©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Jumat, April 26, 2019
Opini

PMII Dalam Naskah Peradaban Bangsa

Oleh: Rusman Nuryadin

59 Tahun PMII berdiri di bumi pertiwi, Dengan membawa narasi perjuangan. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) segera beranjak menapaki usia 59 Tahun, usia yang terbilang cukup matang bagi sebuah organisasi kepemudaan bagi dinamika perubahan negeri ini. Usia yang sudah sewajarnya telah menorehkan begitu banyak catatan sejarah bagi bangsa ini sejak berdirinya 59 tahun yang lalu. Usia yang tidak muda lagi tetapi di rentang 59 tahun ini tetap konsisten dengan semangat mudanya, semangat perubahan, semangat dalam percepatan pembangunan.

Menilik dari sejarah yang ada yaitu 59 tahun lalu, PMII yang merupakan organisasi kemahasiswaan berlandaskan Islam Indonesia merupakan organisasi yang lahir karena panggilan sejarah dan panggilan nurani, disebut panggilan sejarah karena pada waktu itu di dasawarsa 1950-an dimana kondisi sosial politik Indonesia dalam keadaan kacau balau, kaum intelektual (Mahasiswa) yang berlatar belakang kaum Nahdliyin tidak menemukan organisasi yang aspiratif lagi, banyak organ kemahasiswaan yang diharapkan untuk mengawal perubahan lebih memilih berafiliasi dengan partai tertentu, semisal HMI dengan Masyumi, SEMI dengan PSII, KMI dengan Perti dan lainnya. Disebut panggilan nurani karena terbentuknya PMII murni untuk mengusung nilai-nilai religius Ahlussunah Waljama’ah (Aswaja) dan Islam Indonesia yang harus diwadahi oleh sebuah organisasi.

Seiring dengan perkembangannya, PMII yang pada mulanya secara structural masih menjadi bagian dari PBNU, akhirnya harus melepaskan diri dari bagian tersebut. Meskipun sebenarnya antara PMII dan NU ada keterikatan secara kultur, nilai, akidah dan cara berfikir, karena tidak dapat dipungkiri PMII sendiri sebenarnya lahir dari rahim NU. Tetapi sebagai anak tidak selamanya PMII harus terus-terusan berada dalam naungan NU, maka dari itu disinilah yang disebut dengan proses pendewasaan bagi PMII dan di Munarjati, Malang pada kongres ke-3 PB PMII pada tanggal 14 Juli 1972 PMII menyatakan Independensinya dan resmi keluar secara struktural dari NU.

Baca Juga  Mewujudkan Ruang Publik Politis di Tingkat Desa

Jika pada awal kelahirannya PMII melakukan banyak peran strategis dalam membantu menyelesaikan masalah bangsa, sampai saat ini PMII tetap eksis berkiprah di tengah-tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Jika berdirinya PMII, kala itu berarti memiliki hasrat yang kuat bagi mahasiswa NU untuk menyelesaikan karut-marutnya, tantangan politik bangsa dalam kurun 1950–1959 dan tidak menentunya sistem pengelolaan dan perencanaan-undangan saat itu, ini tidak berbeda dengan sekarang. Persoalan bangsa sebaliknya, lebih kompleks dan lebih disukai dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, PMII telah ikut berkiprah memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia.

PERAN IDEOLOGI

Sebagai contoh kecil, kita tahu bahwa pancasila dan UUD 1945 adalah ideologi yang final dan landasan fokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia telah banyak di grogoti oleh kepentingan asing, ideologi transnasional telah masuk dalam sendi kehidupan bernegara merasuk kedalam ideologi dan menjadi pergulatan pemikiran di perguruan tinggi. Disanalah PMII berperan dan menjadi benteng yang kokoh bagi kedalulatan ideologi di Indonesia. PMII ikut serta andil dalam membentengi daya naral mahasiswa dan intlektual muda agar senantiasa menanamkan kecintaan terhadap bangsa.

Pergulatan ideologi dan intlektual dalam ranah mahasiswa sudah mencapai titik ekstreme, ideologi ekstremis dan intoleran yang pada mulanya tercatat hanya dalam buku-buku sekarang sudah nyata terealisasi, banyak gerakan mahasiswa yang sudah nyata-nyata mengproklamirkan sebagai pihak yang menggugat pancasila. Ketidak percayaan terhadap pancasila sebagai ideologi final berbangsa dan bernegara ditularkan secara masif dalam sistem kaderisasinya dan dalam lingkaran serta komunitasnya. Disinalah PMII hadir dengan ideologi ahlusunnah waljamaah akan selalu berkomitmen dalam menjaga kedaulatan ideologi bangsa dan tetap memdeklamirkan pancasila sebagai ideologi yang final.

Baca Juga  Pengaruh kapitalisme di indonesia
PERAN STRATEGIS

PMII dalam narasi pembangunan bangsa telah ikut berperan aktif dalam proses pembangunan dan pengendalian kebijakan publik. Pembangunan yang tidak akan mati dan selalu di tuntut oleh perkembangan zaman yang semakin pesat. Pembangunan yang dimaksudkan PMII adalah pembangun yang berkeadilan sosial berkeadilan lingkungan serta memihak terhadap rakyat. Selain itu, kebijakan publik juga senantiasa PMII kawal sebagai sarana penunjang percepatan pembangunan.

PMII dalam narasi percepatan pembangunan di Tasikmalaya pada khususnya telah ikut andil dalam pengawalan asset daerah, pengawalan perencanaan tata ruang (RDTR), perencanaan pengendalian lingkungan, permasalahan sosial yang berkabat pada pembangunan sumberdaya manusia di Kota Tasikmalaya dan banyak lagi kontribusi PMII dalam narasi pembangunan bangsa dalam rangka memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia.

HARAPAN IDEOLOGIS DAN STRATEGIS

Dalam usia ke 59 tahun ini PMII akan tetap komitmen menjaga kedaulatan ideologi bangsa. Dengan ideologi ahlusunnah waljamaah sebagai landasan berfikir, juga Nilai dasar pegrakan sebagai landasan berpijaknya. ideologi PMII tentunya tidak bertentangan dengan ideologi pancasila yang secara substansial mengandung nilai-nilai tersebut. PMII dengan sistem kaderisasinya dikampus, perguruan tinggi sebagai lumbung intlektual dan mahasiswa sebagai kaum berfikir harus senantiasa dibentengan dari ideologi transnasional yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam usia 59 tahun, PMII juga akan senantiasa berkomitmen dalam pengawalan pembangunan Indonesia dan pengawalan kebijakan publik yang berkeadilan sosial dan berkeadilan lingkungan.

Dari momentum refleksi hari lahir PMII yang ke 59 tahun ini, kita ingatkan narasi yang telah dibangun oleh pendiri PMII dan kader PMII terdaulu sebagai landasan pergerakan, juga kita rancang bangunan gerakan yang kokoh kita hari ini untuk membangun narasi-narasi pergerakan agar bisa dikenang oleh penerus kita nanti. Serta kita perjelas komitment PMII dalam cita-citanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

  • 130
    Shares

Tinggalkan Balasan