BudayaDesa

Sekilas Mengenal “Seren Taun” Masyarakat Adat Desa Cigugur

KUNINGAN, (MD) – Seren taun merupakan upacara adat sebagai ungkapan rasa bentuk syukur atas hasil pertanian. Upacara masyarakat agraris sunda ini rutin digelar pada 22 Rayagung, bulan terakhir penanggalan kalender Sunda yang ditahun 2018 bertepatan dengan 3 September.

Prosesi berpusat di Halaman Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan/Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan yang merupakan halaman Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah.

Selama enam hari berbagai kesenian adat ditampilkan. Mulai Damar Sewu, Tari Puragabaya Gebang, Tari Kaulinan Barudak Lembur dan Rampak Kendang.

Damar Sewu dengan cara menyalakan api obor pada kuntum bunga teratai yang disebar ke 4 penjuru mata angin yang maknanya menebar harapan.

Kemudian Pesta Dadung, Pembuangan Hama, Penanaman Pohon dan Seribu Kentongan dipusatkan di Situ Hyang dilanjut Rampak Kendang. Siang hari Lomba Nyiblung (permainan musik air) dan Dayung Buyung (Buyung adalah alat untuk mengambil air yang mirip dengan bejana) yang berpusat di kolam ikan Cigugur. Malam harinya diisi Rampak Sekar Murangkalih dan Panglawungan Tembang Sunda berlokasi di Taman Sari Paseban.

Pesta Dadung atau ombyok dadung, acara kesenian dari Legokherang, Cilebak Kabupaten Kuningan dan sekitarnya yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Tujuannya agar para gembala tetap bergairah menggembalakan ternaknya serta gembalaannya tetap sehat dan kuat.

Lalu Upacara kebaktian memberkati dadung (tambang untuk mengikat kerbau atau sapi), pembacaan tulak Allah kepada dadung keramat, acara hiburan tayuban (tarian rakyat). Upacara ini juga dimaksudkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Ratu Galuh yang dipercaya masyarakat setempat sebagai ratu pelindung hewan

Dalam ritual yang digelar di pelataran Setu Hyang tersebut, para petani, gembala dan seluruh lapisan masyarakat diajak merenung atas karunia Tuhan yang telah menciptakan alam semesta yang dihuni oleh berbagai jenis makhluk hidup. Dan dalam menjalani kehidupan ini, seluruh makhluk dituntut untuk saling berdampingan dan hormat-menghormati untuk tercapai kehidupan yang seimbang.

Salah satu ritual yang dilakukan dalam Pesta Dadung adalah ritual pelepasan hama seperti burung, tikus, keong, serangga dan ulat. Makna dari ritual ini, adalah mengajak kepada seluruh umat manusia untuk bijak dalam berkehidupan dan saling menghormati tidak hanya terhadap sesama manusia namun juga terhadap hewan dan tumbuhan, sekalipun yang merugikan seperti hama tersebut.

Baca Juga  Peduli Desa, Dandim 0613 Ciamis Gelar Tanam Padi Serentak

Pelepasan hama bertujuan untuk menjaga keserasian alam karena kerusakan alam bisa jadi disebabkan perilaku manusia yang tidak bisa menjaga keserasian alam dengan merusak dan membinasakan ekosistem satwa tertentu. Padahal keberadaan satwa tersebut memiliki peran yang sebenarnya sangat penting dalam menunjang terciptanya keseimbangan alam.

Hari ketiga diisi baakti sosial pengobatan gratis bersamaan dengan ritual Mesek Pare, sementara pentas kesenian menampilkan Angklung Takol, Gondang, Kolaborasi Angklung dan Tari Napi Beas.

Hari keempat masih dengan pengobatan gratis serta penampilan pentas kesenian tarian Kijang pasang, Srikandi, Merak, Slendang, Mayang Katon dan Mahabrata yang malam harinya diisi Calung dan Tari Karedok Leunca dari Garut, ditutup oleh penampilan Tarian Tarawangsa.

Hari kelima diadakan Serasehan atau dialog budaya dilanjut Helaran Budaya yang puncaknya diisi dengan Tari Jamparing Apsari, Tari Puragabaya, Angklung Kanekes (Banten) dan Angklung Bunci (Cigugur).

Dihari terakhir biasanya para pejabat hadir, seperti pada 3 September 2018 lalu mulai dari Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI Purn. Moeldoko, Plt Gubernur Jabar, HM Iriawan dan Bupati Kuningan, Acep Purnama turut menyaksikan.

Dihari keenam itulah dilakukan prosesi Ngajayak atau tarian menjemput padi. Para penari datang dari empat arah yang menggambarkan emoat arah mata angin dengan 11 pasang muda-mudi bermakna Sawelas (welas asih) sebagai gambaran kemurahan Tuhan. Pasangan muda-mudi itu dimaknai bibit generasi penerus bangsa yang mencintai tanah air dan bangsanya.

Ibu-ibu yang menyumbi padi, menggambarkan indung hakikatnya melahirkan dan mengasuh, membimbing dengan kasih sayang. Indung sebagai lambang ibu pertiwi kita dituntun untuk mencintai ibu pertiwi sebagai negeri tumpah darah. Semangat cinta kasih harus menggelora ke seluruh Nusantara. Penari Bapak-bapak menggambarkan sebagai sosok pemimpin yang membimbing.

Baca Juga  BUMDes Handapherang Ciamis Kelola BPNT

Menandakan ditutupnya seren taun, dilakukan upacara menumbuk padi sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat sementara 2 kwintal digunakan sebagai benih.

Bilangan 20 sendiri merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia yang berjumlah 20 yaitu darah, daging, bulu, kuku, rambut, kulit, urat, otak, paru, hati, limpa, maras, empedu, tulang, sumsum, lemak, lambung, usus, ginjal dan jantung.

*Turun Temurun
Menurut catatan sejarah perayaan Seren taun sudah turun-temurun yang dilakukan sejak zaman Kerajaan Pajajaran. Upacara berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, atau Dewi Padi dalam kepercayaan Sunda kuno.

Kepercayaan ini dipengaruhi warisan kebudayaan masyarakat asli Nusantara, yaitu animisme-dinamisme pemulian arwah karuhun (nenek moyang) dan kekuatan alam, serta dipengaruhi ajaran bercorak Hindu. Dan masyarakat Sunda kuno memuliakan kekuatan alam yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dan kesuburan.

Pasangan Sari Pohaci adalah Kuwera, dewa kemakmuran. Keduanya diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu), melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga.

Upacara seren taun pun bukan sekadar tontonan, melainkan tuntutan tentang bagaimana manusia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ketika menghadapi panen dengan maksud agar diberi perlindungan dimusim tanam mendatang.

Ketua panitia Seren Taun, Dewi Kanti menyampaikan tema seren taun kali ini Memperkokoh adat untuk memperkuat karakter bangsa. Hal itu bahwa maysarakat adat Cigugur sebagai bagian dari bangsa Indonesia memiliki kesadaran untuk mempertahankan nilai-nilai bangsa dan berharap semangat perdamaian, cinta kasih kemanusiaan dan mencintai bangsa terus menyebar dari Desa Cigugur keseluruh Nusantara. Sehingga masyarakat adat Desa Cigugur mendapat hak konstitusionalnya sebagai warga negara yang senantiasa berjuang untuk keutuhan bangsa dan negara. (Doni Sutriana)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close