OpiniSastra

Pemimpin yang Peduli dengan Harga Tembakau

MediaDesa.id – Aki Haerudin (nama smamran) adalah seorang kakek di Desa Kertasari, usianya hampir menyentuh 100 tahun, baginya pribahasa “tak kenal maka tak sayang” ia ekspresikan sebagai tak kenal maka tak memilih. Sesaat setelah team sosialisasi dari komisi pemilihan umum menerangkan paslon gubernur yang mencalonkan diri dan yang harus dipilih yang belum lama ini ia banyak dihadapkan pertanyaan-pertanyaan.
Saat si kakek ditanya siapa yang akan dia pilih, si kakek angkat bicara sambil terbatuk-batuk dan menghisap tembakau “ngeah ek naon milih teu apal saha nu ek di pilihna ge jiga kumaha naon kahayangna tanggung jawab heunteuna.!”.
Sungguh sangat miris ketika para calon pemimpin berbicara tentang kesetaraan hak, peningkatan taraf hidup rakyat Indonesia melihat kakek yang sudah tua renta ini yang terdaftar sebagai pemilih tetap tapi baginya tidak tahu mana yang harus dipilih olehnya, karena mungkin bagi si kakek yang pemikirannya berbeda dengan orang lain, tidak terbawa arus perkembangan jaman, kesehariannya yang hanya menganyam dan pergi ke kebun tidak tahu siapa pemimpin yang akan memimpinnya kelak ketika pesta demokrasi telah usai.
Ketika ditanya siapa dan bagaimana calon pemimpin yang diinginkan, kakek itu menjawab dengan nyeleneh, “ Lah jang aki mah pamingpin teh ulah anu sok naekeun harga bako we, da jang aki mah 5000 ge mahal hese neangan duit sakitu teh“, sambil tertawa dan meneguk kopi hitam dalam gelas yang terbuat dari tempurung.

ilustrasi : referensi pihak ketigaSelang beberapa menit dari kakek ini terdengar sayup-sayup, menggerutu, “jang aingah pamingpin teh cik atuh ulah ukur anu bisa ngajangjikeun arek mere ieu mere itu cukup jang aingah pamingpin teh tuh anu kawas Mang Juha!”. (Samaran)
Siapa Mang Juha? baginya Mang Juha adalah sosok pemimpin yang tak pernah mengurai janji suka memberi bukti. Sosoknya tak pernah ia temukan di jaman sekarang ini. Sosok Mang Juha bukan gubernur dan bukan presiden juga bukan kepala desa, Mang Juha hanya pemimpin kampung yang bertanggung jawab tanpa balas jasa.
Kata si kakek, Mang Juha dulu ketika memimpin punya istilah asal masyarakat sejahtera, Mang Juha rela melakukan apapun meskipun mengorbankan waktu dan pikiran bahkan hartanya untuk kemaslahatan rakyat. Si kakek merasa kriteria Mang Juha bertolak belakang dengan pemimpin yang ada pada saat ini yang hanya mementingkan kesejahteraan pribadi tanpa memikirkan rakyat di pedesaan. Sekalinya memikirkan rakyat pedesaan mereka tak mau berkorban hanya menyalurkan yang ada, tetapi apabila uang tidak ada untuk diberikan kepada masyarakat mereka selalu bilang anggarannya tidak ada untuk itu.
Harapan si kakek ketika pemimpin sudah terpilih nanti janganlah terlalu banyak memberikan janji manis, cukup berikan apa yang menjadi hak rakyat, baginya terlalu mustahil jika para pemimpin rela mengorbankan hartanya seperti sosok Mang Juha, cukup berikan apa yang menjadi hak rakyat dan jangan pernah menaikan harga tembakau karena baginya tembakau itu lebih penting dari pada nasi, ungkapnya lagi sambil berlalu pergi untuk mengambil bambu bahan anyaman, “aki mah ah ek neangan heula awi jang meli bako geus beak”. (Rijwan)

Baca Juga  Membaca Merlyn Sopjan Sang Waria
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close