©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Selasa, Mei 21, 2019
Opini

Rindu Medsos Tanpa Suasana Politik

Oleh : Ajang Kasep

Minggu 21 april 2019, masih berjibaku tentang hasil penghitungan cepat oleh KPU di tataran nasional sampai tataran daerah. Disini kami masih berlindung di bawah atap dan dinding rumah dengan menyaksikan beberapa tayangan berbau politik, tepatnya masih dengan suasana pemilu.

Adanya Pemilu adalah sebagai bentuk realisasi negara berdaulat, salah satu pesta bangsa yang menganut sistem demokrasi. Dari hentakan paku 17 april lalu, adalah masa deg-degannya para kontestan pemilu kali ini, mereka berjuang mendapatkan kursi sebagai wakil rakyat yang akan menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa ini.

Sederet angka dari hasil kontestasi politik, tidak berhasil membungkam kicauan berbagai media guna memprovokasi atau komentar politik dalam bingkai keberhasilan. Rasa-rasanya fase terkahit dari pertarungan politik mereka tidak ada habisnya.

Bisa kita maklumi memang, karena selama ini mereka menghabiskan modal yang tidak sedikit, belum lagi energi yang dikeluarkan dari masing-masing calon dan timsesnya. Ada yang menggunakan uang, kekuasaan, pamor lembaga, fatwa tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Semua dilakukan untuk memobilisasi masa agar mau mendukung jagoannya.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat sudah mulai jengah menyaksikan berbagai kontens panas, menyulut emosi dan membakar amarah antar kedua belah pihak. Mereka mengerahkan segalanya demi memenangkan salah satu pasangan calon yang akan menjadi wakil rakyat. Sampai ada unsur overdosis karena bukan lagi dukungan dan kampanye yang mereka keluarkan. Tetapi ujaran kebencian dan hoax agar bisa menggiring opini masyarakat sesuai dengan kehendak aktor intelektual dibalik upaya itu.

Sementara disisi lain dalam ranah yang non politik, mereka fokus dalam kesibukan masing-masing. Menjadi pelajar, mahasiswa, aktivis, wirausaha, administrator, pekerja, buruh, petani, dokter, mengajar dan lain sebagainya. Tetapi ketika mereka memegang budget, semua berbicara politik yang bukan ranahnya.

Disorientasi topik pembicaraan, sebenarnya bisa memicu perdebatan yang tidak sehat dan pertengkaran yang tidak sebentar. Misalnya, merusak hubungan pertemanan, persahabatan, keluarga, sanak famili atau bahkan hubungan suami istri. Seperti yang dilansir deIka berbenews.com Sebanyak 111.490 suami menceraikan istrinya, dan 307.778 istri menggugat cerai suaminya. Total ada 419.268 pasangan bercerai di 2018.

Sebuah angka yang fantastis. Belum lagi ditambah dengan hubungan keluarga yang tidak ada dilaporkan namun dirasakan oleh masyarakat atau bahkan kita sendiri. Bukankah kita sering terlibat diskusi kecil-kecilan dalam hal ini. Dan tak jarang diantara kita yang meributkan sampai bentrok fisik.

Baca Juga  Radikalisme Agama Di Tasikmalaya Menjalar Sampai Desa

Negara yang berdemokrasi untuk merealisasikan pesta politik belum sampai disikapi dengan cara dewasa bahkan oleh orang dewasa itu sendiri. Mendukung salah 01 boleh, mendukung 02 juga boleh, tapi jangan lupa sila ke 03, persatuan Indonesia. Dimana terdapat kerukunan dan sikap toleransi antara pihak yang berbeda.

Kita mempunyai slogan Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda tapi satu tujuan. Diatas suku yang berbeda, agama yang berbeda, ras yang berbeda. Bahkan jumlahnya ribuan, kita bisa menghormati mereka dengan dalih toleransi. Tapi disaat kita mempunyai pilihan yang berbeda, padahal cuma 2 pilihan. Kenapa rasa toleransi itu seperti sulit digapai? Ada apa dengan bangsa ini?.

Sebuah pernyataan dan statement yang jelas sangat memprovokasi. Kalau si A menang, maka itu adalah curang. Kalau si A kita pimpin perang. Bukankah pernyataan itu sangat melukai semboyan negara kita? Apakah seseorang itu lupa bahwa rakyat Indonesia itu bukan hanya para pendukungnya. Tetapi termasuk lawan politik dan para pendukungnya.

Sikap kebangsaan adalah dengan memiliki sikap dewasa dalam menghadapi pertarungan. Jika menang, maka kita bersyukur. Jika kalah kita bersabar. Kalau kita menang terus kapan bersabar dan belajar? Kalau kita kalah terus kapan kita bersyukur?.

Kita mungkin faham bahwa modal yang dikeluarkan tidak kecil. Ongkos yang yang dibayar jelas mahal. Kalah dan menang adalah konsekuensi. Bagi anda yang kalah dalam arena pertarungan ini, meski tidak berhasil mensukseskan jagoannya sebagai wakil rakyat. Tetapi uang anda berhasil merayakan pesta bangsa. Dan telah berhasil mengikuti ketertiban negara.

Jangan sangka uang yang anda keluarkanutu itu sia-sia belaka. Jika dengan hati yang ikhlas dan doa yang tulus dari masyarakat yang anda kerahkan itu sebetulnya bisa menjadi modal utama penolong anda nanti diakhirat. Apalagi jika diniatkan untuk sedekah dan wakaf bagi layanan masyarakat dan umum.

Tuhan itu maha kaya, bukankah itu adalah ajaran ulama? Lalu kenapa kita resah saat uang kita habis sia-sia?. Tidakkah kita lupa bahwa apa yang kita punya adalah milik-Nya. Dan Ia akan mengambil sesuai kehendak-Nya. Menang dan kalah sudah ditentukan oleh yang maha Kuasa. Maka kekuasaan adalah milik-Nya.

Baca Juga  PMII Dalam Naskah Peradaban Bangsa

Terlalu terpaku dengan kerugian yang kita keluarkan adalah bentuk distorsi keimanan. Apakah kekayaan itu hanya bersimbol dari uang saja? Di kedua belah pihak terdapat sekelompok pendukung yang notabenenya tokoh agama bahkan sebagiannya termasuk Ulama. Seharusnya Ulama itu menjadi kontrol sosial.

Penyemangat dikala beku, dan pendingin dikala panas. Bukan malah sebaliknya, menjadi kompor terdepan yang akan menyulut emosi rakyat. Ulama adalah pewaris para nabi. Orang-orang yang paling takut kepada Tuhan. Bukan malah malu-maluin dengan menyebutnya “Tuhan malu karena tidak memenangkan jagoannya”.

Sudahlah, pertarungan sudah terjadi, hasilnya kita serahkan kepada KPU yang menjadi wasit dalam kontestasi ini. Dulu anda mendaftar disana. Dan anda mempercayakan segalanta kepada pihak penyelenggara. Maka hasilnya pun serahkan kepada mereka.

Andaipun terdapat kecurangan. Bukankah dalam Indonesia ini disamping negara demokrasi juga negara hukum, kumpulkan data, laporkan dan tindak secara konstitusi jika menemukan kecurangan. Bukan malah dijadikan konten berita tanpa konfirmasi kebenarannya.

Jika menganggap orang lain menang dengan curang tanpa argumentasi yang jelas, justru itulah kecurangan. Karena kecurangan adalah suatu perilaku yang berpotensi dilakukan oleh keduanya. Mengingat mekanisme yang digunakan oleh kita belumlah sempurna. Masih banyak kekurangan. Tapi setidaknya, dengan segala kekurangannya, pemilu telah sangat berjasa membangun bangsa dengan mengadakan kontestasi 5 tahun sekali

Segala ketimpangan yang terjadi, adalah bentuk mental yang belum sempurna. Bentuk kejahatan rentan dilakukan karena kesempatan terbuka lebar. Jadi jangan memperkeruh dengan kejahatan berikutnya. Apalagi sampai merusak persatuan dan kesatuan.

Jika memang kita mencita-citakan bangsa yang berdaulat. Mari kita rayakan dengan khidmat. Ikuti prosedur yang ada, terima konsekuensi yang telah disepakati. Karena pemilu bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tapi siapa yang paling dalam menghayati sila ke-4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan.

Cipasung 21 april 2019

Tinggalkan Balasan