Budaya

Sembah Agung Penyambung Spiritual Sancang-Cijulang

“Antara Sancang Cijulang
Aya angin ngahariring mawa jangji
Antara Sancang Cijulang
Aya teuteup anu minuhan kadeudeuh

Antara Sancang Cijulang
Aya cinta nu munggaran
Antara Sancang Cijulang
Aya cinta langgeng salawasna..”

Begitulah dua penggal bait lagu “Sancang-Cijulang” yang dinyanyikan, Almarhum Darso.

Makam Sembah Agung, Jalan Batukaras Kampung Pasuketan Desa Batukaras Kecamatan Cijulang menjadi saksi adanya peradaban penyebaran Islam di wilayah Kabupaten Pangandaran.

Konon, di Kampung Pasuketan Cijulang itu jadi tempat interaksi penyebar Islam Mataram, Galuh Pakuan dan Kesultanan Cirebon sekira 1518 masehi.

Ada tiga makam yang sampai sekarang ramai diziarahi yakni makam Sembah Agung (Mataram), Sembah Wangsa Manggala (Galuh Pakuan) dan Sembah Tafsirudin (Cirebon) yang kata cerita masyarakat tiga penyebar Islam tersebut memiliki ikatan emosional dan spiritual dengan penguasa Hutan Sancang, Prabu Siliwangi.

Istilah Sancang-Cijulang pun muncul karena ikatan batin antara Prabu Siliwangi dan Sembah Wangsa Manggala yang sama-sama keturunan Galuh Pakuan. Sembah Wangsa Manggala diidentikan Harimau Putih begiutpun dengan Harimau Putih Siliwangi.

Maka tak heran kalau di Cijulang, tumbuh juga Pohon Kaboa yang sama halnya tumbuh di Pantai Sancang Desa Cibalong Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut.

Di hari tertentu, Harimau Putih tersebut saling mengunjungi satu sama lain. Keduanya disebut penjaga “ghaib” Makam Sembah Agung, serta penjaga wilayah Sancang.

Mengenai Sembah Agung Mataram sendiri sebetulnya nama samaran. Ketika berpindah tempat, ia berganti nama seperti di Parigi menjadi Tubagus Parigi, begitupun ke tempat lain disebut Sembah Janglangas. Sembah Janglangas ini memiliki tiga putra yakni Aljangpati, Jangsinga dan Jangraga.

Namun, mitos orang tua dulu bahwa sebetulnya ada yang lebih tua dari sembah Janglangas yaitu Aki Geude yang katanya muncul ketika Kerajaan Sunan Manggala.

Baca Juga  Dzikir Bersama Jaga Ketentraman Galunggung

Semuanya itu keturunan Sunan Gunungjati Cirebon sehingga yang disebut “kecijulangan” itu, Sembah Agung atau Sembah Janglangas tadi. Maka setiap malam Jum’at kliwon di komplek pemakaman tersebut selalu ramai penziarah. Terjauh dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Karawang Jawa Barat.

Peziarah selalu diberitahu kuncen untuk berdzikir sesuai amalan yang biasa dilakukan yakni kalau Sembah Agung sukanya Surat Alikhlas, Sembah Wangsa Manggala Asmalul Husna, sementara Sembah Tafsirudin dengan Solawat.

Kebiasaan peziarah tidak dibatasi seperti di Pemakaman Syeh Abdul Muhyi. Di makam Sembah Agung, diperbolehkan merokok asal menjaga kebersihan.

Untuk tiba ke Pemakaman pun tidaklah sulit. Kondisi jalan lumayan baik karena perlintasan objek wisata Pantai Batu Karas. Pelataran parkir cukup luas, ditambah warung-warung untuk keperluan ziarah.

Hanya sayangnya, pemakaman yang diperindah tahun 1996 ini belum tersentuh pemerintah padahal peziarah datang dari berbagai kota kabupaten di Jawa Barat dan luar Jawa. (Jani)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close