OpiniPolitik

Pesta Demokrasi Republik Santri

Oleh : Aip Syaiful Mubarrok
(Ketua LAKPESDAM PCNU KAB. TASIKMALAYA)

Genderang telah ditabuh bersamaan dengan telah resminya empat pasangan calon Bupati Tasikmalaya mendaftarkan diri ke KPU Kabupaten Tasikmalaya. Sejatinya sebuah pesta, maka pesta demokrasi ini harus dirayakan dengan riang gembira, bahwa segalanya hanya soal siasat dan kecerdasan mengemas cara saja agar sampai nanti di 9 Desember 2020 menjadi sang jawara pengatur arah navigasi Kabupaten Tasikmalaya kelak.

Tasikmalaya dikenal sejak lama sebagai kota santri, ribuan pesantren dengan demografi santri yang luar biasa jumlahnya merupakan asset luar biasa yang jarang dimiliki oleh wilayah lain di Indonesia. Kesejarahan dan progresifitas dinamikanya tak pernah lepas dari gerak langkah para santrinya. Tengoklah bagaimana secara kultur dan kesejarahan Tasikmalaya yang setiap momennya tak pernah meninggalkan peran santri dan kyai di dalamnya, pantaslah jika sampai pemilihan pemimpinnya pun tak pernah lepas dari bagaimana para kyai dan santri Tasikmalaya memberi opini, pandangan, sikap-sikap sampai pada soal dukung-mendukungnya.

Di kota ini, begawannya para kyai dan ulamanya para ulama telah lahir dan membesarkan Tasikmalaya dengan segala hiruk pikuknya, bahkan dari tempat ini pula-lah lahir pahlawan nasional yang merupakan seorang kyai sekaligus tentu saja seorang santri, KHZ Mustofa dari Pondok Pesantren Sukamanah. Di Tasikmalaya juga pernah terjadi peristiwa besar yang menyedot perhatian nasional bahkan dunia pada 1996 silam, dimana Tasikmalaya membara oleh amukan ribuan santri atas tindakan tak pantas yang dilakukan oknum polisi pada seorang santri.

Sekaligus disini pula, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di Indonesia, bahkan dunia pernah melaksanakan salah satu muktamar paling monumental dan fenomenal dalam sejarah Nahdlatul Ulama, dimana sebuah ormas yang ditekan penguasa orde baru bisa memenangkan pertarungannya secara fair, cerdas dan terbuka. Tasikmalaya keramat dengan segala hal tentang kyai dan santri, jadi tak bisa diabaikan bahwa eksistensi santri disini adalah harga mati sebuah ekspektasi.

Pada perhelatan pemilukada serentak tahun 2020 ini, ada empat calon yang dipastikan bertarung sengit dalam pilkada di tengah pandemi ini. Dan semua calon yang bertarung itu representasi santri hadir secara utuh di setiap pasangannya.

Ade Sugianto yang dianggap incumbent setelah mendapat “mulung muntah” pasca Uu Ruzhanul Ulum melenggang ke Gedung Sate, mantap memilih Cecep Nurul Yakin, ketua umum DPC Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Tasikmalaya yang merupakan seorang santri, putra kyai sekaligus ketua para jawara silat NU se-Tasikmalaya yaitu Pencak Silat NU Pagarnusa yang merupakan salahsatu badan otonom Nahdlatul Ulama dengan anggota dan eksistensi yang relatif dinamis dan merata di semua wilayah Tasikmalaya, selain ia juga merupakan pemegang mandat sebagai ketua karang taruna Kabupaten Tasikmalaya, maka tentu secara dukungan massa dan level kepemimpinannya itu membuat Ade Sugianto sangat confident untuk tak lagi berkoalisi dengan partai manapun selain partainya sendiri, PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan saja. Pasangan ini muncul lebih awal ketimbang pasangan lainnya dengan dinamika politik yang relatif landai dan senyap, sebuah situasi dimana kepercayaan yang “Hade” dari Ade Sugiyanto pada wakilnya yang merepresentasikan seorang santri akan “Yakin” mampu membantu mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya untuk mendapatkan kembali posisi Bupati Tasikmalaya, sehingga dengan pembacaan pada situasi inilah kemungkinan merupakan salahsatu hal yang membuat SK DPP dari kedua partai mengalir lancar relatif tanpa hambatan.

