Peristiwa

Proyek Jalan Poros Tengah Garut Serobot Wilayah Tasikmalaya

TASIKMALAYA – Pembangunan jalan poros tengah Garut banyak menuai kritikan dari warga Garut dan juga Tasikmalaya, pasalnya jalan tersebut ada di antara Kecamatan Cilawu dan Banjarwangi. Dan tepat berada di daerah tangkapan air/hulu sungai DAS Ciwulan yang menjadi sumber air bagi areal pesawahan dan memiliki fungsi strategis bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Desa Tenjowaringin, Kabupaten Tasikmalaya.

Bahkan menurut DPRD Garut, proyek tersebut belum memiliki detail engineering desain (DED), dan banyak warganya melakukan penolakan.

“Pada 7 Februari itu kami menerima aspirasi dari masyarakat. Warga di Banjarwangi sudah menolak. Mereka inginnya jalan yang sudah ada ditingkatkan. Bukan membuat jalan baru,” kata Dedi, anggota komisi II DPRD Garut, (2/3/2020).

Anehnya, pembangunan jalan tersebut juga serobot wilayah Kabupaten Tasikmalaya, belum ada koordinasi antara Pemkab Garut dan Pembak Tasikmalaya serta warga yang tanahnya terpakai.

Warga di Kabupaten Tasikmalaya khawatir proyek tersebut akan merusak lingkungan.

Usama Ahmad Rizal, Ketua Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM) Tenjowaringin meminta agar proyek dikaji ulang.

” Terkait adanya lahan warga Kabupaten Tasikmalaya yang dijadikan jalan, saya minta pemerintah terkait untuk mengkaji kembali aturannya” katanya.

Menurutnya, pembangunan jalan poros tengah Garut tersebut terkesan tergesa-gesa dan banyak ditutup-tutupi.

” sehingga memunculkan kecurigaan adanya pelanggaran-pelanggaran prosedur dan ketidakbenaran mengenai pengelolaan program pemerintah dalam pengerhaan kegiatan serta menimbulkan polemik di masyarakat” tambah Rizal.

Senada dengan Rizal, Dodi Kurniawan Ketua Gumati Foundation, Yayasan yang fokus bergerak di bidang sosial, kemanusiaan dan lingkungan, angkat bicara.

” Ranahnya bukan pada setuju atau tidak setuju. Melainkan, lebih kepada sangat perlunya kita memperhatikan AMDAL secara seksama dari pembangunan jalan poros tengah Garut ini” kata Dodi.

Baca Juga :  Banyak Warga Tak Terbagi Bantuan Pemerintah, Ketua RT Ini Berikan Insentifnya Selama Setahun

Bila kita abai akan urgensi AMDAL, lanjut Dodi, tentu saja akan kontraproduktif dengan tujuan jangka panjang dari pembangunan jalan tersebut. Alih-alih membawa manfaat malah merusak keanekaragaman hayati. Sebuah kondisi yang mencerminkan ketidakpedulian kita terhadap isu global warning dan climate change.

Penulis : Mesa
Sumber Foto : Tribunnews

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: