AgendaNasional

Siyasah Nahdliyah Dalam Sorotan

MediaDesa.idCIAMIS. Pasca pendaftaran pasangan calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) pada perhelatan Pemilihan Presiden 2019 yang akan datang, banyak berbagai wacana sampai pembentukan opini publik yang dikembangkan oleh masing-masing pihak pendukung paslon. Meskipun tahapan kampanye belum dijadwalkan tetapi gejolak persaingan sangat terasa. Ini semua tidak lepas disebabkan karena sejarah terulang kedua kalinya, dimana capres pada pilpres tahun 2014 lampau kini kembali berkompetisi, yaitu Joko Widodo dengan Prabowo Subianto.

Publik yang intens mengikuti informasi melalui sosial media tentu semuanya mengetahui, dimana Joko Widodo sang Incumbent banyak ‘dipinang’ oleh ketua umum partai koalisi diantaranya A. Muhaimin Iskandar (PKB), Romahurmuziy (PPP), Airlangga Hartarto (GOLKAR), Mahfud MD (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi) meskipun yang terkahir bukan ketua partai akan tetapi masuk dalam list-nya Joko Widodo. Namun, siapa sangka pada detik-detik terakhir penetapan cawapres Joko Widodo, diantara ketua umum partai yang disebut diatas tidak ada satupun yang jadi pendamping sang Incumbent tetapi secara mengejutkan nama KH. Maruf Amin-lah yang diputuskan oleh Joko Widodo sebagai Cawapres pendampingnya.

Keputusan tersebut tidak tanpa melalui dinamika yang cukup keras terutama dipihak pasangan Joko Widodo dan KH. Maruf Amin. Berbagai rumor mencuat ke Publik mulai dari menyoal politisasi ulama sampai perlakuan Joko Widodo yang dianggap ‘mem-PHP-kan’ Mahfud MD, Sampai-sampai dalam salah satu program televisi dibahas dan cukup mengegerkan publik terutama yang disebutkan terakhir. Pertanyaan demi pertanyaan muncul atas dinamika diatas.

loading...

Merespon isu yang sangat hangat diatas, PCNU Kabupaten Ciamis berinisiatif untuk mengadakan kegiatan yang berjudul Halaqoh Kebangsaan : Siyasah Nahdliyah dalam percaturan politik nasional dan global, dengan menghadirkan narasumber Iir Abdul Harits, M.Ag seorang akademisi UIN SGD Bandung sekaligus dewan pakar PW ISNU Jawa Barat, (19/08/2018). Kegiatan tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Quran Cijantung. Pengasuh Pondok Pesantren Cijantung, KH. Asep Saeful Milah, sangat mengapresiasi kegiatan halaqoh tersebut “tema kegiatan ini dengan kata siyasah nahdliyah sangat luar biasa dan cukup berani sehingga ini patut untuk menjadi perhatian bagi warga nahdliyin” dalam sambutannya. Ketua PCNU Kabupaten Ciamis, KH. Agus Abdul Kholiq Siradj, mengatakan “kegiatan ini sengaja diselenggarakn sebagai upaya untuk menyampaikan beberapa pemahaman tentang politik warga nahdliyin, yang pada kesempatan ini diangkat dengan istilah Siyasah Nahdliyah, ini tentu sangat penting karena sering disalahpahami oleh berbagai pihak terkait manuver politik warga nahdliyin maka perlu adanya pemahaman yang mendalam”. Narasumber Halaqoh Iir Abdul Harits, M.Ag, menjelaskan tema diatas dengan berangkat dari historisitas NU dalam dinamika politiknya, mulai dari masa orde lama dengan penerimaan NASAKOM-nya sampai pada orde baru, yang menarik dari pemaparan materi halaqoh, narasumber menawarkan salah satu pendekatan dalam memahami ijtihad politik warga NU yaitu pendekatan Khidriyah. Pendekatan ini diilahami dari sejarah Nabi Musa menghadapi prilaku nabi Khidir yang sulit diterima akal padahal sangat rasional.

Beliau menjelaskan bahwa “metode pendekatan Khidriyah menitik beratkan pada kesabaran si penerima pesan supaya jangan gegabah menilai, sehingga buah kesabaran tersebut akan menuai makna yang sesungguhnya atas apa yg sulit difahami sebelumnya, seperti apa yang dilakukan Nabi Musa terhadap Nabi Khidir, berhubung di NU itu banyak hal-hal yang bersifat kontroversial, maka harus sabar” jelasnya sambil bergurau.

Dalam memahami dinamika politik di Republik ini harus memperhatikan geopilitik, geoekonomi global sehingga mampu bersikap secara tepat, “warga Nahdliyin harus melek terhadap wacana-wacana dinamika politik global, diakhir zaman ini kita harus serba hati-hati dalam bersikap sehingga membutuhkan pembacaan batin sekalipun dalam menghadapi berbagai hal, jangan terlalu mengandalkan sosial media apalagi sampai pada Pesan Nabi pun dita’wil melalui sosmed,” pungkasnya. (Miftah)
Baca Juga  RDPU PPDI dengan Komisi II DPR RI
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close