Sedikit berbeda dengan pasangan calon pertama, Iwan Saputra yang mantan seorang birokrat dengan catatan prestasi yang cukup mentereng sepanjang karirnya merasa cakap untuk maju ke pertarungan perebutan kursi Bupati Tasikmalaya, ia juga tak melepaskan kesempatan pertarungannya kali ini untuk mendapatkan pendamping dari kalangan santri. Pucuk dicinta ulam tiba, pilihannya jatuh pada KH Iip Miftahul Faoz, putra dari Kyai Legendaris Tasikmalaya Almaghfurlah KH Saefuddin Zuhri, ulama kharismatik Tasikmalaya pendiri salahsatu pesantren terbesar di Tasikmalaya, Pondok Pesantren Haurkuning. Iwan pastinya tak cuma memilih Iip sebagai seorang aktifis dan cendekiawan muda pesantren yang cerdas saja, tapi Iip adalah seorang representasi santri yang populer, progresif dan taktis dalam beragam aktifitas pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya, dengan jejaring yang luas dan baik walaupun secara politik praktis kemunculannya baru terlihat secara terang benderang sejak awal awal tahun ini saja. Partai Kebangkitan bangsa yang menyodorkan Iip tentu sudah beristikhoroh dengan berhitung dan berkalkulasi atas popularitas dan pastinya elektabilitas Iip. Selain santri, ia pun seorang kader original NU, darah biru pesantren dan tentu kapasitas kepemimpinannya yang dinilai cukup dan cakap, sehingga pasangan ini dirasa “masagi” dan “wani” untuk menghadapi semua para calon lainnya. Pasangan ini diklaim akan memberikan perlawanan yang sengit dikarenakan koalisi yang mendukungnya cukup gemuk dibandingkan pasangan lainnya, ini membuktikan bahwa pasangan ini mendapat kalkulasi politik yang cukup signifikan sehingga Golkar, PKB, PKS, Nasdem dan PAN sepakat mengusung mereka berdua agar nantinya bisa mengisi kursi Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya.

Baca Juga :  Asal Catut Logo Organisasi, Forum Umat Islam Ciamis Terancam Dipolisikan

Pasangan terakhir yang mendeklarasikan diri adalah Pasangan Azies Rismaya Mahfud dan Haris Sanjaya. Pasangan ini lahir dengan progresifitas yang cukup dinamis, tentu karena kedua orang dalam pasangan ini adalah bukan pribadi biasa biasa. Azies adalah keluarga pengusaha bis Mayasari, taipan Tasikmalaya yang sejak awal dalam setiap pidato politiknya selalu mengedepankan soal pemerataan pembangunan dan kemandirian ekonomi masyarakat, tipikal umum visi pengusaha yang terjun ke dunia politik. Azies sejak awal sudah merangkul erat Partai Gerindra dan ia secara spartan melakukan komunikasi ke semua partai untuk ikut mendukung pencalonannya, walaupun pada akhirnya ia hanya mendapatkan SK terakhir dari DPP Demokrat saja. Diluar dugaan, ia memilih Haris Sanjaya yang tercatat saat itu masih menjadi ketua DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya. Pinangan Azis itu tak ditampik oleh Haris, sehingga tak lama kemudian keduanya mendeklarasikan pencalonannya. Haris Sanjaya adalah seorang santri dan kader NU tulen, selain dianggap sukses memegang nakhoda PKB Kabupaten Tasikmalaya selama dua periode, kiprahnya di NU terhitung sangat panjang dengan garis kaderisasi yang linear, maka mantan ketua IPNU Tasikmalaya dan salah satu pengurus Tanfidz PCNU Kabupaten Tasikmalaya ini juga merupakan representasi santri “kahot” yang tak bisa diabaikan popularitas dan kemampuannya apabila diserahi amanat memimpin kabupaten Tasikmalaya. Selain tentu saja, sebagai mantan ketua DPC PKB, kantong-kantong suara dari loyalis PKB di masa ia menjadi ketua sepertinya masih rapi tersimpan dalam saku politik Haris yang sewaktu waktu bisa ia rapalkan sebagai jimat politik dalam perhelatan pilkada ini, sehingga tidaklah heran jika Azies mengambil upaya oportunis politis yang cermat dengan memilih Haris menjadi partnernya dalam pencalonan di pilkada kali ini. Walaupun tersirat harapan dia bahwa PKB sebagai partai yang membesarkannya memberikan dukungan padanya, namun apa boleh buat legitimasi DPP PKB tidak jatuh pada namanya. Kebesaran hatinya untuk menghormati keputusan itu tak ia lawan dengan letupan pernyataan dan meledaknya ketidaksepakatan, ia mundur teratur karena sadar akan sebuah dinamika politik dan tanpa hingar pernyataan pada partai yang ia besarkan di Tasikmalaya itu, ia bersikap mengambil posisi mendampingi Azies secara elegan, sebuah gaya santri yang luwes, santun namun tanpa meninggalkan pesan politik, bukan pesan “baper” psikologik, bahwa sebuah kekuatan tak bisa diraih hanya dengan kekuatan struktural, ada sesuatu yang lebih massif dari itu, yang dibangun dengan waktu dan rentang perjuangan yang panjang, dan kekuatan yang ia klaim genggam itu adalah kultural.

Demokrasi di Indonesia yang menggelinjang paska gerakan reformasi melahirkan klausul klausul demokrasi yang lebih egaliter, salahsatunya adalah dengan dibolehkannya pasangan independent untuk ikut berpartisipasi atas pesta kebangsaan ini.

Baca Juga :  Mahasiswa Palembang Ajak Warga Sukaasih Jauhi Politik Uang

Di Tasikmalaya, seorang santri dengan kepercayaan diri penuh mendaftarkan diri sebagai calon perseorangan, sebuah sikap gentleman yang patut diapresiasi, sebuah langkah luar biasa yang berani diambil sebagai sebuah keputusan politik. Cep Zamzam Dzulfikar Nur, putra dari almaghfurlah KH Asep Muhammad Saefulloh, pendiri Pondok Pesantren Nurul Wafa Sukarame. Bahkan untuk menempuh proses pencalonan ini, Cep Zamzam harus mengambil konsekwensi yang tidak mudah, mundur dari statusnya sebagai ASN dan mengumpulkan persyaratan pendaftaran calon perseorangan yang juga tentunya tidak sederhana. Sejak mendeklarasikan diri sebagai kompetitor dalam pilkada, ia dengan cepat menggandeng mantan bupati Tasikmalaya, Tatang Farhanul Hakim, sebuah upaya cerdik menjadikannya penasihat dan konsultan pribadi dalam pencalonannya. Sebagai pendatang baru yang pengalamannya masih belum banyak, Cep Zamzam tentu harus lebih fokus dengan kecermatan dan ketepatannya mengatur sistem dan strategi pemenangannya, sebab yang dihadapinya adalah pasangan dari partai politik yang sudah mapan dan berpengalaman. Nyalinya memang terlihat tidak menciut, saat semua partai masih bernegosiasi dan berkomunikasi memutuskan pasangan calon, ia dan tim nya sudah “cekas” bergerak kesana kemari menyusun strategi dan menancapkan titik titik elektabilitas dengan senyap. Namanya mulai dikenal warga Tasikmalaya pelan tapi pasti, dan dengan tegak sampai ke pendaftaran ia maju dengan ditemani mantan sekda Purwakarta, Padil Karsoma, birokrat berpengalaman dengan dedikasi dan prestasi yang juga tak sembarangan.

Bersyukurlah keempat pasangan ini menghadirkan representasi para santri, entitas yang menurut Gus Dur adalah subkultur yang menopang besarnya peradaban Islam dan Pesantren di Indonesia. Karakteristik santri sebagai figur intelektual, religius, namun tak melupakan nilai nilai budaya dengan kearifan dan kehumanisan yang teruji sepanjang waktu adalah modal berharga dalam menghidupkan demokrasi yang lebih elegan, humanis, adil dan bertanggungjawab, sehingga sebagai salahsatu santri yang mengecap banyak berkah dan pergaulan dengan para sahabat-sahabat santri di Tasikmalaya, penulis merasa tidak khawatir bahwa pelaksanaan pilkada serentak di Kabupaten Tasikmalaya akan berjalan dengan situasi yang tidak berkenan. Insya allah, santri santri yang berkompetisi itu akan tahu harus seperti apa pertarungan ini dilakukan, jurus apa yang pantas untuk dipergunakan dan batas batas seperti apa yang layak diupayakan.

Politik tak melulu soal taktik, ia juga harus mempertimbangkan soal-soal sosial ke depan, berikhtiar menjadi pemimpin Tasikmalaya sepatutnya tak akan membuat mereka lupa bahwa ada kawan dan saudaranya yang menjadi kompetitornya, bahwa lawan mereka saat ini adalah kawan mereka sepanjang zaman, teman dimana sebelumnya telah bersama seiring sejalan, membangun diri dan berproses membentuk karakter pribadi. Apa yang sudah dan hendak dicita citakan tak akan membuat cara berkompetisi mereka mengkhianati proses perjalanan dan nurani kesantriannya. Karena diseluruh Tasikmalaya, mereka pun akan berebut hati dan pilihan masyarakat yang sejatinya sebagian besarnya lahir dan hidup dengan cara yang sama seperti mereka, sebagai seorang santri.

Berpolitik tak perlu dengan hati, karena bila seperti itu hanya akan menggenangkan benci, tapi dalam berpolitik jangan lepaskan nurani, agar kemuliaan dan kejernihan tetap tegap berdiri didalam hati. Berpolitik itu seni memformulasi kaidah, jadi jangan dibuat gundah. Berpolitik adalah ring kecerdikan beragitasi, lintasan kelihaian melumpuhkan pendapat lawan tanpa harus membuatnya kelak tak benar benar bisa menjadi kawan, sekaligus medan beradu gagasan yang diargumenkan secara mapan sehingga dialektika memunculkan pertanyaan dan jawaban yang kesemuanya itu hakikatnya adalah titipan sebuah kepentingan, sampai disitu kita sadari bahwa dalam politik kawan tak selamanya lawan, dan lawan tak abadi menjadi saingan, karena substansi berpolitik cuma seutas kepentingan.

Selamat Berkompetisi kawan kawan..

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: