Sastra

Sisi Air Mata dan Pengharapan Gadis Desa

“Bukan air mata bahagia, bukan pula air mata ucapan selamat untuk menempuh hidup yang baru. Tetapi tangisan bela sengkawa atas gugurnya bunga yang terpetik secara paksa”

***
Kemerahan senja telah memudar, binatang malam mulai riuh bernyanyi menyambut lengkingan adzan yang berkumandang. Suaranya mendayu-dayu, kadang redup kadang mengeras terbawa hembusan angin yang bertiup hilir mudik. Seolah mengabarkan kabar gembira kepada manusia untuk menunaikan titah Tuhan-nya. Dengan doa dan sujud penuh pengharapan, menjadi laksana cahaya yang akan memecah langit menembus cakrawala tertinggi.
Dibalik rumah petak yang terbuat dari bilik bambu, rumah yang telah lapuk dan mengusam karena termakan lajunya usia. Di jendela kamar terlihat gadis bergamis biru berbalut kerudung hitam yang tengah terpekur dan termenung. Dengan kepala tenggadah sembari menahan dagu dengan kedua lengannya, ia diam dengan raut muka yang menyiratkan setumpuk kesedihan.
“Nak, sudah magrib. Bersiaplah untuk menunaikan salat.”
“Iya bu, sebentar”. Timpal Salma kepada wanita paruhbaya yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.
“Sudah lah, nak. Terima saja lamaran Pak Kardi yang kepala desa itu, kurang apa dia. Sudah kaya, terhormat lagi di kampung ini. Sambungnya lagi sembari duduk disamping Salma.
Suasana sejenak hening setelah Ibu Salma menyebut nama Pak Kardi, nama yang sudah tak asing lagi ditelinganya, nama yang telah menyebabkan nalangsa karena hari-harinya direngut hanya untuk memikirkannya. Nama yang membuat berkelindan dibenak, lalu menghujam jantung membuat hati terenyak. Pak Kardi memang telag menjadi ganjalan hidup Salma,
karena melamuni lamaran Pak Kardi yang tempo hari ia tolak mentah-mentah.
Menolak lamaran Pak kardi tidak sama saat ia menolak lamaran pemuda lain yang bisa ikhlas dan mengerti begitu saja, meski mereka harus pulang dengan sesayat luka yang menganga didada. Menolak lamaran Pak Kardi sama saja menabuh genderang perang. Mengingat perangainya yang begitu buruk, tentu menjadi segumpal kehawatiran yang menyesakan dada atas keselamatan keluarganya.
Pak Kardi Kepala Desa, sekaligus juragan tanah yang merangkap sebagai lintah darah berwujud manusia itu, sosok yang sangat dihormati dikampung ini. Tetapi bentuk penghormatan yang didaulat masyarakat kepadanya, bukan akhlak dan kebaikan yang menjadi latarbelakang mereka menyanjung. Akan tetapi bentuk keterpaksaan, tekanan dan ancaman karena takut menjadi daftar orang yang pernah ia aniyaya.
“Bu, ia memang kaya dan juga terhormat. Siapa yang tak kenal dia, semua orang di desa ini tertunduk padanya, termasuk kepala dusun sekalipun. Tetapi bukan wibawa dan akhlak yang membuat mereka terengkuh menghormatinya, tetapi lantaran kedzhaliman yang tanpa belas kasihan, selalu ia alamatkan pada siapa saja tanpa pandang bulu.”
Sejanak paruh baya itu tertunduk setelah mendapati jawaban yang memang benar adanya, lalu mengambil nafas dalam.
“Nak, ibu tau. Dan ibu mengerti, tapi apa daya, kita hanya rakyat kecil yang hidupnya ditopang pemberian dari belas kasih pembesar. Menolak lamaran Pak Kardi sama saja kita membangunkan murkanya yang sedang tidur, ia akan mencelakai siapa saja yang menghalangi niatnya.
Sudahlah, nak. Anggap saja ini ujian yang Allah berikan untuk kita. Terimalah dia, demi ibu dan juga adikmu yang kesalamatanya ada dijentik jarinya”. Dengan raut mengiba ibu berusaha meneguhkan Salma.
Mendengar tutur ibunya yang mulai lirih karena meraguk nestapa, Salma hanya bisa menunduk dalam. Tampak pendar dibalik manik matanya yang sayu, dan ia mulai berkaca-kaca, hingga jatuh secercak air mata yang sempat tertahan oleh kelopak mata yang sembab karena berusaha untuk tegar. Akhirnya tembok kokoh kesabaran yang ia bangun, runtuh seketika oleh tetesan bening yang menguap menggurat di pipi. Guratan bening itu, sudah cukup mewakili kesedihan hatinya, kesedihan tiada tara karena rasa tak mampu memikul nafas hidup yang rangas. Dipaksa menikah oleh ke-adaan dengan orang yang sejak kecil ia benci, sama saja ia dipaksa harus bercengkrama dengan air mata di sisa hidupnya.
Atap rumah yang sudah lapuk, menjadi serpihan kayu kering saat duka pecah menjadi sebilas doa kepedihan. Kaca jendela kamar yang tertutup pekatnya debu, menjadi bayang luka mencerminkan empunya.
Dalam hati yang kalut, serta mendung yang sudah mulai ia akrabi. Terlintas sosok Ahmad, sosok yang menjadi alasan kenapa ia selalu menyakiti para peria dengan cara menolak lamarannya termasuk Pak Kardi.
Ahmad memang sosok biasa dan sederhana, tidak tampak keluhan meski dia orang yang tak punya. Dia hanya pesuruh di toko kelontongan yang gajihnya tak seberapa, serta jarang ia nikmati karena dibayarkan demi menutup sisa hutang diwarung.
Meski demikian, ia termasuk pemuda yang beruntung. Tidak semua pemuda bernasib mujur, meski Ahmad yang hanya bekerja sebagai kuli panggul di toko, ia berhasil menyelesaikan studi dengan gelar S1. Di fakultas syariah Cipasung yang ia tekuni, membuahkan hasil yang gemilang. Ia mendapat nilai terbaik, mengalahkan fakultas-fakultas lain di kampus Cipasung yang jumlah mahasiswanya lebih banyak dari fakultas Syariah.
Bermodalkan Izasah S1 yang saat ini kesaktiannya tak terlalu ampuh untuk melamar sebuah pekerjaan, setidaknya ada secercak pengharapan untuk merubah hidup kearah yang lebih baik, atau setidaknya pula ia tidak lagi mendaptkan pekerjaan yang setiap malam rasa ngilunya selalu membekas dipundak.
Dan tentu demi Salma gadis yang sangat ia kasihi, gadis yang tempo hari ia lingkari jarinya dengan emas sepuhan yang dibeli dari sisa gajih membayar hutang.
Demi janji yang sudah ia ucapkan untuk meminangnya, janji yang berubah menjadi sebuah pengharapan sekaligus kegelisahan Salma sepanjang waktu. Ahmad memutuskan merantau mencari pekerjaan, di kota yang ia anggap suatu pengasingan karena jauh dari Salma. Tetapi demi masa depan dan kebahagianya, ia harus rela bersabar melawan rasa rindu yang selalu menikam ulu hatinya. rindu yang selalu membangunkannya tengah malam untuk mengadu kepada pemilik-Nya. Rindu yang hanya bisa di obati ketika ia bersama Salma, serta rindu yang hanya bisa diredam lewat poto lusu Salma yang selalu setia menemani dompet kusamnya.
***
Lengkingan adzan kembali menderu, pagi buta dibuka dengan nada keagungan yang syahdu. Suara panggilan Tuhan itu, tak pernah berhenti semenjak pembawa kabar gembira sang Nabi menitahkan untuk sujud lima waktu. Nada penuh cinta itu mengusik ketenangan embun yang dingin. Seperti sentuhan kelembutan Tuhan membangunkan, seolah ia begitu rindu kepada hambanya untuk lekas-lekas bertemu diperaduan sujud.
Salma masih tetap seperti biasa, terdiam, membungkamkan mulut untuk berkata. Ia sudah bangun terlebih dahulu, mengalahkan ayam yang biasa mendaului manusia untuk mengais rejeki.
Tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar keras. Ketukan itu menguncang-guncang pintu yang sudah lapuk seakan ingin melompat dari cengkraman engselnya, pengait pintu yang tak kalah lapuknya dengan papan yang tak layak disebut pintu.
Dan ketukan suara keras itu, menyiratkan sosok yang tak memiliki sopan santun yang selalu didengung-dengungkan saat Salma masih duduk di sekolah dasar.
Sejurus kemudian, dengan raut wajah yang kesal, ia beranjak keruang tengah dengan berniat membukakan pintu, sekaligus ingin tau siapa orang dibalik pintu yang tak memiliki tatakrama itu.
Namun ia sudah mendapati ibunya didepan pintu, dengan raut mimik yang sama seperti Salma, ia langsung membuka pintu yang hanya dikunci dengan sebilas bentangan kayu.
Namun amarahnya meredam saat ia tahu dibalik pintu tersebut adalah Karman dan Burhan, dua sosok yang sudah tak asing lagi bagi Salma dan ibunya. sosok yang selalu setia menemani kemanapun Pak Kardi pergi. Sosok garang berwajah dingin itu, selalu didampingi golok yang terselip dipingang. Entahlah, sudah berapa orang yang menjadi korban mereka.
Tanpa basa basi ia langsung menerobos masuk kedalam rumah, dengan kaki sebelah menginjak kursi ia berujar.
“Mana hutangmu beserta bunganya, hey perempuan tua!! Jika hari ini kamu tidak mampu membayarnya, dengan sangat terpaksa kamu harus mencabut perkataan anakmu yang menolak lamaran Juragan Kardi.” Ucapnya mantap, dan cukup menguncang batin Salma.
“jatuh tempo hari ini!! dan jika siang nanti kamu tidak mendatangi rumah Pak Kardi untuk membayar hutang, itu tandanya kamu menerima lamaran Pak Kardi.” Dan Pak Kardi beserta penghulunya akan datang kesini untuk menikahi anakmu”. Tatapannya tajam, seoalah kedua bola matanya ingin keluar dari ceruknya. Perkataannya meski dengan nada ponggah, namun ucapanya begitu merobek-robek organ pital Salma. Ia hanya bisa pasrah akan takdir yang menimpanya. Meski pait, ia harus sabar meneguk getirnya suratan yang sudah menjadi nasib, sebuah nasib yang ia anggap tak berpihak karena merengut kebahagiaan dan masa depanya bersama Ahmad.
***
Senja itu ia hanya bisa diam, saat pakaian pengantin membalut tubuhnya. Bukanlah kebahagiaan yang ia raih, seperti para gadis pada umumnya yang bahagia karena disunting oleh pemuda yang menjadi dambaan hatinya.

Tak ada air mata yang biasanya selalu setia mengiringi kesedihannya, sepertinya telah mengering, atau mereka tak tega hadir hanya untuk mengantarkannya kepada jurang kepedihan tiada tara. Mungkin pula tangisannya telah berpindah dalam relung hatinya yang paling dalam, yang tangisannya lebih menyayat, dan kerasnya melebihi jeritan seorang anak yang ditinggalkan seorang ibu untuk selama-lamanya.

Ia telah menyerah, duri tajam yang selalu melindunginya dari jamakan tangan kotor, kini telah patah tak tersisa. Ia seakan diambang kelayuan, dan berakhir pada seonggok bunga kering tak berharga.
Ijab kabul yang lantang dilantunkan Pak Kardi, menjemput air mata ibu dan tetangga salma yang hanya bisa menjadi saksi kemalangan seorang gadis muda. Bukan air mata bahagia, bukan pula air mata ucapan selamat untuk menempuh hidup yang baru. Tetapi tangisan bela sengkawa atas gugurnya bunga yang terpetik secara paksa.
Sementara dibalik pintu ditengah kerumunan warga kampung, terselip sosok Ahmad yang mematung dan membisu. Mengengam kain pengantin yang terbungkus kado layaknya hadiah ulang tahun.
Salma dan Ahmad hanya bisa saling menatap dan beradu pandang, sebuah tatapan yang penuh dengan kerinduan yang amat sangat.
Sesekali Salma tertunduk disamping Pak Kardi dengan bahu tergucang, dan Ahmad yang masih terpekur didepan pintu bersama warga kampung lain hanya bisa diam.
Sejurus kemudian, ia menempelkan sebuah telunjuknya di atas lipatan bibir. Seolah ia tengah berusaha menghentikan tangisan yang meremukan seluruh tubuhnya.
Ahmad tersenyum, senyum yang sudah pasti berupa penyamaran dari tangisannya demi meneguhkan hati Salma. Lalu ia pergi dengan membawa gores hitam didadanya. Dan Salma pasrah menyaksikan Ahmad yang menghilang ditelan kerumunan. dia sadar melupakanya hanyalah sebuah keniscahyaan dan kemustahilan. Karena derap langkah sejauh mana ia pergi, ia akan membawa hati dan cintanya berkelana. Setelah itu, Ahmad kembali pergi merantau ke kota. Dan kabar yang beredar, hingga kini ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya. (Usep Ruyani)

Baca Juga  Pohon Kristen?
Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close