©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Nasional

Politik & Hegemoni Simbol Gajah di Desa Tritunggal Jaya

MediaDesa.idLAMPUNG. Patung Gajah itu berdiri kokoh diatas persimpangan jalan di Desa yang dahulu bernama Catur Karya Buana Jaya dan kini berganti nama menjadi Kampung Tri Tunggal Jaya Unit 4 Kabupaten Tulang Bawang Lampung.
Patung Gajah di lampung bukan hanya terdapat di Desa Tritunggal Jaya, jauh-jauh hari sebelum patung tersebut ada di Bandar Lampung, Patung Gajah sudah Sejak lama ada. Berbagai pendapat pun tak dapat dielakan tentang latar belakang keberadaan Patung Gajah di Lampung, baik dari perspektif klenik, sejarah dan realitas sosial politik dibalik pembangunannya. Sejatinya patung seringkali menjadi Simbol keabadian peristiwa realitas dan juga mitos dimasa lampau. Dalam beberapa artefak budaya patung menjadi jejak peristiwa dimasanya, interpretasi kiranya sudah menjadi kemampuan bawah sadar manusia.
Banyak sekali cerita tentang patung yang terhubung dengan peristiwa sejarah ini, baik di dunia ataupun Indonesia. Seperti Patung Proklamator Soekarno, Patung Tugu Tani dan beberapa patung yang dapat kita temukan dalam artefak budaya seperti di beberapa candi, dan tempat bersejarah lainnya.

Setiap patung tentunya memiliki akar kesejarahan yang berbeda satu dengan yang lainnya, selain itu tentu juga memiliki interpretasi yang beragam. Seperti halnya Pembangunan Tugu Gajah yang ada di Desa Tritungal Jaya, menurut salah satu tokoh masyarakat di sana Ustad Asep Zaenal Mutaqin menerangkan keberadaan Tugu Gajah tersebut dilatarbelakangi oleh situasi Pemilihan kepada Desa. “Bahwa saat itu ada seorang pendatang kaya raya dari bogor HM junaedi tak lama kemudian mencalonkan diri jadi kepala Tritunggal Jaya waktu itu lawan nya SLAMET Wachid. Dua jago sangat bersaing ketat. HM. Junaedi membuat inisiatif bikin patung gajah seluruh modal beliau yg mendanai dalam rangka menarik simpati warga. Setelah gajah jadi lalu pildes ternyata junaedi kalah dlm pertarungan. Namun gajah sampai skrg dirawat terus” Pungkas Asep dalam sebuah wawancara melalui WA.
Dalam keterangan lain sebenarnya patung itu sudah mulai dibangun sekitar tahun 87-an oleh R. Suprapto seorang transmigran yang berasal dari Surabaya. R. Suprapto berprofesi sebagai Mantri (perawat kesehatan) satu-satunya yang ada di kecamatan Tunglang Bawang (Dahulu; sekarang menjadi Kabupaten), sehingga masyarakat sekitar memanggilnya “Pak mantri”. R. Suprapto dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai sosok yang serba bisa dan memiliki naluri seni yang tinggi, membuat patung, meubeler, ukiran dan karya seni lainnya menjadi kesibukan tersendiri “Pak mantri”.

Baca Juga  Kritik Terhadap Menkominfo

Kalau dilihat dari riwayat pembangunannya yang pertama, Tugu Gajah ini dibangun setelah Desa Tritunggal Jaya di serang oleh ratusan gajah liar. Gajah-gajah tersebut merusak ladang-ladang milik warga, tetapi tidak sampai jatuh korban jiwa manusia. Kejadian ini berlangsung cukup lama, kira-kira sekitar satu tahun. Kemudian gajah-gajah liar ini dapat diatasi oleh petugas pelestarian hutan dan hewan saat itu.
Mungkin saja peristiwa itu yang telah menginspirasi R. Suprapto untuk membuat Tugu tersebut. Masih lekat dalam ingatan penulis, sebelum Tugu Gajah itu ada yaitu sekitar tahun 1981 berdiri sebuah tugu miniatur tugu monas, namun pada sekitar tahun 1987 tugu tersebut ambruk tertabrak mobil truk. Mengingat banyak perempatan yang mirip didaerah tersebut, Tugu tersebut dibangun sebagai patokan arah menuju beberapa daerah Transmigran lainnya, “Barat simpang penawar…timur ringin sari selatan gedung aji lama utara rawa jitu” Pungkas Asep.
Sebuah karya memang menjadi berharga saat penciptanya telah tiada, kini Pak Mantri Prapto sudah meninggal dunia, namun karyanya masih dapat dinikmati oleh siapa saja, pengguna jalan untuk patokan arah jalan, bahkan warga sekitar untuk sekedar berswa poto. (Andi Ibnu Hadi)

  • 88
    Shares

Tinggalkan Balasan