Opini

Problematika Nikah Dini di Masyarakat

Oleh: Nuril Huda
(Kader PMII, PK Stie Cipasung, Cabang Kabupaten Tasikmlaya)

Pernikahan dini bukan hanya terjadi di dalam kisah sinetron saja. Kasus ini memang nyata terjadi di sekitar kita dengan kuantitas yang cukup tinggi. Di Kabupaten Tasikmalaya tepatnya kecamatan salawu, pernikahan dini menjadi kasus yang sangat serius. Terlebih remaja perempuan yang menjadi sasarannya. Meskipun pemerintah telah mengimbau usia ideal menikah dengan usia 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, tetap saja menjadi hal yang asing.

Sebab Nikah Dini
Bukan tanpa alasan orangtua menikahkan anak gadisnya. Ada beberapa penyebab seperti rendahnya perekonomian dan budaya di daerah Salawu yang menjadi faktor utama terjadinya pernikahan dini. Ketika orangtua merasa anak gadisnya sudah pantas disandingkan sebagai manten, maka dinikahkanlah anak mereka. Terlebih ketika kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan dalam membiayai anaknya untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan serta terhambatnya jalan untuk mengembangkan potensi diri.
Mereka (para orangtua) beranggapan bahwa dengan menikahkan anak gadisnya akan mengurangi beban keluarga, apalagi jika anak gadisnya dinikahi oleh laki-laki yaang cukup mampu, terlebih di jaman milenial ini kebutuhan hidup akan semakin tinggi. Dalam posisi seperti ini, biasanya orangtua akan menyetujui tanpa melihat resiko yang terjadi di usia dini. Faktor budaya di daerah setempat pun yang mendoktrin adanya anggapan “perawan tua” yang menjadi kekhawatiran para orangtua jika tidak segera menikahkan anak gadisnya pada usia dini.
Namun, di lain kasus pernikahan dini terjadi karena adanya isu gerakan nikah muda. Sehingga, para remaja terbawa arus tanpa mengetahui dasar dan pemahaman dalam berumah tangga. Serta, pergaulan bebas yang berujung kehamilan sulit dielakan.
Pernikahan dini hanya akan berdampak negatif jika pasangan tersebut atau salah satu pihak tidak adanya kesiapan mental yang akhirnya berdampak pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga perceraian. Karena pernikahan dilakukan di usia muda seringkali organ-organ reproduksi perempuan belum siap sehingga menyebabkan pendarahan, keguguran, bahkan hingga fatal yaitu kematian calon ibu atau anak.

Baca Juga :  Maulid Nabi Sebagai Refleksi Tahun Politik

Sebuah Solusi
Meskipun pernikahan dini merupakan kasus yang krusial, bukan berarti tidak ada solusi dalam pemecahannya. Menurut saya solusi yang dapat diterapkan diantaranya:

  • Pertama, peran pemerintah yang harus lebih gencar mensosialisasikan tentang pemahaman dan resiko pernikahan dini hingga ke pelosok desa bukan hanya di perkotaan saja, sasarannya adalah remaja dan orangtua.
  • Kedua, pemerintah mengadakan pelatihan kerja, meciptakan usaha-usaha kecil dengan memberdayakan remaja yang tidak melanjutkan sekolah, sehingga dapat menghasilkan keuntungan dan kegiatan tersebut sangat bermanfaat.
  • Ketiga, materi seksualitas dimasukan pada mata pelajaran yang wajib ada di sekolah. Seksualitas bukan berarti mengajarkan untuk melakukan seks, tetapi memberi pemahaman dalam berhubungan yang baik menurut norma yang ada.
  • Keempat, perlu adanya keasadaran masyarakat daerah setempat bahwa pendidikan sangat penting demi keberlangsungan generasi yang lebih baik. Jika permasalahannya hanya karena biaya yang tak mencukupi, bukankan pemerintah telah menggencarkan dana bantuan pendidikan?.
  • Kelima, jika sudah terlanjur menikah, diharapkan pasangan tersebut dapat menjaga rumah tangga dan komitmen dalam hubungan, serta lebih memperdalam pemahaman ber rumah tangga seperti berbagi pengalaman dengan orang yang di tua kan.

Beban hidup akan selalu ada, tetapi bukan dengan cara menikahkan anak pada usia dini masalah akan selesai. Perempuan masa kini telah banyak berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti hal nya pembangunan bangsa yang membutuhkan perempuan yang berwawasan luas. menikah nanti saja, bukankan sudah ada waktunya.

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close