NasionalOpini

Parlemen

MediaDesa.id – Kenapa harus ada parlemen? Kenapa wakil rakyat dibutuhkan? Dari mana pemikiran harus ada sekumpulan orang, kelas menengah-ke-atas, yang berperan mewakili rakyat? Pasti ada hal menarik disana. Ternyata dan ternyata, jawabannya saya temukan dan buku Ronald Butt, A History of Paliament.
Dahulu, di Inggris, tempat parliament pertama kali mewujud dengan segerombolan orang yang mengklaim mewakili rakyat, parlemen di bangun dengan tujuan agar Raja bisa memerintah Inggris tidak dengan menarik pajak dari rakyat. Hanya itu saja. Parlemen dibentuk demi urusan perut. Parlemen dibikin demi uang rakyat utuh. Para baron dan kesatria, yang jadi anggota parlemen, siap korbannya nyawa demi tujuan ini, menjaga rakyat dari keserakahan Raja.
Parlemen adalah musuh pajak. Ketika pasukan Raja Edward III mengepung Kota Calais, memaksa rakyat Calais untuk memabayar pajak. Para anggota parleman bahu membahu bersama rakyat untuk kepalkan tangan. Maju di muka tangan terkepal. Perlawanan sampai satu tahun, sampai mereka lelah dan kalah, karena senjata mereka tak punya. Mereka pun menyerahkan diri sebagai sandra, siap mati demi pengepungan segera berakhir dan rakyat Calais tak menderita. Begitu heroiknya peristiwa ini, lima abad kemudian, Auguste Rodin membuat patung Les Bourgeoise dan mempersembahkannya di tahun 1913 untuk parlemen Inggris, dan patung ini sampai detik ini tegak di taman House of Lords.
Raja Edward III mati, diganti Raja Edward IV. Nah, dalam kekuasaan Edrawd IV parlemen sampai di puncak cita-cita. Raja yang falboyan ini memerintah dengan tidak memungut pajak sesen pun. Apalah lacur, manusia bukan makhluk yang gampang puas. Para keles menengah-ke-atas punya cita-cita lain, mereka ingin agar Raja tidak sewenang-wenang dalam mengeluarkan kebijakan. Mereka pun ingin ikut campur dalam menyusun hukum, membangun undang-undang. Dan inilah cikal bakal yudikatif dan legislatif, benih-benih “demokrasi” di Barat, tepatnya Inggris, sampai akhirnya terjadi Revolusi Inggris dan Prancis.
Kelas menengah pun terbagi dua: setia dengan kekuasaan Raja dengan sistem monarki, kelompok lain berjuang demi demokrasi. Salah satu kelompok pendukung Raja adalah Sir Walter Raleigh, yang hidup di abad 17, dimana pertarungan politik-idologi begitu hebat. Dalam tulisan-tulisannya kita membaca bagaimana ia membanggakan kelebihan sistem monarki dan menolak demokrasi. Tapi apa yang terjadi, Raleigh toh dituduh berkomplot dalam melawan Raja James I dan akhirnya dihukum pancung. Sejarah umat manusia memang pikuk oleh kemunafikan.
Kita tak bisa mengelak bahwa monarki memang menyebalkan. Tapi kita tak bisa menutup mata bahwa demokrasi pun bukan kata yang tanpa dosa. Lihat saja! Karl Marx datang demi menolong dan membela para jelata, bahkan ia sampai kebablasan dengan statmennya yang terkenal, agama adalah candu. Ketika ia mengelompokan kelas menengah serakah, kata yang ia pakai adalah bourgeoise, borjuis. Artinya apa? Patung Les Bourgeoise yang tegak di taman parlemen Inggris dijadikan “simbol” bahwa parlemen sudah lupa peristiwa di tahun 1374, ketika dengan heroik membela rakyat Calias. Bagi Marx, orang di parlemen yang kelas menengah ke atas itu, telah menjadi darakula penghisap darah. Kata bourgeoise pun menjadi sebuah sindiran dan ironi.
Indonesia, negara kita tercinta, sudah memproklamirkan sebagai negara “demokrasi”. Hebat. Saya pun ingin bergabung bersama orang-orang yang terus memperjuangkan demokrasi bisa kokoh di negera ini. Tapi, satu buku bagus terbit di tahun 2013, America’s Deadliest Export Democracy (sudah diterjemahkan oleh Yendi Amalia dengan judul Demokrasi Ekspor Amerika Paling Mematikan). Buku ini berkisah bahwa demokrasi adalah kata bukan tanpa dosa, dan bahkan dosa yang paling berbahaya. Demokrasi memang mulia, tapi jika dipegang pemimpin dan parlemen yang haus darah maka dosanya ‘audzubillah. Eksekutif, legislatif, yudikatif, pun menjelema menjadi sebuah sistem neraka, menjadi satu lingkaran kusut yang memuakan.
Di Kota Tasikmalaya, kejaksaan sudah proklamasi ada dana 2,7 M raib entah kemana. Proses hukum pun berjalan. Yang menarik, di parlemen (DPRD Kota Tasikmalaya) malah seperti “tutup mata”. Berbondong “atret” seperti mengamankan pasukannya! Yang menarik, mereka yang menolak pansus DPR: P3 (karena Walikotanya ketua PPP), Golkar (karena Wakilwalikotanya ketua Golkar), dan Nasdem yg hanya punya satu kursi, seperti cari aman. Ayolah melek mata kalian!!!
Kita, sebagai rakyat, sebagai jelata, janganlah lelah. Putus ada adalah dosa. Kita akan terus “maju ke depan dengan tangan terkepal”. Demi Indonesia yang lebih baik, demi Tasikmalaya yang lebih mulia. Saya sebagai jelata, teringat satu syair Iwan Fals, “Bibirku bergerak teteap nyanyiakan cinta, walau aku tahu tak terdengar. Jariku menari tetap tak akan berhenti, sampai wajah tak murung lagi.” (Fauz Noor)

Baca Juga  PBNU Minta Facebook, Twiter dan Instagram Hapus Video Aksi Teroris Selandia Baru
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close