Ragam

Pemuda Malaganti Raup Puluhan Juta Rupiah dari Pembiakan Ular

MediaDesa.idTASIKMALAYA. Bagi pecinta reptil, ular merupakan binatang eksotis, orang awam yang merasa jijik terkadang tidak segan membunuh hewan melata yang satu ini. Namun ditangan pemuda yang satu ini, ular menjadi komoditas bernilai tinggi yang menjanjikan.

Wahyu Setiawan (36) biasa dipanggil Opet merupakan sosok pemuda kreatif dan jeli melihat peluang dengan hobi yang ia miliki,berawal dari mimpi pada tahun 2007, bapak satu orang putri ini mulai berkenalan dengan para penyuka reptil di Tasikmalaya.

“Awalnya saya dapat mimpi, lalu saya main ke teman yang mengkoleksi ular, karena sering ngumpul-ngumpul dengan sesama penyuka reptil bersama mereka membentuk komunitas TRC (Tasikmalaya Reptil Club)” ujar Opet saat ditemui Media Desa.

“Ada perbedaan karakter antara ular liar dan ular piaraan, khususnya dalam pemberian pakan, penyuka reptil tentu berani bayar mahal ular piaraan dibanding ular hasil menangkap dari alam liar” sambungnya.

Opet menuturkan mulai tahun 2015 ia hijrah ke Kampung Malaganti, Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai karyawan Swasta untuk melanjutkan menggarap sepetak kebun warisan orang tuanya, selain berkebun ia juga memiliki banyak waktu untuk melakukan pembiakan ular di rumahnya.

“Alhamdulillah setelah 2 tahun dari hasil berkebun dan menjual ular sudah bisa membangun rumah buat keluarga” ujar Opet.

Ular yang dibiakan Opet berjenis sanca karena menurutnya ular sanca dari Indonesia diminati karena ukurannya besar dan panjang. Ular ini bukan reptil yang dilindungi sehingga tidak akan bermasalah dengan hukum bila memperjual-belikannya.

“Saya tidak berani memelihara ular yang dilindungi karena akan bermasalah, ular sanca Indonesia harganya lebih tinggi di pasar internasional, jauh kalau dibanding harga ular yang dilindungi” jelas pria lulusan Fakultas Ekonomi ini.

Menurut Opet harga ular sanca Indonesia bisa mencapai harga Rp 8.000.000 tergantung dari keunikan warna motif kulit ular, bahkan menurutnya keeksotisan ular-ular Indonesia jauh lebih unggul dibanding ular dari negara lain, terkadang penyuka reptil asal Indonesia impor dari luar negeri ular yang sebenarnya asli Indoneseia yang dibiakan di luar negeri.

“Dari belum adanya pembiak ular di Indoneisa inilah saya tertantang untuk membiakan ular sendiri, agar kita tidak dirugikan karena ketidak-tahuan kita” Jelas Opet.

Baca Juga :  Angka Perceraian di Kota Tasikmalaya Tinggi, Penyebabnya Perselingkuhan

Dari 4 ekor indukan yang dimiliki Opet dengan 1 kali masa kawin setiap tahun, seekor ular miliknya bisa bertelur 30-50 butir dengan tingkat keberhasilan penetasan yang ia lakukan sebesar 99%, umur 3 bulan ular hasil pembiakannya sudah dapat dijual di pasaran. Biasanya Opet mejual melalui komunitas untuk pasar lokal sedangkan untuk pasar ekspor ia titip melalui koleganya yang berbisnis eksor impor retpil.

“Alhamdulillah, untuk sekali penjualan ular cukup untuk resiko dapur keluarga selama setahun di kampung.” jelasnya saat disinggung keuntungan yang diperoleh.

Opet menuturkan banyak suka duka selama 2 tahun membiakan reptil yang bisa bersifat ganas ini, mulai dari digigit ular, kesedihan karena kematian ular yang ia cintai sampai jerih payahnya masuk ke habitat asli ularnya untuk mengukur suhu dan kelembaban ideal.

“Ular itu kawin pada bulan tertentu, jadi saya harus mengkondisikan suhu dan kelembaban kandang semirip aslinya agar ular mau kawin, kalau dingin tambah lampu kalau kurang lembab mengguyur air” ujar Opet.

