Sastra

Terusir

MediaDesa.id“Ia lebih memilih mengalah dari pada harus mendapatkan murka Tuhannya, meskipun itu haruslah mengorbankan perasaannya jua”.
***
“Andai saja engkau berada dismpingku, dan ridha Ilahi datang mengilhami insan muda seperti kita, tentu diriku tidak akan terjebak pada jerat setan dengan segala tipu dayanya yang melenakan”. Gumamnya dalam hati Aminudin yang sendu.
“Kapankah kau pulang dari tanah rantau dalam mengais ilmu, Dik. Tidak! bukan, bukan aku bermaksud melarangmu untuk mencari cahaya ilmu. Akan tetapi, kau pula jangan lupa atas diriku yang tengah menanti dengan harap cemas seperti ini”.
Seruling pajar mengayun dengan syahdunya, lengkingan adzan menggema di desa Kedung yang hening.
Suaranya sayu, memecah suasana lelap. Aminudin beranjak dari tempat tidurnya, berjalan agak sempoyongan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sejurus kemudian ia hamparkan sajadah di samping ranjang tempat tidurnya, lalu ia tunaikan salat fardhu Subuh, ia langitkan doa pada Aidah yang jauh disana.
***
“Duhai Rabbi, pemilik siang dan malam yang tidak pernah tertidur walau sejenak. Ketika kuasaMu meliputi alam semesta, di sudut bumi ada hambaMu meminta belas kasih dan pertolonganMu saat ini. Duhai Engkau dzat yang Maha tau, walau bisikan hati yang tak bersuara sekalipun. Sudah empat tahun hambamu ini menjalin kasih, tentu Kau tau pula bagaimana beratnya melabuhkan rasa tanpa memilikinya dengan utuh. Hamba tidak tahu, apakah perasaan hamba atas karuniaMu, apakah cinta hamba dalam ridhaMu, ataukah kebalikan yang hamba dapat dariMu, ialah murka yang tak mungkin hamba mampu hadapi”.
Kidung langit terpecah dua, jutaan malaikat berhamburan mengelilingi rumah petak. Dalam bilik tersebut, sebilas cahaya putih memancar melebar, lalu mengarah lurus ke langit.
***
Di rumah Aminudin nampak gaduh,
“Aslina, tidakkah kau malu pada Allah atas perbuatanmu. Kita bukanlah muhrim. Pakailah kembali pakainmu, aku tidak akan sanggup menanggung siksa atas Allah lantaran dosa-dosaku”. Aminudin tersudut dalam tembok kamarnya, sambil kedua tangannya menutupi raut wajah yang tengah panik. “Kau, kenapa bisa masuk kedalam kamarku. Pergilah, sebelum aku berteriak agar semua orang tau akan kelakuanmu!”, Sentak Aminudin pada Aslina janda cantik beranak satu itu.
“Dasar kau lelaki munafik, ayo teriak! Aku tidak takut!”. Aslina menentang Aminudin yang mulai menggigil tercekik oleh perasaan yang tak tentu.
” Ayolah Aminudin, aku sangat menyukaimu! Semua lelaki di desa ini banyak yang berharap padaku, mengejarku dan bahkan ada pula yang tergila-gila padaku. Singkirkan kemunafikanmu yang berkedokan sorban itu, aku yakin kau pun menginginkanku, karena tatapanmu siang tadi, seperti kau begitu menginginkanku”.
Aminudin semakin tersudut, ketika Aslina menyentuh bahunya. Bibirnya kumat kamit memanjatkan sebilas doa dengan terbata-bata, tubuhnya terguncang. Dadanya sesak.
Pergolakan batin terjadi dalam jiwanya, setan agaknya terus memperdaya agar ia melakukan perbuatan keji dengan Aslina. Darahnya mengalir dengan cepat, diringi dengn denyut jantung yang begitu hebat ketika Aslina mulai membuka pakainnya.
Sejurus kemudian, setengah telanjanglah Aslina, tepat dihadapan Aminudin. Lalu Aslina menariknya, Aminudin pun jatuh tepat di bawah lantai dengan tindihan tubuh Aslina. ”Ayo sayang, kita nikmati malam ini”. Aminudin mulai meronta, namun tangan Aslina dengan kuat memegang bahunya. Nampaknya Aminudin mulai kewalahan untuk melawan kekuatan setan yang ada dalam tubuh Aslina. Namun keyakinan yang kuat, serta pintasan bayangan Aidah dalam benak, membuat Aminudin kembali menemukan keperkasaannya sebagai lelaki. Ia hempaskan Aslina dari tubuhnya. Ia berusaha bangun, dan di pegang dinding kamar untuk jadikan penyangganya berdiri.
“Iblis apa yang merasuki tubuhmu, hah! Akan aku beberkan semua kelakuanmu pada warga kampung ini, aku bukanlah manusia rendahan yang bisa seeanknya mengikuti nafsu bejatmu”. Aminudin berjalan meninggalkan tubuh Aslina yang sudah setengah telanjang itu menuju luar rumah.
Namun dengan cekatan, ia langsung berlari menyusulnya dari belakang menuju pintu depan dan berteriak-teriak minta tolong dengan suara yang amat nyaring. Tak khayal, datang beberapa orang berbondong-bondong menghampiri mereka berdua.
“Ada apa?” Tanya seseorang yang datang dari arah smping rumah Aminudin. Aslina duduk berjongkok menangis dengan telapak tangan menutupi wajahnya.
“Katakan ada apa ini? Dan kenapa engkau tidak menggunakan pakainmu dengan utuh Aslina”. Teriak lagi seorang lelaki paruh baya itu, dengan leher dililit kain sarung sembari tangan menjinjing lampu senter. Lalu sejurus kemudian, berdatanganlah penduduk kampung Kedung dari beberapa arah menghampiri rumah Aminudin. Mereka berkumpul mengepung.
“Hey, ada apa!” Sentak lagi, seseorang yang sejak tadi terus bertanya. Aslina bangkit, diambilnya Kain yang ada dalam gengamannya, lalu ia gunakan untuk menutupi tubuhnya sambil terisak,” Tolong saya, saya mau diperkosa!”. Langit seolah runtuh menimpah pemuda itu, ketika ia mendengarkan ucapan Aslina yang tanpa peduli memfitnahnya dihadapan warga kampung.
Tampak terdengar, beberapa kaum wanita dari salah satu kumpulan itu berdesus-desus membisikan sesuatu hal. “Benarkah apa yang kau katakan? Janganlah kau berkata sembarangan pada Aminudin, apa lagi ia terkenal seseorng yang saleh dan alim di kampung ini”. Tutur lelaki paruh baya itu yang sejak tadi ada disamping Aminudin.
“Hey kau, bukti apa lagi yang harus aku nampakan agar kalian mempercayaiku. Jelas diriku dalam keadaan tidak berpakaian, serta beberapa luka dalam tubuhku, ini dilakukan lelaki bajingan bernama Aminudin”. Raut wajah Aminudin memerah, ia ucapkan Istigfar dalam hati sambil menghela nafas dalam. ” Kau jangan berkata sembarangan, jelas kau datang kerumahku tanpa seijinku, dan tanpa aku tau kau sudah berada dalam kamarku. Kau menarikku, kau buka pakaianmu dihadapanku. Kau menghempaskan diriku kelantai, lalu kau tindih dengan tubuhmu. Dengan ijin Allah, aku bisa mengalahkan setan yang menjelma sosok manusia seperti kamu, dan menghancurkan iblis yang merasukimu!”.
Aslina bangkit, “Lantas luka yang ada dalam tubuhku, apa kau bisa menjelaskan? sentak Aslina bernada ponggah sambil memegang lengan yang memar”. Aminudin terdiam mematung, sulit rasanya menjelaskan semua kejadian yang hanya sepintas. Entahlah, mulutnya terasa berat berkata. Dalam hati tiada henti ia berdoa meminta pertolongan Allah atas segala fitnah nyata yang menghampirinya ini.
“Jawab Aminudin!” Bentak salah satu warga itu. Aminudin masih saja teridam, mungkin hatinya masih diliputi amarah, hingga membuatknya sulit betutur dengan jelas. “Sudahlah, kita bahlwa saja Aminudin ke balai desa!”. Timpal penjaga ronda itu sembari menariknya. Dan ia tidak beradaya dengan semua ini. “Dimana Engkau ya Allah” lirihnya dalam hati. Tampak Aslina tersenyum puas, dan picingan puluhan mata kebencian pun langsung seketika menyamatnya.
***

“Ya Allah, hamba yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Engkau Tuhanku yang Maha penolong. Tiada satupun, yang hamba ragukan atas kuasaMu. Namun kini, entah kenapa aku mulai ragu akan semuanya. Dimanakah Engkau saat hambamu ini teraniaya, Engkau yang Maha melihat, tentu tau apa yang tengah hamba alami. Engkau yang Maha mendengar, tiada satupun doa yang luput dari pendengaranMu. Sekarang hamba terusir dari kampung halaman oleh kesalahan yang tidak pernah hamba lakukan, hamba jauh disuatu tempat, tempat dimana hamba besar, tempat dimana hamba berdidik ilmu hingga hamba mengenalMu. Kini kutinggalkan semuanya dengan rasa hati terpaksa”.

Malam terus berlalu, Aminudin bukanlah pujangga yang bisa menghibur diri dengan ukiran kata yang mampu melunakan kerasnya batu. Jauh dari Aidah, serta terusir dari kampung halaman bukanlah perkara mudah untuknya bersabar. “Aku akan menyusulmu, tunggulah aku”.
***
Desiran malam masih menghembus, dengan lemas ia baringkan tubuh di halaman masjid. Setelah Aslina berhasil menipu warga, kini ia harus terusir dari kampung halaman atas hukuman oleh sebuah kesalahan yang belum pernah ia lakukan.
“Assalamu’alaikum”, sapa seorang dari arah belakang. Lalu Aminudin bangkit dan menoleh kearah suara. Perawakannya tinggi besar, dengan berpakaian serba putih-putih. Senyumnya meneduhkan, tubuh gagahnya melambangkan kewibawaannya sebagi seorang muslim. “Maaf bila saya menggangumu, dari tadi saya lihat kamu melamun. Bila sekiranya saudara percaya kepada saya, Insya Allah saya akan menjadi pendengar yang baik tanpa sedikitpun menyangkal ceritamu”. Aminudin masih terdiam dengan kepala menunduk dalam, didalam jatinya hanyalah serpihan luka yang mengangga.
“Syukur saya panjatkan Kiyai, ternyata masih ada seseorang yang sudi mau menyapa saya, serta berela hati mendengarkan cerita atas derita saya”. Sahut Aminudin dengan nada lemah.
“Perkataan saudara, seolah-olah tengah ditimpa kesukaran yang amat menyusahkan. Bicaralah saudaraku, sekiranya saya bisa membantu, tentu saya akan menolong saudara dengan segenap kemampuan saya”.
“Kiyai, saya hanyalah pemuda malang yang melarat, terbuang dan terusir tanpa satupun ada orang yang membela.
Mungkin diluar sana ada yang hidupnya lebih sukar dari saya, tetapi Kiyai, entah kenapa terasa diri ini merasa menjadi manusia yang paling hina dan menderita dibumi ini.
Saya terlahir dari keluarga yang amat sederhana, ayahku seorang buruh yang berpenghasilan jauh dari kata cukup. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibu saya membantu ayah saya bekerja menjadi buruh cuci dirumah seorang juragan.
Ayah saya sakit-sakitan, dan meninggal dunia saat ia bekerja. Lantaran ia karena terlalu memaksakan diri untuk mencari nafkah, padahal tubuhnya sangatlah lemah, kurus, dimakan habis penyakit, namun semangatnya sangatlah besar hinga tidak memperdulikan keadaan dirinya lagi. Setelah kepergiaan ayah, ibuku pergi ke ibu kota untuk bekerja. Karena demi membiayai aku untuk belajar agama disuatu Pondok yang letaknya tidaklah jauh dari kampungku. Setiap bulan beliau mengirimkan sejumlah uang dan surat kepadaku, hingga aku dewasa dan lulus di Pondok. Namun, setelah itu aku tidak lagi mendengar kabarnya. Hanya surat lusuhlah yang menjadi pelipur kala aku rindu pada ibu”. Kiyai itu terpekur mendengarkan segala keluh kesah pemuda malang tersebut, manggut-manggut berusaha mengilhami segenap jiwanya.
“Apakah engkau sudah berkeluarga?” Tanya Kiyai pada Aminudin. Ia tetap berdiam sejenak, tiba-tiba Aminudin teringat akan Aidah yang jauh disana.
“Nak,” sapa Kiyai lagi memecah lamunan Aminudin.” Belum Kiyai, akan tetapi aku memiliki kekasih yang amat aku kasihi. Akan tetapi nasib berkata lain kepada kami, kami pun berpisah. “Namanya siapa?”
“Aidah namanya Kiyai, ia pergi kesuatu desa nan jauh disana demi berilmu agama. Padahal sudah kupinta untuk bersamaku di pasantrenku dahulu. Akan tetapi, ia menolak dengan alasan bahwa berdekatan dengan insan terkasih tanpa ikatan yang halal, akan membangun derita pada hatinya”.
“begitulah Nak, bila sosok yang saleh. Ia lebih memilih mengalah daripada harus mendapatkan murka Tuhannya, meskipun hal itu haruslah mengorbankan perasaannya jua. Kau menderita, tentu ia lebihlah menderita. Usia yang menginjak dewasa, dimana setiap perempuan mengharapkan kesempurnaan hidup untuk menikah, mempunya putra dan berkeluarga. Akan tetapi cita-cita sejatinya harus sementara ditunda demi cita-cita utama dan mulianya, yaitu belajar agama. Jauh dari itu saudaraku, cinta yang tulus berlandaskan ketaatan, akan bernilaikan keimanan yang kokoh, cinta yang terpancar segenap jiwa, bukanlah melemahkan, akan tetapi menguatkan. Sekarang kamu ikut denganku, aku punya sebuah pondok kecil, sekiranya kau sudi mau membantuku untuk mengajar disanah, alangkah bahagia dan senangnya hati saya”.
“Siapakah sebenarnya anda Kiyai?” Aminudin mulai penasaran.
“Saya Ayah Aidah, Nak!”
“Ayah Aidah…?”
(Usep R)

Baca Juga  Astra Jingga : Ngalanggeng Jagad Galunggung Seri 1
Loading...

Tinggalkan Balasan

Cek juga

Close
error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close