Peristiwa

Penyebab Macet TOF Meluas, Akibat Kesewenangan Penguasa Sampai Yang Bernada Rasis

TASIKMALAYA – Pasca Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Rachmat Soegandar mengeluhkan macetnya jalan akibat Tasik Oktober Festival (TOF), Minggu, 14 Oktober 2028, laman Facebook dia kebanjiran komentar. Dari yang mengkritik penguasa sampai bernada rasis menyeruak kepublik.

Misal akun bernama Samsul Maarif yang menyindir penguasa (Pemerintah) bahwa Tasik milik penguasa sehingga rakyat diinjak saja.

“Wios kang Tasik mah nu penguasa ieuh rakyat mah tinesen penguasa,” tulis Samsul.

Bahkan Samsul meyakini banyak pemilik toko di Jalan HZ Mustofa terampas haknya.

Meski demikian akun bernama Icee Yolanda malah mendukung TOF di Jalan Hazet. Pasalnya menguntungkan warga pribumi karena mayoritas pemilik toko bangsa lain.

“Aku setuju saja dengan kegiatan di jalan hazet. Toh menguntungkan juga buat orang-orang kita khususnya pribumi. Toh perkotaan itu semua bangsa cina. Jadi pribumilah yang lebih berhak untuk mengais rejeki tahun ini karena dadaha selalu sepi dikunjungi konsumen,” tulisnya.

Sontak saja komentar tersebut mendapat reaksi dari pengguna Facebook lain, bahkan meminta Icee Yolanda hati-hati karena warga keturunan juga sudah menjadi warga Tasik, termasuk diingatkan adanya Undang-Undang ITE.

“Icee Yolanda jangan rasis aja sama bangsa lain. Tidak semua yang di Hazet Cines. Mereka yang Cinese juga sudah warga kota tasik,” tulis akun Roni Romansyah.

Akun Icee Yolanda langsung menegaskan kalau Tasik Festival di Dadaha selalu sepi dan komentar rasisnya itu sebatas bercanda.

“Jangan rasis ingat UU ITE,” sanggah akun bernama Kang Annas Faturochman.

Ramainya komentar tersebut menarik perhatian Ketua DPD Partai Nasdem Kota Tasikmalaya, Abdul Haris juga. Ia menilai memang sebaiknya jalur pusat kota atau pusat bisnis jangan terganggu oleh kegiatan seperti TOF atau acara lain seperti Yudapes yang menutup jalan raya.

Baca Juga  Penyegelan Tak Diindahkan, Karangtaruna Desa Mangunreja Kembali Mengadu ke Satpol PP

Haris mengungkapkan keluhannya akibat lalu lintas jadi kacau semrawut dan macet yang begitu jauh dan merugikan bisnis toko atau kuliner dan perhotelan karena tamu terganggu mau masuk susah.

“Ini harus dikaji secara akademis jangan secara emosional, atau intrik politik tapi ditinjau dari beberapa sisi. Bahkan untuk pengembangan kota menurut saya masih luas seperti ke dadaha, cilembang, situ gede atau jalan mangin sekalian yang jalurnya panjang. Dan ini untuk pengembangan kota agar keramaian tidak terpusat ke taman kota,” ujarnya.

Haris juga meminta Rachmat Soegandar mengajak dewan lain berdiskusi terkait ini.

“Leres pisan kang. Seharusnya usia 17 tahun kota kita sudah dibarengi dengan penataan tata ruang kota termasuk jalan protokol sebagai etalase kota. Memang benar bahwa acara seperti ini dilaksanakan setahun sekali namun jika terus terusan dilakukan seperti ini tampaknya sulit menemukan esensi dari perhelatan sebuah syukuran ulang tahun kota yang seharusnya paling tidak mayoritas warga merasa bahagia,” tulis akun bernama Asep Sufyan membenarkan.

Asep juga mengungkap fakta saat ini bahwa sebagian masyarakat bisa jadi agak stres dengan kemacetan luar biasa sebagai dampak rekayasa lalu lintas di lintasan kota. Dan berharap ada evaluasi komprehensif kedepan apakah festival itu konsepnya harus seperti ini atau bagaimana karena ia pun menyadari tak ada kebijakan yang sempurna dan bisa memuaskan semuanya namun paling tidak dalam prosesnya publik yang diwakili para anggota DPRD diajak diskusi oleh pihak eksekutif perihal saran seperti apa terkait penyelenggaraan Tasik Festival. (Mesa)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close