Opini

Rerewodisme

Oleh : Kiki Musthafa

REREWODISME itu berasal dari kata “rerewod” yang artinya mencakar. Jika ada isme-nya, berarti paham tentang mencakar. Kalau yang dicakar adalah dana hibah yang dialirkan ke lembaga-lembaga tertentu, peng-rewod dan penerima hasil rerewod, sama sebagai penganut rerewodisme. Hanya saja ada yang sengaja berkongsi dan ada yang dibodohi.

Dalam beberapa kasus, banyak penerima yang terkelabui dan dimanfaatkan oknum pejabat rerewodis untuk memuaskan syahwat rerewod-nya. Ia hanya menerima jadi, tanpa tahu prosedural dan mekanismenya. Namun, terlepas dari semua itu, disadari atau tidak, rerewodisme adalah embrio bagi lahirnya iblis-iblis baru di lingkar kekuasaan, baik di daerah ataupun di pusat.

Terungkapnya kasus rerewod dana hibah di Kab. Tasikmalaya bisa jadi pintu masuk. Setidaknya, untuk mengungkap rerewodisme lainnya di pundak pemerintahan kabupaten yang diklaim religius karena di pintu dan gerbang instansi-instansinya ditempeli huruf Arab. Religius rasa simbol yang merujuk pada kenihilan dan angka nol, jika perilaku elitnya tak kunjung memanifestasikan religiusitas itu sendiri.

Baiklah, apa pun itu, rerewodisme adalah penyakit menular yang lahir, tumbuh dan berkembang dari sistem yang borok. Prinsipnya adalah uang untuk jabatan dan jabatan untuk uang. Akhirnya, semoga Allah menampakkan orang baik, sebaik-baiknya. Memperlihatkan orang buruk, seburuk-buruknya.[]

Baca Juga  PMII Dalam Naskah Peradaban Bangsa
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close