Pendidikan

Ruang Kelas Mirip Kandang Ayam Siswa Butuh Sekolah Baru

TASIKMALAYA – Potret Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya baik, di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya terdapat sebuah kisah sekolah dengan kondisi yang memilukan, beralaskan tanah dan beratapkan asbes dan dindingnya terbuat dari bilik bambu.

Letak sekolah ini berada di antara bukit jauh dari keramaian, pepohonan menjulang tinggi mengelilingi sekolah ini, namun dibalik keindahan hijau alamnya masih ada kisah pilu pendidikan.

Sekolah ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Swasta Cilenjang tepatnya berada di Bojonggambir Desa Campakasari Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut M Kamaludin salah satu pengajar di sekolah ini tantangannya adalah tetap berusaha menjaga semangat siswa untuk tetap belajar.

” Yang saya takutkan ada anak-anak merasa minder, bahkan saya juga sebagai guru yang mengajar di sini awalnya merasa minder. Tetapi saya lihat tidak ada yang merasa minder, kita syukuri saja yang ada saat ini yang penting kita belajar, dan jangan pernah ditinggalkan” kata Kamaludin.

” Dulu kata warga, sekolah ini seperti kandang ayam karena atapnya terbuat dari hateup (dedaunan) dan dindingnya dari bambu kemudian beralas tanah” kenang Kamaludin.

Akses jalan menuju sekolah tersebut juga tidak mudah, harus melewati jalan berbatu yang terjal dan berlumpur, hanya kendaraan roda dua yang bisa menjangkaunya.

Ia menuturkan bahwa masih banyak keterbatasan dan perlu dorongan bantuan.

” Swadaya warga di sini sebenarnya kompak, aktif, namun untuk mewujudkan sekolah yang lebih baik masih banyak keterbatasan, masih banyak kekurangan dalam biaya. Keinginannya lebih namun kemampuannya kurang” terangnya.

Apalagi jika cuaca sedang hujan, anak-anak diungsikan.

” Kalau hujan ya basah, kadang kita pindahkan anak-anak dua kelas jadi saru kelas ke ruangan yang teduh karena darurat tidak bisa dipaksakan, namun kegiatan belajar mengajar harus tetap dilaksanakan” tegasnya.

Baca Juga :  Perlunya Penyamaan Persepsi antara Orang tua Murid dan Guru di Sekolah

Anak-anak setidaknya harus berjalan 5 km untuk sampai ke sekolah dari rumahnya. Ada sekitar 60 siswa semua berasal dari 3 kampung yang saling berdekatan. Selain berjalan kaki siswa juga harus berhadapan dengan debu karena beralaskan tanah.

Namun dibalik itu semua terdapat semangat belajar yang tinggi walaupun dindingnya bolong.

“Kami butuh sekolah baru!” Kata anak-anak.

Penulis : Mesa
Sumber : ACTtv

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close
%d blogger menyukai ini: