Hukum

Tim Advokasi LBH Ansor menolak Atas Dugaan Penipuan Terhadap Seorang Guru yang berujung kepada Indikasi Penadahan

Kasus Tindak Pidana Penipuan yang menimpa seorang guru inisial AB warga Kp Bunderan, Desa Lingaraja, Kec. Sukaraja, Kab. Tasikmalaya lantaran telah membeli hewan ternak Kambing yang di duga hasil curian pada hari Selasa, (29/5) berujung pada titik kesimpulan sepihak oleh pihak Kepolisian. Dimana pihak penyidik berkesimpulan terkait laporan korban yang merasa di bohongi dan dirugikan, bahwasanya tidak ditemukan adanya unsur pidana lain sebab dianggap sebagai pure jual beli. Ada pun bila hari ini pihak pelapor merasa dirugikan, polisi menganggap itu lantaran pencuri tersebut telah tertangkap dan menyita barang hasil curian yang di jual kepada AB sebagai barang bukti. Bahkan sebelumnya pihak kepolisian menganggap bila pun ada unsur lain, maka pihak pembeli bisa dikenakan pasal penadah lantaran telah menerima hasil barang yang diperoleh dari tindak kejahatan. Prihal laporan dari pihak korban lantaran telah merasa di tipu karena tidak tahu menahu bahwa hewan yang ia beli melainkan hasil curian, sulit dibuktikan ditambah dengan alat bukti yang sudah di sita oleh pihak kepolisian tidak dapat dipergunakan lantaran alat bukti tersebut sudah digunakan dalam perkara kasus pencurian sebelumnya. Padahal dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) jelas disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah; keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Berdasarkan KUHP tersebut jelas, penyidik tidak bisa begitu saja menarik sebuah kesimpulan sebelum alat bukti yang telah dijelaskan dalam pasal 184 ayat 1 tersebut mendapat pertimbangan dari alat bukti lain. Pihak Polisi tidak bisa menduga begitu saja hanya berdasarkan keterangan si pengadu sebagai korban dan mengabaikan unsur lain yang berkaitan. Ditambah alat bukti yang ada masih bisa dipergunakan, selagi telah disempurnakan secara substansial dan bukan sebagai alat bukti yang sifatnya formalitas semata. Sehingga dapat dikatakan sebagai alat bukti baru, karena adanya tambahan dan temuan lain seiring pengambangan kasus yang dilakukan oleh pihak kepolisan nanti. Dalam menggunakan alat bukti lama sebagai dasar penyidikan kembali lantaran adanya tindak pidana lain, seharunya bisa diterima selagi alat bukti tesebut masih berkaitan dengan perkara sebelumnya; akan tetapi alat bukti tersebut telah disempurnakan secara substansial dan tidak bersifat formalitas semata. Jadi alasan tidak berlakunya sebuah alat bukti lantaran sudah digunakan oleh kasus sebelumnya tidaklah sepenuhnya benar. Karena alat bukti yang dimaksud bisa diperbarui seiring perkembangan kasus dan telah ditemukannya alat bukti baru yang berbeda dengan alat bukti sebelumnya sebagai pendukung.
Diketahui sebelumnya, Korban yang bernama AB melaporkan ke Polres Tasikmalaya pada Senin, (5/6) atas luapan rasa kesalnya lantaran ia merasa tertipu setelah melakukan jual beli kambing yang dilakukan oleh saudara K. Di dampingi salah satu tim advokasi LBH Ansor Kab Tasikmalaya, AB menyambangi Kasat Reskrim untuk melakukan pengaduan terhadap saudara K yang di anggap telah menipunya. Untuk pelaku sudah di amankan oleh pihak kepolisan beberapa waktu lalu, seiring adanya laporan dan pengakuan dari warga terhadap domba hasil curian yang saudara AB beli melalui tuker tambah dengan milik K. Hanya saja pihak korban merasa di rugikan dan kecewa dari hasil kesimpulan pihak polisi yang tidak preventif. ” Jelas saya merasa di rugikan lantaran hewan ternak saya hilang begitu saja. Dan posisi saya, tidak tahu menahu prihal asal usul domba tersebut lantaran tidak ada alasan untuk mencurigainya.” Tutur AB saat di wawancara oleh tim Media Desa.
Hal ini pun dibenarkan oleh tim advokasi yang tengah mendampingi AB, ” Ini real jual beli, harga standar ditambah pihak tersangka sudah biasa jual beli dengan pihak korban dan masyrakat lain, maka kurang tepat bila terdapat indikasi penadahan serta dugaan adanya unsur tindak pidana lain. Seharunya, pihak kepolisan bisa menerima serta bisa kembali menyelidiki atas dugaan adanya tindak pidana lain diluar pencurian, dan kembali mencari fakta hukum daan alat bukti lain demi pengembangkan kasusnya”. Tutup salah satu tim LBH Ansor kepada awak Media Desa.
(Usep Ruyani)

Baca Juga  Kejaksaan Ciamis: Proyek Alun-alun Ciamis Senilai Rp 2,3 M Janggal
Loading...

Tinggalkan Balasan

error: Ⓒ mediadesa.id
Close
Close