Pertanian

Polemik Kartu Tani di Tengah Musim Tanam

TASIKMALAYA – Dunia pertanian sekarang ini sedang hangat memperbincangkan perihal Kartu Tani . Kartu Tani merupakan sebuah media yang disediakan oleh pemerintah dalam hal ini (Kementerian Pertanian) bagi para petani di Indonesia, untuk mempermudah penyaluran bantuan bagi petani yang tentunya akan berjalan dalam jangka waktu panjang, termasuk dalam pendistribusian pupuk subsidi.

Dikutip dari Tribunnews.com bahwasanya Menteri Pertanian menyebutkan “Dengan pola distribusi baru ini diharapkan agar bantuan diberikan kepada pihak yang memang membutuhkan, termasuk bantuan pupuk subsidi”, tentu ini merupakan sebuah upaya baik yang dilakukan pemerintah dalam memperhatikan petani yang patut kita apresiasi.

Adanya Kartu Tani juga sebagai media untuk meminimalisir penyalahgunaan dan penimbunan pupuk subsidi oleh oknum tertentu. Dengan tujuan memperoleh keuntungan yang besar tanpa memperdulikan hal-hal lain yang akan berakibat buruk bagi para petani.

Kartu Tani juga diterbitkan tiada lain sebagai penunjang upaya peningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan dalam memenuhi hajat hidup orang banyak.

Namun, apakah dalam realisasinya adanya Kartu Tani ini menjadi sebuah Langkah yang solutif bagi para petani untuk mendapatkan pupuk secara mudah? apakah kebutuhan pupuk bagi para petani terpenuhi? Apalagi pada bulan Oktober sekarang ini sudah masuk musim tanam padi.

Seperti yang dirasakan para petani di kampung Bihbul Desa Cilumba Kecamatan Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya yang sudah mulai melakukan tanam padi.

Diminggu-minggu ini para petani sudah mulai melakukan olah lahan, terutama bajak sawah untuk ditanami padi. Bahkan di beberapa lokasi pesawahan para petani ada yang sudah melakukan penanaman benih padi. Setidaknya dua pertanyaan ini menjadi representatif dari keluh kesah para petani pada saat ini.

Baca Juga :  10 Provinsi Penghasil Beras Terbanyak

Ujang Dayat, salah seorang petani sekaligus Ketua RT 02 RW 04, merasa kebingungan dengan adanya penomena ini. Ia merasa kaget dengan diberlakukannya sistem pembelian pupuk subsidi dengan Kartu Tani ini.

” Jumlah kuota pupuk subsidi yang tersedia dalam Kartu Tani itu sama sekali belum sesuai dengan kebutuhan” kata Ujang.

Bahkan jumlah yang tertera di data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) itu masih banyak yang tidak sesuai. untuk memenuhi kebutuhan pupuk padi saja sangatlah kurang, apalagi jika mau memupuk kebun yang lain.

“pada musim tanam padi kali ini, para petani dilanda kebingungan untuk memperoleh pupuk, termasuk saya sendiri. Pupuk yang tersedia saja terbilang sangatlah kurang untuk memenuhi kebutuhan pupuk di wilayah kami” terangnya.

Para petani di pedesaan kesulitan dengan sistem baru yang ada.

” Jangankan untuk memupuk kebun, tanaman pakan ternak dan lain-lain, untuk memupuk padi saja kami sangat kekurangan. Terlebih, kami masih harus melakukan transisi dari sistem lama kepada sistem Kartu Tani ini untuk memperoleh pupuk subsidi ini”. Ujar Ujang Dayat. (19/10/2020).

Selain dari ketersediaan pupuk subsidi yang sangat minim, beliau juga mengeluhkan permasalahan lain yang tak kalah penting.

“kebetulan saya juga menjadi pengelola pupuk subsidi, saya merasa sangat kebingungan untuk membagikan pupuk dengan ketersediaan yang minim ini, Sedangkan kebutuhan petani sangatlah tinggi” tutur Ujang.

Saya khawatir, lanjut Ujang, dengan adanya ketidak seimbangan ini, akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan di masyarakat. Terutama kecemburuan sosial antar masyarakat,

” Yaa, kita tahu sendirilah, belum banyak yang faham tentang aturan main pupuk subsidi ini” lanjutnya.

Untuk meminimalisir permasalahan ketersediaan pupuk di masa tanam ini, maka kelompok Pemuda Tani Sawargi berinisiasi untuk membuat pupuk organik yang kandungannya sama dengan pupuk Urea, MPK, serta Phonska. Anwar Sidik, selaku ketua Pemuda Tani Sawargi memaparkan bahwa

Baca Juga :  Dinas Pertanian Pijay Blusukan Basmi Hama Wereng

“selain salah satu Langkah solutif untuk meminimalisir permasalahan ketersediaan pupuk, ini menjadi suatu peluang bagi para pemuda untuk berinovasi menciptakan sebuah karya nyata, serta menjadi peluang usaha yang amat menjanjikan”. Tutupnya.

(Mesa)

Tagas

Tinggalkan Balasan

Close
Close
%d blogger menyukai ini: