Siapakah Kita?

MediaDesa.id – Dalam hidup, kita tidak akan pernah menemukan manusia yang hidup kekal selamanya di dunia. Fir’aun sekali pun yang pernah mentahbiskan dirinya sebagai Tuhan semesta ini, tetapi pada akhirnya tidak mampu menghadapi takdir Allah atas hidupnya. Namun sungguh mengherankan di hari ini, tatkala masih saja banyak manusia yang mengikuti jejak Fir’aun, dengan menjadikan harta, pangkat dan jabatan sebagai Tuhan-nya. Mereka nyaris tidak peduli, bahwa apa yang ia upayakan sebetulnya hanyalah sebuah hiasan belaka yang bersifat fana. Namun kenapa banyak di antara mereka yang mengejar pernik kehidupan seolah akan abadi dalam dunia ini.

Seharunya sebagai manusia harus sadar, bahwa sesungguhnya ia telah melakukan perjanjian dengan Allah sebelum terlahir ke dunia? Perjanjian yang berisi pengakuan manusia terhadap ke-maha Esaan Tuhannya. Sebuah perjanjian abadi yang kembali akan kita ungkap dan kita pelajari dalam tulisan singkat ini. Dalam firmanNya Allah menegaskan, “Dan Ingatlah (hai Muhammad), ketika Tuhan mengeluarkan (menciptakan) keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari diri mereka sendiri dengan firmanNya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengakui.” Nanti di hari kiamat kamu tidak dapat mengatakan, ‘Sesunguhnya kami lengah terhadap hal ini (Keesaan Allah).’ Atau agar kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya bapak orang-orang tua kami dahulu yang mempersekutukan Tuhan, dan Kami Keturunan (generasi) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami lantaran perbuatan orang-orang yang sesat (dahulu itu)?” (QS. Al A’raf: 172-173).
Ayat di atas telah jelas menyatakan bahwa seluruh manusia telah melakukan persaksian dengan Allah SWT. Pengalaman yang luar biasa ini telah tertanam dalam jiwa manusia dan menjadi fitrah bagi kehidupannya. Maksudnya, ada sebuah pertanggungjawaban yang memang harus dilakukan manusia setelah habis masa hidupnya di dunia. Rasulullah pernah mengibaratkan, “Manusia di dunia ini tertidur, dan jika mati mereka baru terjaga”. Rangkaian dalih tersebut rasanya cukup jelas bagi kita untuk merenungkan kembali dari mana dan akan kemana kita pergi. Sekarang sudah sepatutnya bagi kita untuk terus intropeksi diri, apa lagi di bulan suci Ramadhan ini yang banyak memberi peluang kepada kita untuk terus merubah keadaan dan tentu berusaha meraih ampunan atas segala kesalahan kita di masa silam. Wallahu’alam. (Usep Ruyani)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close