Desa

Petani Desa Rajamandala Kulon Manfaatkan Akar Bambu Cegah Hama Pada Pohon Pisang

BANDUNG BARAT-, Kelompok Tani makmur Desa Rajamandala kulon Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Kini tidak lagi khawatir dengan penanganan Serangan penyakit layu fusarium alias muntaber pada pohon pisang, serta tidak lagi repot untuk mendapatkan pupuk kimia untuk memacu pertumbuhan tanaman.

Kini Mereka sudah bisa membuat pupuk organik yang dapat diolah secara mandiri memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Ketua Kelompok Tani Makmur Irin mengatakan, di daerah cisameng dan bantar caringin desa rajamandala kulon pertanian pisang merupakan sumber pendapatan masyarakat karena harga yang cukup mahal, pemeliharan yang mudah dan dapat di panen 3 tahun berturut-turut, namun menurutnya sejak tahun 90an sampai sekarang produksi pisang di daerah ini mengalami penurunan karena adanya penyakit “muntaber”.

Untuk mengatasi masalah tersebut pihaknya di bantu Patriot Desa yang berkunjung ke kampung halamannya dan menjembatani para petani dengan POPT Cipatat untuk mengatasi masalah tersebut dengan membuat PGPR Akar bambu.

Patriot Desa dan Penyuluh Pertanian ini mendampingi para petani pisang di kampung Cisameng dan Bantar Caringin agar dapat mempraktekan pembuatan Pupuk Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Akar Bambu.

“Semoga dengan metode ini pertanian kami bisa pulih kembali, sehingga kami bisa produksi pisang kembali,” ujar Irin. Jum’at, (30/10/2020).

Patriot Desa Bandung Barat Anwar Fasny mengatakan, Fasilitasi penyuluhan penanganan, pengendalian hama dan percepatan tumbuh tanaman dengan menggunakan metode PGPR Akar bambu ini digelar oleh Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) melalui Penyuluh pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) Cipatat bersama dengan patriot desa, hadir kolaborasi bertujuan menyelesaikan masalah atau kendala khususnya dibidang petanian pada pohon pisang.

Baca Juga :  Inilah Keunggulan Desa Malasari Sebagai Desa Wisata Terbaik di Indonesia

“Agar masyarakat bisa berdaya dengan sumber daya yang ada disekitarnya dengan konsep go to organik secara mandiri,” terangnya.

Penyuluh pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) Cipatat, Eki Samsul Hidayat mengatakan PGPR Akar Bambu merupakan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.

“Selain memacu pertumbuhan juga bisa mengendalikan penyakit secara preventif dan kerusakan pada tanaman, serta dapat mempercepat proses pengomposan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: