DesaInspiratif

Tangan Yusuf Ubah Keripik Singkong Tembus Ekspor Tiga Negara

“Lamun Keyeng Tangtu Pareng”. Begitulah pepatah orang tua agar konsisten menjalani suatu pekerjaan sehingga suatu saat pasti berhasil.

Melihat potensi usaha, memang tak perlu jauh ke kota atau luar negeri karena disekitar kita juga banyak. Contoh singkong yang meski kian hari dilupakan, tapi kalau diolah secara tepat dapat menjamin kesejahteraan.

Adalah pemuda Desa Citeureup Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis, Yusuf Ramdani yang berhasil mengubah jalan hidup dia dan warga sekitar. Ia menyulap singkong jadi makanan olahan dengan kemasan kekinian.

Olahannya pun sudah menembus tiga negara yakni Taiwan, Singapura dan Malayasia serta menyebar di ritel-ritel pulau Jawa. Bahkan berencana menembus Pasar Eropa.

Omset Perusahaan bertambah dari semula hanya Rp 400 ribu menjadi Rp 400 juta dengan pendapatan kotor perbulan mencapai Rp 400 juta sampai Rp 1,2 miliar. Termasuk mampu membayar gaji warga Rp 70 juta perbulannya.

Fantastis memang, keuletan dan konsistensi pemuda 24 tahun ini telah membawa sebagian warga Desa Citeureup berpenghasilan diatas rata-rata Upah Minimum Kabupaten Kota, dan telah dilirik Pemerintah Desa menjadi prodak unggulan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), serta Forum Bumdes se-Kabupaten Ciamis.

Dan Yusuf pun mengaku dari jerih payahnya itu telah memiliki rumah sendiri, dua mobil pick up dan empat unit motor untuk bekal menikah kelak.

*Awal Mula
Kala itu sekira tahun 2014, Yusuf melihat panen singkong di desa melimpah. Namun harga pasaran sangat murah yang satu kilogram saja dihargai Rp 300 sampai Rp 400. Para petani pun mengeluh karena biasanya bisa menembus harga Rp 1.500 an perkilo.

Diputarlah otak Yusuf bagaimana caranya harga singkong bisa menjadi penghasilan warga yang layak. Keluarlah ide dijadikan keripik yang tentunya harus dikemas baik dengan rasa yang cocok dilidah masyarakat perkotaan.

Baca Juga  Kepala Desa Resah Sering Didatangi Oknum Wartawan

Pertama kali ia membeli satu sampai dua kilogram, kemudian diolah sendiri dengan menggunakan wajan. Pikirnya itung-itung buat cemilan tamu yang datang ke rumah saja.

Lama kelamaan, banyak tamu memberi penilaian yang katanya kenapa tidak dikembangkan jadi usaha. Lalu Yusuf pun mengemasnya dalam plastik biasa, dijual ke warung-warung terdekat seharga Rp 3 ribu per 50 gramnya. Pola ini terus berlangsung sampai 2016.

Beruntung Bumdes Citeureup menggandeng dia agar membuat kemasan sendiri seperti kemasan makanan supermarket. Keripiknya diberi merek dengan nama “Beledag Jagara” yang arti Beledag sebagai reaksi ketika dimakan karena renyah serta Jagara, singkatan dari penjaga rasa.

“Jadi istilahnya pas dikunyah langsung ngabeledag lidah karena rasanya memang beda dengan yang lain. Keripik ini memakai bumbu-bumbu asli nusantara seperti kencur, daun jeruk, bawang putih, cabe, dan garam tanpa ada bahan kimia sedikitpun,” katanya.

Harga yang semula Rp 3 ribu pun dinaikan menjadi Rp 5 ribu yang kalau dijual ke ritel-ritel menjadi Rp 10 ribu. Tapi harga pabrik tetap Rp 5 ribu.

“Kalau ke konsumen Rp 10 ribu, kecuali yang beli ke pabrik Rp 5 ribu. Jadi bagi-bagi untung dengan penjual,” ujarnya.

Perusahaan terus berkembang, sampai tahun 2018 ini bisa merekrut sebanyak 40 karyawan. Mereka dibagi-bagi pekerjaan, ada yang dipengolahan mentahan, pembumbuan, pembungkusan dan pemasaran. Perhari 400 sampai 700 kemasan keluar, yang dalam satu bulan mencapai 12 ribu sampai 21 ribu picis dipasarkan.

Kemudian majunya teknologi dengan perangkat internet dan media sosial dimanfaatkan Yusuf sebagai alat pemasaran. Sampai Keripik “Beledag Jagara” ini telah beredar di tiga negara tadi dengan pesanan pertama ke Taiwan saja 1000 picis seharga Rp 50 juta.

Baca Juga  Menangkal Black Campaign, PPDI Kab. Tasikmalaya Adakan Kemah Bakti Desa Inklusi

“Wajar laku karena mereka disana pakai dolar sehingga keuntungan bisa berlipat gandi,” tuturnya.

Kedepan, Yusuf ingin pensiun diusia muda dalam artian bagaimana caranya Keripik Beledag Jagara menjadi pendapatan pasif dia sehingga bisa mengembangkan usaha lain. Pasalnya ia tak merasa puas dengan keberhasilan ini kalau melihat potensi alam lain yang jika diolah secara benar dan konsisten bisa mengubah hidup siapapun.

“Kalau mengejar teknologi, rasanya kita sudah ketinggalan. Sekarang bagaimana mengolah hasil alam kita dengan memanfaatkan teknologi untuk pemasarannya,” kata Yusuf. (Mesa-Advetorial)

Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close