Inspiratif

Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta

YOGYAKARTA – Pesantren Waria Al-Fatah yang terletak di Kotagede, Bodon, Jagalan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah berdiri sejak tahun 2006. Pesantren ini berdiri sejak terjadi gempa di Jogyakarta tahun 2006 sebagai rumah singgah kaum waria Yogyakarta. Namun kemudian sejumlah tokoh agama dan masyarkat jogyakarta menggagas rumah singgah tersebut menjadi pusat peribadatan dan belajar kaum waria yang beragama islam.

Setelah berjalan sekian tahun, kaum waria merasa kecewa dengan salah satu tokoh penggagas pesantren tersebut karena ternyata mereka dipaksakan untuk berorientasi seksual menjadi laki-laki yang hal itu mereka angga tidak mungkin dapat mereka lakukan. Keberadaan Pesantren Waria Al-fatah ini kemudian mengalami kefakuman dikarenakan adanya tekanan dari sejumlah LSM yang menuntut pesantren tersebut dibubarkan. Berbagai tuduhanpun menimpa terhadap mereka, karena dianggap akan membuat Fiqih baru yaitu Fiqih waria. atas tuduhan tersebut Shinta Ratri selaku Pimpinan pesantren menolaknya, “Bagaimana kami akan membuat fiqih waria, wong kami aja masih harus banyak belajar agama” ujar Shinta saat temu kunjungan sejumlah LSM Kemanusian dan Organisasi Bantuan Hukum dikediamannya.
Sejak diprotes untuk dibubarkan oleh sejumlah LSM keberadaan Pesantren Waria Al-Fatah mengalami kefakuman, hingga tahun 2012 Shinta mulai melakukan perbaikan dan pengembangan pesantren. Tahun 2012 kegiatan pesantren Shinta mengalihkan pusat kegiatan Pesantren waria dirumahnya yang semula sebagai sanggar tari.
Menurut Nur ayu salah satu pengurus pesantren waria, kami disini sangat mendapat tempat di masyarakat, tidak pernah ada gangguan dari masyarakat, hal itu karena kami berbaur bersama masyarakat setempat dalam berkegiatan seperti, memasak, merias dan yang lainnya.

Rutinitas Ponpes
Kegiatan Pesantren Waria Al-Fatah dilakukan setiap hari Minggu dari sore hari sampai malam hari, jadwal kegiatan ini diharapkan tidak mengganggu mengganggu para santri pesantren Waria yang sedang mengais rejeki seperti menjadi pegawai salon, pemulung, dan pegawai Salon.
Sementara untuk kegiatan pengajian kami dibimbing oleh para ustad dari UIN Jogyakarta. Shinta selaku pimpinan pesantren waria menyampaikan, para waria disini mengisi kegiatan dengan belajar membaca Al-Quran, dan saat ini telah banyak kaum waria pada pesantren ini yang telah bisa membaca Al-Quran.

Baca Juga :  Pelopor Pemberdayaan Kebun Karet di Cidolog

Pesantren Waria ini dirasa sangat besar manfaatnya sebagai pusat pembelajaran kaum Waria karena mengingat banyaknya kaum Waria yang tidak memiliki keterampilan bahkan hanya mengenyam bangku sekolah di tingkat Sekolah Dasar Saja.

“Waria itu rata-rata mereka kabur dari rumah karena diusir atau dikucilkan oleh keluarganya sejak kecil, jadi bagaimana kami bisa belajar seperti anak yang lain, bawa pakaian aja cuman yang nempel dibadan” pungkas seorang santri waria yang tidak amau disebutkan namanya.

“Saya merasa tertarik untuk mesantren disini, karena saya semakin tua dan akan menghadap tuhan yang maha kuasa maka saya harus cepat dapat bersiap berbanah diri” lanjutnya dengan muka tertunduk.

(AIH)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close