Belajar dari literatur dan otodidak Opet mulai mendalami pembiakan ular sanca miliknya, sebuah mesin tetas ia buat untuk menetaskan telur karena menurutnya jika dierami resiko kerusakan telur akan besar.

Dari segi pakan bukan kendala besar bagi Opet, cukup dengan memberikan bangkai ayam yang banyak ia dapat dari peternak ayam di kampungnya, memenuhi kebutuhan makannya untuk satu minggu. Ayam yang sudah mati sengaja berikan untuk menekan insting buas ular bila diberi ayam atau hewan yang masih hidup.

Sementara untuk menciptakan pola unik motif warna kulit ular Opet memiliki teknik tersendiri yang lakukan saat ular masih berbentuk embrio di dalam telur.

“Saya melakukan teknik khusus saat embrio masih didalam telur untuk menciptakan motif unik warna kulit ular” ujar Opet.

Setelah 3 bulan telur menetas sebagian dari ular yang bermotif warna kulit biasa Opet lepas ke alam liar sebagai bentuk kepeduliannya menjaga ekosistem lingkungan disekitarnya.

“Saya tidak hanya sekedar membiakan ular dan mencari keuntungan, ular-ular hasil pembiakan sebagian dilepas untuk konservasi alam, selain itu juga saya melakukan sosialisasi ke warga agar setiap ketemu ular agar tidak membunuhnya” jelas Opet.

“Koleksi ular saya biasa dipertontonkan ditempat wisata dibantu 3 orang warga, sekedar untuk berfoto pengunjung wisata dengan ular mereka memberi sedekah seikhlasnya” tutur Opet. “Lumayan 3 orang pemuda kampung bisa saya berdayakan dengan Ngamen Oray, sehari kalau lagi ramai perorangnya bisa mengantongi Rp 100.00.” lanjutnya.

Baca Juga :  Angka Kecelakaan Lalin di Tasik Tinggi, Yuk..! Pasang Stiker Ini

“Bukan sekedar ngamen, sih. Usaha sampingan ini juga sebagai bentuk edukasi agar warga masyarakat tidak alergi ular dan bisa melindungi reptil ini” pungkas Opet. Bagi Wahyu Setiawan alias Opet ular dan reptil umumnya bukan sebatas hobi dan mencari keuntungan semata, ia juga mengekspresikan kecintaan pada binatang ini dengan rasa kasih sayang sebagaimana mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Memberikan cukup makan dan mengatur kenyamanan kandang agar suhunya mendekati habitat asli merupakan bentuk perlakuan Opet bagi binatang kesayangannya, terkadang baginya ia merasa tak lebih sebagai seorang pelayan sementara ular-ularnya adalah majikan baginya. Bentuk timbal balik dari majikan bagi Opet adalah dari harga jual yang di bisa peroleh, keuntungan ekonomis yang mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya di kampung.

Sebagai pecinta reptil dengan ikut menjaga kesimbangan ekosistem dari pelepasan ular miliknya Opet telah turut membantu menjaga kelestarian lingkungan, tidak lelah ia melakukan sosialisasi kepada warga untuk melindungi reptil khususnya ular.

Dengan membunuh ular rantai makanan di alam akan rusak, tikus akan kehilangan pemangsanya bila itu dibiarkan maka hama tikus akan tidak terkendali pada akhirnya dapat merusak tanaman pertanian, hal itu tentu akan menjadi kerugian warga petani bila membunuh ular serampangan.

Mengenai kasus Ular yang memakan manusia bagi Opet sedikit tidak itu akibat dari ulah manusia sendiri yang merusak ekosistem, pemburuan babi liar mengakibatkan hewan yang menjadi makanan ular habis, bila sudah terjadi kerusakan alam habitat bagi binatang liar maka ular seperti binatang lain seperti Gajah, kera, harimau dan binatang liar lainnya akan mencari makan ke perkampungan, apapun bagi mahluk tidak berakal selama ia lapar dan dapat dimakan adalah santapan untuk menghilangkan rasa laparnya.

Opet berpesan kepada kita agar kesadaran untuk menjaga lingkungan tidak pernah kendur karena pada akhirnya kerusakan alam yang dilakukan oleh tangan manusia sendiri akan berakibat buruk bagi manusia pada akhirnya. (Doni Sutriana)

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: