Peristiwa

Satkorwil Banser, “Kami Sudah Biasa Dicaci. Dalam Sejarah Juga NU Pernah Ditolak Di Garut”

GARUT – Kecaman atas insiden Pembakaran Bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada Peringatan Hari Santri di Limbangan Garut tak menyurutkan langkah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk tetap mengawal Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Garut.

Ditegaskan Komandan Satuan Koordinasi Wilayah (Dansatkorwil) Banser Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi bahwa kejadian seperti ini sudah biasa dialami dia.

“Kami sudah biasa dicaci dimaki dan dihina. Yang bubar bukan kami, tapi mereka. Ingat dalam sejarahnya juga mendirikan NU di Garut pernah ditolak sana sini. Tapi NU tetap berdiri,” kata Yudi, Selasa, 23 Oktober 2018.

Menurut Mantan Dansatkorcab Banser Garut ini, awal pendirian NU mendapat penolakan dari beberapa Ulama Garut yang notabene waktu sudah menjadi pengurus Sarikat Islam (SI) bahkan merangkap jadi pengurus Muhammadiyyah. Salah satunya, kata Yudi, KH Fajri, saudagar Garut yang menjadi pendiri Muhammadiyyah Garut.

“Nah dulu juga sudah seperti itu. NU ditolak oleh sejumlah kiai juga. Jadi jangan aneh kalau situasi saat ini seolah kejadian terulang sampai ada tagar bubarkan Banser segala,” ucapnya.

Yudi pun menuturkan sejarah berdirinya NU di Kabupaten Garut tidak terlepas dari sosok KH Sufyan Munawar yang terkenal dengan nama Muallim Sufyan kelahiran Kuningan 17 Juli 1917.

Sekira tahun 1934, KH Sufyan hijrah ke Garut untuk menuntut Ilmu Agama atau Masantren di Pesantren KH Musthofa Kamil yang juga Pimpinan Syarikat Islam Garut di Ciledug Garut.

Tahun 1937, KH Sufyan menikah degan Siti Zahro yang tiada lain adalah putri KH Musthofa Kamil. Sebagai staff Kantor Departemen Agama, KH Sufyan Munawar sering bertugas ke Kementrian Agama, yang pada waktu itu, Menteri Agama-nya dijabat oleh KH Ilyas.

Baca Juga  Angin Kencang Tumbangkan Pohon, Puluhan Rumah di Banjar Rusak

Merespon situasi yang menimpa Masyumi menjelang akan dibubarkan, KH Ilyas meminta KH Sufyan agar membentuk kepengurusan NU di kabupaten Garut yang padahal KH Sufyan juga pengurus Sarikat Islam.

KH Sufyan mendapat kesulitan karena ditolak sebagian Ulama Garut yang sudah di SI serta Muhammadiyah, kemudian ia menemui KH Anwar Musaddad yang pada waktu itu bermukim di Jogjakarta.

KH. Anwar Musaddad begitu antusias dengan rencana tersebut dengan memberi bantuan sebesar Rp. 2.500,- (Dua Ribu Lima Ratus Rupiah).

Lalu bertempat di rumah Ma Oyoh, Jalan Ciledug Garut, dilakukan pertemuan pertama untuk merundingkan pendirian NU Kabupaten Garut.

“Hadir kala itu KH Anwar Musaddad, KH Badruzzaman dan KH Sufyan. Selesai pertemuan tersebut, KH Sufyan menemui beberapa Kiai di Kabupaten Garut yang berfahamkan Ahlussunnah wal Jamaah (NU), diantaranya KH. Rd. Hidayatulloh dan KH. Toha. Rata-rata para Kiai tersebut merespon dengan baik gagasan mendirikan NU di Kabupaten Garut,” ujar Yudi.

KH. Rd. Hidayatulloh mengumpulkan beberapa Kiai antara lain, KH Tamimi, KH. Mina, KH Furqon, KH Uleh, KH. Abdul Jabbar dan KH. Makmun yang setelah persiapan dianggap cukup, KH Sufyan kembali melaporkan persiapan kepada Menteri Agama sekaligus melaporkan perkembangan terakhir dan Menteri Agama memberikan modal sebesar Rp. 5.000,- (Lima Ribu Rupiah).

Rapat pertama pun dilaksanakan di Gedung Front Nasional di Jl. Ahmad Yani (sekarang Gedung KNPI Garut). Hasil dari Musyawarah tersebut menghasilkan kepengurusan dengan KH. Makmun sebagai Rois Syuriah NU Garut.

“Tapi sempat terjadi persoalan ketika tidak ada Kiai yang sanggup menjadi Ketua Tanfidziah. Termasuk KH Sofyan. Maka hasil Istikharoh KH. Sufyan, H. Sulaeman Afif diangkat menjadi Ketua Tanfidziah pertama di Kabupaten Garut,” tuturnya.

Baca Juga  Buku Menemani Minoritas Membuka Kesadaran Pentingnya Menjaga Keberagaman

Tahun 1960 di Kecamatan Pameumpeuk telah berdiri kepengursan MWC NU Pameumpeuk yang menginduk ke NU Kabupaten Tasikmalaya dengan ketuanya bernama KH Kalyubi.

Setelah mengetahui bahwa di Kabupaten Garut telah terbentuk kepengurusan NU Garut. Maka KH Kalyubi mengikutinya dengan menjadi bagian dari NU Kabupaten Garut. (Mesa)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close