©mediadesa.id
(0265) 7521140 mediadesa.id@gmail.com
Rabu, Juni 26, 2019
Nasional

Tujuh Desa Terbaik di Indonesia

Pada Bulan November 2016 Tempo telah menyelenggarakan Penghargaan Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016. Dalam kesempatan itu telah dipilih tujuh Desa unggulan yang dianggap telah mampu melakukan terobosan-terobosan pembangunan di berbagai bidang.
Adapun ketujuh Desa tersebut adalah:

1. Desa Jabiren di Kalimantan Tengah (Penjaga Lingkungan)
Pada tahun 2015 Sekitar 122 ribu hektare lahan hutan terbakar di Kalimantan Tengah. Namun api tak mampir di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. “Semua berkat pembuatan parit dan sumur bor,” kata Ketua Kelompok Tani Panenga Desa Jabiren, Berson, Oktober lalu. Warga Jabiren bahu-membahu menggali selokan sedalam satu setengah meter dengan lebar dua meter dengan modal dan peralatan terbatas guna mengalirkan air dari bengawan yang melintasi desa tersebut: Sungai Kahayan. “Kami mencangkul sendiri sepanjang dua kilometer, lalu pemerintah menyambung dengan alat berat sejauh lima kilometer,” ujar Pawadi, anggota Kelompok Tani Panenga, menambahkan.
dengan sistem swadaya, warga Jabiren berhasil membuat 25 titik sumur bor—dengan biaya per titiknya sekitar Rp 2,5 juta—di sekitar ladang mereka. Satu titik sumur bor bisa menjangkau api dalam radius 25 hektare. Berkat usaha itu, hutan dan lahan gambut Desa Jabiren tak hanya selamat dari kobaran api. Namun, menurut Berson, “Kami pun turun tangan membantu desa tetangga yang masih dilalap api tahun lalu.”

2. Desa Blang Krueng di Aceh (Sadar Pendidikan),
Pada tahun 2015 Desa ini tidak memiliki sekolah, kini, sebuah TK dan SD Islam Terpadu berdiri di tengah desa hasil inisiatif dan swadaya dari warga Blang Krueng sendiri. Bermula dari sulitnya anak-anak Blang Krueng mendapat kursi di sekolah yang berada di kampung lain, Kepala Desa Blang Krueng Teuku Muslem mengajak warganya bermusyawarah mencari solusi. Dari hasil musyawarah seluruh warga Blang Krueng menyepakati pembangunan sekolah dengan merenovasi bekas aula desa, dengan hasil sumbangan warga yang disesuaikan kemampuan, sehingga terkumpul dana sebesar Rp 50 juta.
Uang tersebut kemudian digunakan untuk merombak aula desa menjadi dua kelas untuk SD IT Hafizul Ilmi dan bangunan di samping posyandu menjadi TK IT Hafizul Ilmi. Warga yang tak mampu menyumbang uang pun tetap berperan serta misalnya dengan membantu membuatkan kursi atau papan tulis kebutuhan sekolah. Pengelolaan kedua sekolah itu ditangani sendiri oleh desa yang mana Gaji aparat desa dipotong untuk membayar gaji para guru.

3. Desa Dermaji di Jawa Tengah (Melek Teknologi),
Meskipun lokasi geografis Desa Dermaji dikepung perbukitan dan hutan pinus, tapi perangkat desa dan warganya ogah terkungkung dalam keterbatasan informasi. Mereka malah menjalankan hampir seluruh program dan kegiatan desa dengan memanfaatkan situs Dermaji.desa.id dan berbagai sarana media sosial agar seluruh warga terlibat dan memperoleh informasi. Website desa yang dibuat pada awal 2011 tersebut semula bertujuan untuk membangun transparansi program dan pemanfaatan anggaran. Maka, dengan keterbukaan ini laporan dana desa tidak sekadar tampil dalam bentuk neraca, tapi juga dalam wujud berita yang mudah dibaca.
Website desa juga memiliki manfaat bagi sebagian warganya yang tercatat merantau ke berbagai kota besar, misalnya Jakarta, bahkan menjadi tenaga kerja di luar negeri, di antaranya di Korea dan Taiwan. Meski jarang pulang, menurut Bayu, dengan website tersebut telah menjaga tradisi kebersamaan antarwarga dengan cara rajin mengunjungi desanya melalui Internet. Warga Desa aktif memantau kemajuan desa lewat website. Oleh karena itu sekitar 30 persen warga Darmaji telah menggunakan gadget.
Bahkan, kegiatan dan program kerja yang akan dilaksanakan tahun depan bisa diusulkan lewat website itu. Masyarakat, kata Bayu, bebas mengusulkan apa yang mereka anggap kurang dan perlu direalisasikan. Ia menyebutkan dalam website tersebut sudah ada menu untuk pembahasan agenda tahun depan dalam menu rembuk desa. Terakhir, menu e-commerce merupakan fitur terbaru dalam website Dermaji.desa.id. Respons penduduk pengakses situs itu luar biasa.

Baca Juga  Ilegal Fishing dan Pencemaran Laut, Ancaman bagi Indonesia

4. Desa Mengwi di Bali (Pemberdayaan Ekonomi),
Desa Mengwi yang berada sekitar 18 kilometer di sebelah utara Kota Denpasar merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Badung, Bali. Pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk wilayah Badung tengah. Di Desa ini pasar dikelola oleh lembaga yang dibentuk desa adat. Seluruh tanah di Desa Mengwi adalah milik adat, karena itu sepenuhnya yang mengelola lembaga adat. bisa dikatakan masing-masing warga Desa Mengwi memiliki keinginan yang kuat untuk bisa memakmurkan desanya. Keinginan itulah yang membuat desa ini menjadi sejahtera didukung oleh tatanan adat diwarisi secara turun temurun.

5. Desa Lalang Sembawa di Sumatera Selatan (Peduli Sehat)
Desa Lalang Sembawa menjadi juara kompetisi desa sehat tingkat nasional berkat pendekatan komprehensif sang kepala desa. Dengan bangga, Sutar Ristanto menunjuk pohon lengkeng yang tengah berbuah lebat di halaman samping rumahnya. Pria 64 tahun itu memetik beberapa buah lengkeng yang sudah masak, lalu mencicipinya. “Rasanya manis,” kata dia. Tak hanya lengkeng, halaman jembar rumah pensiunan pegawai negeri sipil ini penuh dengan pohon buah.

6. Desa Kanonang Dua Kabupaten Minahasa di Sulawesi Utara (Muda dan Inovatif),
Desa Kanonang Dua membuat terobosan dalam meningkatkan kesejahteraan warga. Salah satu desa terbaik di tingkat nasional.
Jalan rata beraspal menembus ujung Jaga (kampung) I, Desa Kanonang Dua, Kabupaten Minahasa. Jalan itu tersambung dengan jalur berlapis paving block yang menembus hingga ke jalan utama yang membelah wilayah Kanonang Raya dari utara ke selatan. Hukum Tua (Kepala Desa) Desa Kanonang Dua Welly Rais menyebut bahwa desa yang dipimpinnya berhasil meraih 4 penghargaan yang membanggakan Sulawesi Utara, provinsinya.

Empat penghargaan itu berasal dari lomba yang bertaraf nasional yaitu, Juara lomba Desa 2016 tingkat Nasional Regional Tiga dan Penghargaan Majalah Tempo Kategori Desa Muda Inovatif bekerja sama dengan tiga Kementrian. Selanjutnya, Penerima Adikarya Pangan Nusantara program Kategori pembina ketahanan pangan dengan presentasai Operasi Desa Tuntaskan Kemiskinan (OD SK) lewat program diakonal Wowong diakonia dan Juara 1 lomba Desa menghargai hak asasi manusia tingkat nasional dari Majalah Tempo.

Baca Juga  Mengharukan..! Dukungan Keluarga untuk Ahmad Dhani yang Dipenjara

7. Desa Nita di Nusa Tenggara Timur (Keterbukaan Anggaran).
Desa dengan transparansi tata kelola anggaran seolah sudah menjadi stempel bagi Desa Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur sehingga terpilih sebagai salah satu Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016. Di desa ini, informasi seputar Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD) bisa diakses siapapun dengan mudah lewat sarana baliho maupun situs Internet.

Keterbukaan informasi merupakan upaya pemerintah setempat untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam mengontrol anggaran. Fungsi kontrol itu bahkan membuka ruang bagi warga Desa Nita yang ingin memantau proyek pengadaan barang dan jasa. Semua itu diatur lewat aturan kepala desa.
Arsitek di balik keberhasilan Desa Nita adalah Antonius B. Luju. Jebolan Sekolah Tinggi Seminari St. Paulus Ledarelo itu merombak tata cara pengelolaan anggaran tak lama setelah terpilih sebagai kepala desa pada 2014. Sebanyak tujuh peraturan kepala desa ia keluarkan untuk mengatur teknis penggunaan anggaran.
Antonius juga mengubah sistem perencanaan anggaran yang lazim dijaring secara berjenjang lewat Musyawarah Perencanaan Pembangunan tingkat dusun. Di Desa Nita, usulan pembangunan dijaring dari musyawarah tingkat kepala rumah tangga untuk menentukan alokasi anggaran proyek tingkat RT.
Ide cemerlang juga terlihat dari aturan kepala desa bagi perusahaan kontraktor yang menggarap proyek skala besar seperti pembuatan jalan. Aturan itu mewajibkan para kontraktor melibatkan tenaga kerja dan membeli bahan material dari penduduk setempat.

Upaya pemerintah desa dalam mengawasi potensi kebocoran anggaran berbuah banyak manfaat. Pemerintah Desa memiliki banyak ruang untuk merancang program. Salah satunya subsidi bagi para suami yang bersedia mengantarkan pemeriksaan kehamilan istri mereka.

Pada Edisi Khusus Desa Unggulan ini Tempo memilih tujuh desa dari tujuh provinsi yang dinilai telah melakukan banyak terobosan di berbagai bidang. Penyerahan penghargaan akan digelar malam ini dalam acara bertajuk Membangun Desa untuk Masa Depan Indonesia di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Selain Desa Nitta, enam desa pilihan lainnya, antara lain Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang terpilih sebagai desa unggulan kategori penjaga lingkungan. Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, sebagai desa unggulan untuk kategori sadar pendidikan. Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, dinilai unggul dalam pemberdayaan ekonomi.

Pada kategori sadar kesehatan, Tempo memilih Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Desa Kanonang Dua, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terpilih sebagai unggulan desa hasil pemekaran yang inovatif. Adapun Desa Dermaji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kategori melek teknologi.
(Dilansir dari Koran Tempo tahun 2016). (Andi Ibnu Hadi)

  • 20
    Shares

Tinggalkan Balasan