Opini

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Riwayatmu Kini

Oleh : Andi Ibnu Hadi, S.H

Guru sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa” tidaklah menjadi istilah yang asing bagi bangsa Indonesia. Mengingat Perjuangan para guru dalam membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan di tengah segala keterbatasan media, fasilitas, dan penjajahan.
Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan adalah: “Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”. Secara sederhana, pahlawan tanpa tanda jasa adalah orang yang berani dan rela berkorban dalam membela kebenaran tanpa mengharapkan keuntungan pribadi.
Seperti dalam Lirik lagu Himne Guru menggambarkan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Demikian liriknya: “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.
Sederet kalimat dalam Himne Guru ini sungguh mengandung makna begitu dalam untuk menggambarkan guru sebagai pahlawan yang tidak mengenal tanda jasa. Memang menggeluti profesi sebagai guru tidaklah mudah. Guru mempunyai tanggung jawab besar dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM).
Namun kini guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa tinggal cerita. Guru riwayatmu kini tidak seperti dulu lagi. UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengubah status guru dari pekerja menjadi profesi. Status ini mendongkrak strata sosial guru setaraf dengan profesi lainnya, seperti dokter, polisi, hakim, jaksa, pengacara, dll.
Saat ini guru tidak lagi sekadar dihormati. Tetapi sudah menjadi kebanggaan, mendapat sanjungan, dan strata sosial yang lebih tinggi. Kondisi itu berbanding terbalik ketika guru hanya menjadi sosok Umar Bakri seperti yang dinarasikan Iwan Fals dalam lagunya, dimana guru sejak zaman Jepang hanya mampu memiliki sepeda kumbang buntut karena gajinya seperti dikebiri.
“Pahlawan tanpa tanda jasa” riwayatmu kini tidak ada lagi yang naik sepeda ondel pergi mengajar. Tidak ada lagi yang minder dengan siswanya yang naik mobil, karena mereka juga sudah mampu membeli kendaraan bermotor motor bahkan mobil (walaupun dapat kredit lisingan) sebagai transportasi ke sekolah. Selain mulia, kini status sosial guru juga naik, yang dulunya dipandang sebelah mata dalam masyarakat karena gaji yang sebulan habis hanya untuk buka lobang tutup lobang karena utang. Dari sisi ekonomi, kehidupan guru sudah mulai berubah seiring dengan komitmen negara dalam menjamin kesejahteraan para guru sebagai pekerja profesional.

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: