Inspiratif

Perseteruan Agraria Di Tanah Priangan

Tanah tidak hanya berdimensi yuridis, tetapi berdimensi ekonomi, politik, sosial dan magis religius. Bahkan bagi negara, tanah mempunyai dimensi strategis. Maka permasalahan tanah bukan persoalan hukum saja tapi mempunyai dimensi luas, sehingga tidak mudah untuk diselesaikan secara cepat karena secara historis telah terjadi sejak era kolonial.

Peristiwa Cimareme Garut, 7 Juli 1919, titik awal perseteruan agraria di wilayah Priangan. Sampai-sampai Sugiarti Siswadi (Budayawan Lekra) yang dalam Kumpulan Cerpen dan Puisi Gelora Api 26 menggambarkan dengan sangat dramatis peristiwa pembunuhan Haji Hasan Arif dan anggota keluarganya dalam bentuk puisi.

Darah siapakah yang menggenang merah
Membasahi bumi Priangan?
Ah, itulah darah Haji Hasan
Dipotong, seanak bininya
Konon, apakah H. Hasan seorang perampok?
Ah Haji Hasan hanya mempertahankan sejengkal tanah
Beberapa pikul padi dan bakul beras, mempertahankan anak bininya
Tetapi lehernya dipenggal, sekeluarga menemui ajal,
Dan darah menggenang merah,
Dan si perampok berkulit putih, mengamangkan goloknya,
Ditengah perjalanan sejarah
Ia haus darah, haus darah…

Perseteruan agraria pun terus berlangsung sampai detik ini. Perjuangan Serikat Petani Pasundan (SPP) jadi saksi bahwa ribuan masyarakat Priangan telah dihilangkan kemerdekaannya.

Untuk menggali perseteruan tersebut, “Media Desa” mewawancarai aktifis SPP, Erni Kartini di Tasikmalaya. Erni mengatakan konflik sebetulnya telah terjadi sejak 1995 yang merenggut ribuan korban.

“Secara hitungan ya ribuan, dari yang ditahan sampai yang diintimidasi secara psikisnya,” kata Erni.

Data yang dimiliki SPP, antara tahun 2000 sampai 2018 saja ada 144 orang ditahan, ditambah Garut lebih dari 100 orang dan Ciamis sekira 168 orang. Mereka petani penggarap lahan yang didakwa mengelola tanah tanpa izin pemerintah.

“Pemerintah menggunakan berbagai dalil. Melanggar Undang-Undang Kehutananlah atau Undang-Undang Perkebunan dan sebagainya,” ujarnya.

Baca Juga  Terapi Gratis Untuk Anak-anak Difabel di RBM Talagasari

Status yang disandang pun bervariatif ada yang ditangkap kemudian dilepas lagi, sampai harus diproses pengadilan dengan vonis terlama tiga tahunan.

“Kalau dijumlahkan ada 150 orang di Tasik, Garut dan Ciamis. Bahkan ada yang sekali tangkap kepada 40 orang meski tidak ada cukup butkti,” ucap Erni.

Dalam reforma agraria, kata Erni, intinya pemberdayaan masyarakat desa. SPP tidak hanya melakukan pendampingan penguasaan tanah tapi mendirikan lembaga pendidikan dengan membangun sekolah. Satu SD, Empat SMP dan Lima SMK ditambah Tiga Pesantren telah dibangun SPP, termasuk sedang fokus pada pendampingan di Kabupaten Tasikmalaya yang sudah masuk data objel Landreform baru.

“Ada 600 hektar kawasan perkebunan di Cikatomas Desa Sindangasih, itu sedang kami dampingi,” tuturnya.

Kasus di Cikatomas, ujar Erni, karena hak guna usaha Perkebunan Negara PTPN 8 sudah habis dan tidak diperpanjang. Maka seharusnya dikembalikan ke negara kemudian oleh negara diredistribusikan kepada masyarakat dikarenakan HGU (hak guna usaha) nya tidak diperpanjang.

“Nah wilayah itu diklaim kementerian kehutanan sebagai wilayah hutan. Agar kembali ke negara harus ada pelepasan kawasan dulu. Prosesnya satu sampai dua tahun yang kalau resmi dilepas maka akan diredis oleh presiden melalui kementrian agraria untuk menjadi kawasan perkebunan,” tuturnya.

Erni juga menyampaikan dalam segi pendidikan bahwa alumni sekolah SPP sudah banyak yang diperguruan tinggi seperti Unsil Tasikmalaya, Unigal Ciamis galuh, Uniga garut bahkan Unpad Bandung, juga ada yang jadi BPD, aparatur desa sampai tenaga pendidik.

“Kalau untuk agrarianya sudah lima desa di Ciamis yang memperoleh hak guna usaha perkebunan. Di Garut akan diredis dan sudah masuk rencana landreform, juga sudah terbit sertifikat kurang lebih 2500 sertifikat untuk 6000 keluarga di Ciamis serta untuk masyarakat Garut yang masih dalam proses penerbitan sertifikat. Insya Allah tahun 2020 sudah terbut,” ujarnya. (AIH)

Baca Juga  Tren Pengajian Online untuk Countering Faham Radikal
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close