik kombewizne. Dalam kontestasi tersebut Iding Sumitra berhasil mendapatkan kursi parlemen Suriname dengan perolehan 2325 suara. Di parlemen adding sumitra aktif dalam setiap perundingan bersama belanda terkait kemerdekaan Suriname.

Baca Juga  Kisah Marsinah, Pejuang Buruh Yang Dibunuh Pada Masa Orde Baru

Tinggalkan Balasan